“Kapan Mas Arif nyiapin amplop?” tanya Suci setelah berada di pelataran rumah sakit. “Kok, aku nggak liat? Aku juga nggak dikasih tau kalau mau ngasih Te Nurul.”“Waktu kamu mandi.” Arif meringis. “Tadi mau ngasih tau, tapi lupa.”“Ngasih berapa?”“Nggak banyak.”“Nggak banyak itu berapa?” Suci mendesis pelan. Cengkraman tangannya mengerat di lengan Arif karena mulai kesal.“Cuma lima juta,” jawab Arif tersenyum lembut pada Suci yang wajahnya mulai tertekuk. “Udah nggak usah dibahas.”Suci berdecak kecil. “Aku bukannya nggak mau ngasih atau bantu, tapi kalau ingat kelakuan mereka jadi males. Lagian, Te Nurul itu juga uangnya banyak. Kan, dia rentenir.”“Udahlah biarin aja,” ucap Arif kemudian merangkul istrinya dan berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. “Anggap sedekah. Nggak akan ada ruginya.”“Sedekah, sih, sedekah,” gerutu Suci tetap merasa tidak ikhlas. “Tapi kalau ingat gimana mulutnya mereka itu, rasanya, kok, nggak ikhlas.”“Anggap mereka lagi ditegur sama Tuhan,” ujar Arif
Read more