LOGIN“Om Bahlil gimana, Tan?” tanya Suci sambil berjalan menuju kursi tamu di rumah Ginanjar.Dua hari lalu, Bahlil sudah diperbolehkan pulang ke rumah, jadi, Suci dan Arif menyempatkan diri untuk membesuk di hari libur seperti sekarang. Tentunya tidak bersama Aska, karena bayi yang sedang aktif-aktifnya itu kini berada di tangan oma dan opanya. “Lagi di kamar,” jawab Nurul kemudian menghela berat. “Tidur.”Setelah mendapat musibah, hari-hari Nurul kini hanya disibukkan dengan mengurus Bahlil. Ia tidak bisa meninggalkan sang suami terlalu lama, karena khawatir Bahlil membutuhkan sesuatu. “Untungnya rumah Bapakmu cuma kena teras sama bagian samping,” lanjut Nurul menatap Arif yang berada di depan rumah. Pria itu sedang bicara dengan tukang, juga Sahli yang sudah lebih dulu datang pagi-pagi sekali. “Jadi kami masih bisa tinggal di sini.”Suci tersenyum tipis. Sebenarnya, ia kasihan saat melihat kondisi Nurul dan Bahlil saat ini. Namun, saat mengingat bagaimana perlakuan mereka dulu terhada
“Kapan Mas Arif nyiapin amplop?” tanya Suci setelah berada di pelataran rumah sakit. “Kok, aku nggak liat? Aku juga nggak dikasih tau kalau mau ngasih Te Nurul.”“Waktu kamu mandi.” Arif meringis. “Tadi mau ngasih tau, tapi lupa.”“Ngasih berapa?”“Nggak banyak.”“Nggak banyak itu berapa?” Suci mendesis pelan. Cengkraman tangannya mengerat di lengan Arif karena mulai kesal.“Cuma lima juta,” jawab Arif tersenyum lembut pada Suci yang wajahnya mulai tertekuk. “Udah nggak usah dibahas.”Suci berdecak kecil. “Aku bukannya nggak mau ngasih atau bantu, tapi kalau ingat kelakuan mereka jadi males. Lagian, Te Nurul itu juga uangnya banyak. Kan, dia rentenir.”“Udahlah biarin aja,” ucap Arif kemudian merangkul istrinya dan berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. “Anggap sedekah. Nggak akan ada ruginya.”“Sedekah, sih, sedekah,” gerutu Suci tetap merasa tidak ikhlas. “Tapi kalau ingat gimana mulutnya mereka itu, rasanya, kok, nggak ikhlas.”“Anggap mereka lagi ditegur sama Tuhan,” ujar Arif
“Gimana Bapak hari pertama kerja?” tanya Suci pada Sahli yang ia minta untuk memantau Ginanjar di tempat kerja barunya. Bapak mereka lebih memilih bekerja menjadi staff gudang, daripada harus menjadi tukang bersih-bersih. “Aman aja kayaknya,” jawab Sahli tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. “Udah, nggak usah terlalu mikirin Bapak. Biar aku yang urus. Kamu fokus aja sama adeknya Aska.”“Ya maunya juga gitu, tapi tetap aja kepikiran.”Sahli akhirnya mengalihkan wajah dari layar laptop. Menatap Suci yang berbaring di tempat tidur miliknya. “Sudah kubilang, Bapak biar jadi urusanku,” ujar Sahli kembali beralih pada laptopnya. “Kalau masih macam-macam lagi, langsung aja tinggalin. Nggak usah diurus lagi.”“Hm,” gumam Suci pelan. Meski begitu, masih ada perasaan yang mengganjal di dalam hatinya. “Kalau gitu anggaplah masalah Bapak dengan kerjaannya selesai. Tapi, masih ada dua kompor yang pasti ngerecokin Bapak terus.”“Kalau itu, aku angkat tangan,” ucap Sahli menatap serius pa
“Bun, gimana?” tanya Arif mengetuk pintu kamar mandi dengan tidak sabar. Ia mondar-mandir di depan pintu dengan perasaan yang campur aduk. Antara cemas dan penasaran.Ketika Arif mendengar Suci mengatakan jadwal bulanannya telat, ia langsung pergi ke apotek untuk membeli alat tes kehamilan. Ia tidak jadi mengambil Aska, karena ada hal penting yang harus diketahui dan dipastikan lebih dulu.“Sayang.” Arif kembali mengetuk pintu, lalu menempelkan telinganya di sana. Namun, ia belum juga mendengar suara apa pun dari dalam sana. “Bun? Gimana, Bun? Aku penasaran. Kenapa nggak keluar-keluar.”Tepat setelah Arif menyelesaikan kalimatnya, ia mendengar suara handle pintu. Ia refleks mundur satu langkah, Suci muncul dari celah pintu.“Satu atau dua garisnya?” tanya Arif terburu dan deg-degan karena memang tidak berencana memiliki anak lagi. “Positif atau negatif?”Suci menghela napas panjang lebih dulu, lalu menyodorkan tiga buah alat tes kehamilan pada sang suami. Arif menatap ketiga alat tes
“Apa kata Suci?” tanya Nurul langsung pergi menemui Ginanjar begitu tahu pria itu sudah berada di rumah. “Ya, begitu,” jawab Ginanjar lelah. Entah mengapa, Ginanjar merasa tidak lagi memiliki kuasa atas anak-anaknya. Baik Suci maupun Sahli tidak lagi bisa diperintah sama sekali. Situasinya justru terbalik, semua kendali seolah berada di tangan kedua anaknya itu. Sementara Hadi, sudah tidak ada kabarnya sama sekali. Putranya yang satu itu seolah menghindar dan tidak ingin menemuinya sama sekali.“Begitu gimana?” buru Nurul penasaran. Ia sampai duduk bersila di samping Ginanjar, di kursi tamu. “Masih kayak kemaren? Abang masih disuruh kerja?”Ginanajar mengangguk. “Nanti dicariin kerja, jadi aku tunggu kabar aja.”“Abang mau?”“Terus mau gimana?” Ginanjar bertanya balik. Intonasi bicaranya mulai meninggi. “Kalau nggak mau, terus aku makan apa? Memangnya kamu mau ngasih aku makan tiap hari? Mau beliin beras, gula, kopi, bayar air, listrik, sama yang lain-lainnya?”Nurul membuang wajah
“Kalau gitu, kita tunggu sampai besok pagi,” ucap Arif sambil memikirkan beberapa hal setelah mendengar cerita Suci. “Kalau memang Bapak nelpon, berarti ada niat buat berubah. Tapi kalau nggak, ya, sudah. Nggak usah lagi dipikirkan. Yang penting, kita sebagai anak sudah punya niat baik.”“Sahli juga bilang gitu,” balas Suci sudah pasrah dengan semuanya. Jika memang Ginanjar tidak bisa berubah, maka Suci dan kedua adiknya akan benar-benar memutuskan hubungan dengan pria itu. “Kalau memang sampai besok Bapak nggak nelpon juga, kami nggak bakal mau tau semuanya tentang Bapak,” lanjut Suci. “Kita juga sepakat nggak akan ngasih apa-apa sama sekali. Rencana ngasih sembako juga bakal dibatalin. Nggak papa, kan, Mas?”“Nggak papa,” jawab Arif justru cukup senang karena baik Suci maupun Sahli bisa mengambil sikap tegas. “Nggak perlu ngerasa bersalah, karena yang mengambil keputusan adalah Bapak.”“Gosip yang beredar di kampung pasti beda,” keluh Suci mengerucutkan bibirnya. “Te Nurul–”“Ngap
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Mau ambil sertifikat rumah?” Nurul mengangkat kedua alisnya, menatap bergantian ke arah Suci dan Sahli. Kedua keponakannya tiba-tiba datang dan mengatakan ingin menebus sertifikat rumah yang pernah digadai ibu mereka dahulu kala. “Dapat duit dari mana kalian?”Suci menahan napas sejenak sebelum me
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan







