Ivan baru saja mematikan lampu kamar dan hendak merebahkan diri, ketika ponsel yang berada di atas nakas bergetar singkat. Tadinya, ia berniat mengabaikan notifikasi tersebut dan membacanya besok pagi. Namun, begitu melihat nama Arif muncul di layar, Ivan segera meraih ponselnya dan membuka pesan dari putranya.“Suci mulai mulas-mulas dari tadi. Apa sudah waktunya lahiran?”Ivan menarik napas pelan. Ia bergeming menatap layar sambil berpikir. Mengingat-ingat kembali, bagaimana proses ketika Deswita hamil dahulu kala. Terutama saat mendekati hari persalinan.“Mas, tidur,” tegur Deswita saat melihat Ivan masih memegang ponselnya dalam gelap. “Besok lagi balas pesannya.”“Iya, sebentar,” ujar Ivan tanpa menoleh. “Kalau nggak salah, hamil itu ada kontraksi palsu, kan? Mulas, sakit perut, tapi bukan mau lahiran.”“Kenapa?” Deswita merapatkan diri. Sedikit menaikkan posisi tubuhnya agar bisa melihat layar ponsel Ivan. Ketika melihat nama Arif di sana, Deswita langsung menegakkan tubuh. “Ari
Leer más