Masuk“Nih.” Sahli menyerahkan semangkuk bubur kacang merah pada Suci yang sedang menonton televisi di ruang keluarga. Beberapa saat sebelumnya, kakaknya itu memang memintanya mengambilkan bubur dengan tambahan es batu. “Bu Mas lagi masak sayur asam sama goreng ikan nila buat makan siang. Tambahin sambal terasi, beeeh … Nggak kenyang-kenyang aku nanti.”Suci terkekeh. Melihat sekilas pada Sahli yang duduk di sampingnya setelah menerima mangkuk buburnya. “Li, cariin Hadi motor second buat kuliah,” pinta Suci kembali menatap televisi. “Tapi, cari yang harganya lima jutaan. Ada nggak kira-kira? Tapi yang masih bagus.”“Nanti aku coba tanya-tanya,” jawab Sahli kemudian duduk bersila sambil menatap perut Suci. Ia sengaja menunggu sampai keponakannya bergerak agar bisa merasakan tendangan kecil dari dalam sana. “Tapi, kalau lima jutaan, kayaknya tahunnya tua, sama kilometernya juga sudah tinggi.”“Yang penting masih bisa dipake, sama mesinnya nggak rewel,” ujar Suci sambil menyantap buburnya. “P
“Kuliah yang bener, ya,” pesan Suci kepada Hadi, di hari pertamanya masuk kuliah setelah masa orientasi berakhir. Tidak terasa, masa putih abu-abu itu akhirnya usai juga. Waktu benar-benar terasa berlalu begitu cepat karena satu lagi adiknya telah meninggalkan bangku sekolah dan memulai kehidupan sebagai mahasiswa.Namun, kali ini keadaannya sudah berbeda. Mereka tidak lagi kesulitan secara finansial dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan biaya kuliah maupun kebutuhan sehari-hari.“Maksimal empat tahun,” ujarnya menambahkan pesan yang sama, seperti yang pernah dikatakan pada Sahli. “Lebih dari itu, bayar kuliahmu sendiri.”“Iya, Kak.” Hadi mengangguk. Senyum lebar terukir di wajahnya saat menatap sepatu, celana, hingga kemeja yang dikenakannya pagi itu. Semuanya baru, bukan lagi lungsuran dari Sahli seperti yang biasa ia kenakan.“Nggak usah pacaran.” Suci kembali mengingatkan. “Fokus dulu sama kuliah. Pokoknya nggak usah cinta-cintaan.”“Iyaaa,” jawab Hadi mulai bosan mendengar ocehan
“Koper yang itu nggak usah dibuka,” larang Ivan ketika Deswita baru menarik koper kecil dan berniat merebahkannya di tengah kamar. Setelah beberapa hari menikmati liburan di Dubai, Ivan dan Deswita akhirnya kembali ke rumah. Semua barang bawaan sudah mereka pilah di kamar, kecuali satu koper kecil yang belum dibuka karena berisi berbagai hadiah untuk Arif, Suci, dan calon cucunya. Ivan memang menyiapkannya khusus, hingga tidak perlu lagi repot-repot memilahnya ketika sampai di rumah. “Besok biar langsung kubawa ke rumah Arif,” tambah Ivan sambil menunjuk sekilas pada koper tersebut. “Jadi nggak usah dibuka.”“Ohh …” Deswita tersenyum canggung. Ia mengurungkan niatnya untuk membuka koper itu, lalu melepaskan pegangannya.Deswita tahu persis, apa saja barang-barang yang ada di dalam koper tersebut. Namun, ia tidak menduga jika semua isi di dalamnya ternyata akan diberikan pada keluarga putranya. Deswita tidak berani protes, membantah, atau marah akan hal itu. Setelah hubungan mereka
“Ngapain aku disuruh pulang siang-siang begini?” tanya Bahlil begitu turun dari motor. Ia melihat Nurul langsung berdiri dan menghampirinya, lalu buru-buru menariknya masuk ke dalam rumah.“Ada bingkisan!” seru Nurul begitu mereka masuk. Tangannya menunjuk sebuah parsel besar yang dibungkus dengan plastik transparan di atas meja tamu. Namun, ia sudah membukanya lebih dulu. “Coba tebak dari siapa?”Dahi Bahlil langsung berkerut. Semakin dipikirkan, semakin ia tidak menemukan jawabannya. Mereka bukan orang penting dan sedang tidak mengadakan hajatan apa pun, sehingga ia benar-benar tidak tahu siapa yang mengirimkan bingkisan yang terlihat sangat mahal itu.“Dari siapa?” tanya Bahlil langsung duduk di lantai. Ia memindahkan bingkisan yang ternyata cukup berat itu ke bawah. Ternyata, isi di dalamnya bukan barang imitasi.“Dari Ariiif!” ujar Nurul juga duduk di lantai, di samping bingkisan tersebut. Senyumnya langsung tersemat lebar dan matanya pun berbinar-binar. Nurul mengambil sebuah k
“Mereka sudah pergi,” ujar Arif. Sejak tadi, ia menatap layar yang menampilkan rekaman CCTV di depan rumahnya. Untuk sementara, kebohongannya tentang kepindahan ke apartemen mungkin bisa membuat Nurul dan Bahlil berhenti mencari keberadaan Suci. Setidaknya, mereka tidak akan datang ke rumah dan mengganggu ketenangan Suci yang baru saja pulang dari rumah sakit.“Tapi, sampai kapan kita harus bohong?” tanya Suci. Ia duduk santai di sofa dan tengah menikmati potongan buah. “Lama-lama mereka pasti curiga karena nggak ada yang mau nerima telpon atau balas chatnya kayak dulu.”“Biarkan.” Arif berbalik, lalu ikut duduk di samping Suci. “Orang seperti mereka itu, bakal minta jantung kalau dikasih hati. Tapi, biar besok aku kirim bingkisan ke rumahnya.”“Buat apa?” tanya Suci tidak mengerti. “Sebagai ucapan terima kasih,” jawab Arif sambil menyomot potongan apel dari piring Suci. “Karena tiap Te Nurul ke rumah sakit, dia selalu bawa masakan yang lumayan enak. Aku nggak mau berutang, jadi, ak
“Welcome home!” seru Sahli, Hadi, dan Masni bersamaan saat menyambut kedatangan Suci yang akhirnya diperbolehkan pulang dari rumah sakit.Mereka sudah menyiapkan balon bertuliskan ucapan tersebut di ruang keluarga yang di tempel di salah satu dinding. Begitu Suci dan Arif masuk, Sahli dan Hadi langsung menarik konfeti yang sudah disiapkan hingga serpihan kertas warna-warni berhamburan di udara.Meski begitu, Suci belum diperbolehkan melakukan banyak aktivitas. Dokter juga memintanya lebih banyak beristirahat dan menghindari hal-hal yang bisa memicu kelelahan.Suci yang masih duduk di kursi roda lantas tertawa pelan. “Ngapain coba, pake disambut gini.”“Biar kayak orang kaya,” celetuk Sahli. Suci langsung terkekeh. “Emang orang kaya kalau pulang dari rumah sakit disambut begini?”“Di tivi-tivi gitu,” jawab Sahli lagi.“Nggak papa, Mbak,” timpal Masni ikut bahagia karena kedatangan Suci kembali ke rumah. “Sekali-sekali. Biar saya juga ngerasain kayak orang kaya.”Tawa di ruang keluarga
“Ada yang mau ditanyakan?” Arif duduk tegak. Bersedekap setelah melihat Suci selesai membaca draft kontrak di layar laptopnya. “Atau, ada yang mau ditambahkan?”“Emm …” Suci menatap canggung pada Arif. “Kontraknya … nggak ada batas waktunya, Pak?”Arif menyipitkan mata. “Ada masalah?” tanyanya tenan
“Bun, cukup.” Arif berusaha untuk tidak meninggikan suara di depan Deswita, agar tidak menimbulkan kecurigaan rekan kerjanya. “Sudah berkali-kali aku bilang, jangan lagi ikut campur dengan hidupku.”“Rif–”“Aku juga sudah bilang, jangan pernah datang lagi ke kantorku,” desis Arif semakin memelankan
“Bun–”“Sebentar,” sela Deswita tetap memasang senyumnya, “Bunda cuma sebentar. Lima menit.”Emosi Arif yang sebelumnya sudah meninggi, akhirnya turun dengan perlahan ketika mendengar ucapan Deswita. Mungkin ia terlalu keras dan otaknya sudah dipenuhi pikiran negatif tentang sang ibu.“Ya, ada apa?
“Sekali lagi, terima kasih banyak, Bu Mila,” ucap Suci pelan sembari menundukkan kepala dengan hormat. Ia telah mengajukan pengunduran dirinya dua hari lalu, sekaligus menawarkan orang pengganti agar Mila tidak kesulitan. “Selama ini Ibu sudah baik banget sama saya.”“Sama-sama.” Mila mengangguk de







