Aula utama universitas dipenuhi lingkaran keluarga, derai tawa sahabat, serta lautan toga hitam yang memadati setiap sudut ruangan. Hari yang ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba. Setelah beberapa waktu nan cukup panjang bergulat dalam tumpukan revisi, ketakutan menghadapi sidang, rasa lelah yang menggerogoti fisik, hingga air mata yang jatuh di keheningan kamar kontrakan, perjuangan Jihan bermuara pada satu garis akhir penuh kebanggaan.Di ruang tunggu nan dingin, Amelia sibuk membenarkan letak topi toga Jihan dengan tangan gemetar. "Tarik napas kalau deg-degan, Ji. Jangan sampai pingsan di panggung!"Jihan terkekeh, meski jemarinya tak kalah dingin saat merapikan lipatan kain toganya. "Aku bukan deg-degan karena toga, Mel, tapi takut tumit sepatuku tersangkut tangga lalu jatuh terjerembap.""Jangan bikin malu di depan rektor!" celetuk Amelia seraya mencubit main-main lengan sahabatnya, disambut pula tawa ringan oleh Jihan."Wah, calon sarjana kita
Read more