Begitu kegerahan siang beradu, Juna masih duduk di meja kerjanya usai menyelesaikan satu rapat internal. Kepalanya tetap tak bisa lepas dari map hitam Pengacara Tomi. Sejemang, dia meraih ponsel, menggeser layar, dan membenturkan pandangannya pada nama Jihan di daftar kontak paling atas. Dini menghabiskan menit ringkas untuk menimbang-nimbang, Juna pun menekan tombol panggil. Sambungan itu diangkat pada dering ketiga. "Halo, Jun?" Suara Jihan menyahut, sedikit terengah-engah dari balik telepon. "Di mana?" tanya Juna. Dia menyandarkan punggungnya seraya melepas kait kancing teratas kemejanya. "Baru sampai di apartemen. Ada apa?" "Tadi pengacaraku kemari," Keheningan sekonyong menyapu seberang saluran. Nada bicara Jihan berubah sepenuhnya saat bertanya, "Terus, ada sesuatu yang terjadi?" "Proses perceraiannya resmi bergerak," ujar Juna rendah namun mantap.
続きを読む