Dinding rumah sakit itu berwarna putih pucat, sewarna dengan wajah Eric yang terduduk lesu di depan ruang operasi darurat. Sudah tiga jam berlalu, namun lampu merah di atas pintu masih menyala, menandakan perang di dalam sana belum berakhir. Ibu Eric, yang baru saja tiba dengan kursi rodanya, segera mendekati putranya. Wajah wanita tua itu sembab, tangannya yang keriput menggenggam tangan Eric yang masih berlumuran darah kering."Eric... tenangkan dirimu, Nak. Rani adalah wanita yang kuat. Tuhan tidak akan mengambilnya lagi," bisik Ibu Eric dengan suara bergetar.Eric tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah lantai. Di kepalanya, ia terus memutar ulang adegan Rani yang didorong oleh Lidia. Ia menyalahkan dirinya sendiri. Kenapa ia tidak lebih cepat? Kenapa ia membiarkan Lidia mendekat?"Ibu, dia sedang hamil anakku," suara Eric parau, hampir menghilang. "Dia ketakutan. Sebelum dia pingsan, dia hanya memikirkan bayinya. Dia takut sejarah kelamnya dengan Ivan terulang kembali."Ib
Last Updated : 2026-04-11 Read more