Suara roda ranjang bergeser cepat di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin dan terang. Elara terbaring dengan wajah pucat, tubuhnya masih gemetar meski selimut sudah menyelubunginya. Arion berjalan di sampingnya, langkahnya tergesa, rahangnya mengeras, matanya tak lepas dari wajah perempuan itu.“Tekanan darahnya turun, tapi masih stabil,” ucap seorang perawat.Arion mengangguk cepat. “Tolong jaga dia.”Beberapa menit kemudian, Elara dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Arion terpaksa menunggu di luar, mondar-mandir seperti singa dalam sangkar. Tangannya mengepal, pikirannya kacau. Wajah Elara yang penuh lebam, tangisannya, dan satu kalimat yang menghantam kepalanya tanpa ampun.“Dia hamil? Sejak kapan?”Waktu terasa berjalan sangat lambat hingga akhirnya pintu terbuka. Seorang dokter perempuan keluar dengan ekspresi profesional.“Siapa keluarganya?”Arion refleks melangkah maju. “Saya.”Dokter menatapnya sejenak, lalu berkata tegas.“Kondisi pasien baik. Ada sedikit stres dan kelela
Read more