LOGINKarena dijebak oleh seseorang yang menginginkan tubuhnya, Elara justru tak sengaja tidur bersama dengan seorang pria yang sangat familiar baginya. Bukan familiar karena pria itu adalah rekan maupun keluarganya, tetapi karena pria itu merupakan sosok yang selama ini sering menampakkan wajahnya di layar televisi maupun di situs internet. Elara terbangun dengan kebingungan, karena dia mendapati tubuh polosnya tanpa sehelai benang pun. Namun, yang lebih membuatnya terkejut adalah karena saat itu dia sedang berada di balik sebuah selimut bersama dengan pria yang sama sekali tak asing baginya. "Arion Kyle?" Ingin rasanya Elara berteriak dan menjerit kegirangan saat itu. Namun, begitu menyadari bahwa dirinya dan aktor itu sama-sama tak mengenakan busana, seketika rasa senang itu pun berubah menjadi kebencian. Elara segera membangunkan Arion dan langsung marah-marah. "Siapa kamu?" Pria itu bertanya dalam bahasa inggris. Elara benar-benar emosi karena pria itu bersikap seolah tak mengenalinya. Padahal ia yakin bahwa sang aktor juga pasti mengenal dirinya sebagai seorang model papan atas, dan tak bisa dipungkiri lagi bahwa Arion juga menginginkan tubuh indahnya, sama seperti para pria yang lain. Elara pun menuduh bahwa Arion telah menodainya, tetapi aktor berusia 30 tahun itu justru terlihat santai dan tersenyum sinis ke arah Elara. "Aku menodaimu? Apa kamu tidak ingat, jika kamu yang menerobos masuk ke dalam kamarku dan meminta bantuanku untuk menyentuh tubuhmu?"
View MoreSuara sirene memecah malam Jakarta yang basah oleh hujan. Mobil hitam itu melaju kencang di jalan tol, tapi tak pernah benar-benar lepas dari bayangan. Dari kursi penumpang mobil polisi, Arion menatap layar tablet yang menampilkan peta pergerakan kendaraan Revand.“Dia menuju kawasan gudang lama di Pelabuhan Sunda Kelapa,” lapor Donny dengan suara tegas. “Tim sudah bersiap.”Arion menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Setelan pengantinnya masih melekat, kerahnya kusut, namun ia tak peduli. Pikirannya hanya satu.Elara.Di dalam mobil yang melaju di depan, Elara perlahan membuka mata. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas. Cahaya lampu jalan menyusup masuk melalui kaca mobil.“Akh!” suaranya serak.Pria itu melirik sekilas. “Kau sudah bangun.”“Kenapa?” Elara berbisik, air mata menggenang. “Kenapa kau melakukan ini?”Revand tersenyum tipis, pahit. “Karena aku mencintaimu sejak dulu. Dan aku tidak bisa menerima kau menjadi milik orang lain.”“Ini gila,” isak Elara. “Lepaskan aku. Aku hami
Langit Jakarta pagi itu cerah, seolah ikut merayakan hari yang telah lama tertunda. Gedung kaca tempat pernikahan digelar dipenuhi bunga putih dan rangkaian mawar lembut. Media internasional berdiri di luar area utama, dijaga ketat oleh keamanan. Hari ini, dunia menyaksikan satu hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.Arion Kyle akan menikah. Tapi bukan dengan Liza, dan bukan dengan perempuan bangsawan Eropa, melainkan dengan seorang model cantik asal Indonesia yang dulu hampir dihapus dari hidupnya, Elara.Di ruang rias, Elara duduk diam di depan cermin. Gaun putih sederhana tapi elegan membalut tubuhnya. Tangannya gemetar saat menyentuh perutnya yang belum terlalu terlihat.“Tenang,” ucap Azura sambil tersenyum, menyeka sudut mata Elara. “Kau terlihat cantik. Sangat cantik.”Elara mengangguk pelan. Jantungnya berdegup keras. Bukan karena keraguan, melainkan karena takut bahagia ini terlalu rapuh.Tok! Tok! Tok!Pintu diketuk dari luar.“Elara,” suara Arion terdengar dari lu
Langkah kaki Arion terdengar pelan dan pasti di lorong rumah sakit. Jantungnya berdegup keras, seolah setiap detaknya membawa penyesalan yang terlambat. Tangannya sedikit gemetar saat berhenti di depan pintu kamar Elara. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk.Tidak ada jawaban.Arion membuka pintu perlahan. Elara terbaring menghadap jendela, selimut menutup hingga dadanya. Wajahnya pucat, matanya sembap, jelas baru saja menangis. Saat menyadari kehadiran Arion, Elara langsung memalingkan wajah.“Aku sudah bilang kau tidak perlu kembali,” ucapnya dingin.“Aku harus,” jawab Arion pelan.Elara tertawa kecil tanpa humor. “Untuk apa? Kau sudah pamit. Kau sudah mengucapkan selamat pada aku dan suamiku.”Arion mendekat dan berdiri di sisi ranjang.“Aku tahu sekarang.”Elara menegang.“Aku tahu bayi itu adalah anakku.”Keheningan menyergap ruangan. Elara menutup matanya rapat-rapat, seolah kata-kata itu menyakitkan.“Terlambat,” bisiknya. “Semuanya sudah terlambat.”“Tidak,” Arion mengg
Suara roda ranjang bergeser cepat di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin dan terang. Elara terbaring dengan wajah pucat, tubuhnya masih gemetar meski selimut sudah menyelubunginya. Arion berjalan di sampingnya, langkahnya tergesa, rahangnya mengeras, matanya tak lepas dari wajah perempuan itu.“Tekanan darahnya turun, tapi masih stabil,” ucap seorang perawat.Arion mengangguk cepat. “Tolong jaga dia.”Beberapa menit kemudian, Elara dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Arion terpaksa menunggu di luar, mondar-mandir seperti singa dalam sangkar. Tangannya mengepal, pikirannya kacau. Wajah Elara yang penuh lebam, tangisannya, dan satu kalimat yang menghantam kepalanya tanpa ampun.“Dia hamil? Sejak kapan?”Waktu terasa berjalan sangat lambat hingga akhirnya pintu terbuka. Seorang dokter perempuan keluar dengan ekspresi profesional.“Siapa keluarganya?”Arion refleks melangkah maju. “Saya.”Dokter menatapnya sejenak, lalu berkata tegas.“Kondisi pasien baik. Ada sedikit stres dan kelela
Pesawat melaju menembus langit malam, meninggalkan Eropa jauh di belakang. Lampu kabin diredupkan, sebagian penumpang terlelap, sebagian lagi tenggelam dalam pikiran masing-masing.Elara tidak bisa tidur. Ia duduk memandangi jendela kecil di samping kursinya, melihat hamparan awan gelap yang seseka
“Apa, Dok? Hamil?”Kata-kata itu menghantam Nico seperti palu. Matanya melebar, mulutnya bahkan sampai ternganga seolah tak percaya.Dokter mengangguk pelan.“Ya. Usianya kira-kira baru beberapa minggu. Karena itulah kami perlu perawatan lebih lanjut untuk memastikan kondisinya tetap sehat.”Nico t
"Arrggh, apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku mendadak jadi seperti ini?" Elara mengerang, merasakan keanehan yang terus menjalari sekujur tubuhnya. “Ada apa dengan aku?” bisik Elara dalam hati. Elara merasakan sesuatu yang berbeda pada dirinya. Sesuatu yang membuatnya merasa kepanasan. Bukan
"Ayo joget lagi! Ayo lagi!"Suara riuh dan membahana terdengar begitu memekakkan telinga, tetapi suara musik yang begitu menggelegar terlihat sangat dinikmati oleh para pengunjung bar yang identik dengan dunia gemerlap. Para manusia itu tampak sedang berjoget dan bernyanyi seraya menggerakkan tubuh
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews