INICIAR SESIÓNMendengar nama Sellina keluar dari bibir Verlyn, raut Kayn seketika meredup. Tak ada rasa marah atau nada membela diri di wajahnya, yang tersisa hanyalah bayang penyesalan dan kejujuran mutlak.
Kayn mempererat genggaman tangannya di atas meja, mengusap lembut punggung tangan Verlyn dengan ibu jarinya."Hubunganku dengan Sellina sudah berakhir sepenuhnya, Verlyn. Sudah sejak lama," ujar Kayn dengan nada rendah dan tenang.Verlyn tersentak tipis. Matanya menatap KMendengar nama Sellina keluar dari bibir Verlyn, raut Kayn seketika meredup. Tak ada rasa marah atau nada membela diri di wajahnya, yang tersisa hanyalah bayang penyesalan dan kejujuran mutlak.Kayn mempererat genggaman tangannya di atas meja, mengusap lembut punggung tangan Verlyn dengan ibu jarinya."Hubunganku dengan Sellina sudah berakhir sepenuhnya, Verlyn. Sudah sejak lama," ujar Kayn dengan nada rendah dan tenang.Verlyn tersentak tipis. Matanya menatap Kayn dengan binar tak percaya. "B-berakhir? Tapi dulu kamu...""Dulu aku bodoh," potong Kayn cepat tanpa berusaha mencari alasan. Ia menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Verlyn. "Aku begitu buta sampai tidak bisa membedakan mana ketulusan dan mana pengkhianatan. Aku memergoki Sellina berselingkuh dengan pria lain di belakangku dengan mata kepalaku sendiri."Dada Verlyn berdesir hebat. Kata-kata itu menghantam logikanya bagai petir di siang bolong. Kejadian yang selama
Verlyn berdiri terpaku beberapa saat di depan cermin, merapikan napasnya yang masih tak beraturan. Setelah berusaha menetralkan rona hangat di pipinya, ia mengambil pakaian baru yang dibelikan Kayn—sebuah gaun kasual berwarna krem berbahan lembut yang terpasang pas di tubuhnya, lalu mengganti kimono handuk tersebut.Dengan langkah pelan dan penuh keraguan, Verlyn memutar gagang pintu kamar tidur dan melangkah menuju area ruang tamu suite."Sudah bangun?" suara Kayn menyapa lembut sebelum Verlyn sempat mengedarkan pandangan.Aroma sup hangat dan teh herbal menyengat lembut indra penciumannya. Di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota pascabadai hujan semalam, Kayn berdiri seraya menuangkan teh ke dalam cangkir porselen. Pria itu sudah berganti pakaian dengan kemeja kasual abu-abu gelap yang lengannya digulung rapi hingga ke siku."E-eh... iya," sahut Verlyn gugup, meremas ujung gaunnya."Kemarilah. Bersiaplah untuk
Napas hangat mereka beradu hebat di tengah keheningan kamar suite. Kayn menatap manik mata Verlyn yang basah dengan raut penuh kejujuran mutlak dan rasa cinta yang tak lagi tertahan. "Tatap mataku, Verlyn. Tidak ada wanita lain!" bisik Kayn serak, suaranya sarat akan rasa frustrasi dan cinta yang meluap. "Di dunia ini... jangankan menikah, memikirkan wanita lain selain kamu saja tidak pernah terlintas di kepalaku!" Sebelum Verlyn sempat mencerna kata-kata itu, Kayn menangkup kedua pipinya dengan lembut. Pria itu menunduk, membungkam bibir Verlyn dengan ciuman yang dalam dan penuh kerinduan. Ciuman itu sarat akan emosi yang selama ini terpendam—rasa bersalah, keputusasaan, dan kasih sayang yang mendesak dadanya. Verlyn terpaku. Matanya perlahan terpejam saat rasa hangat melingkupi seluruh tubuhnya, meruntuhkan benteng jarak yang ia bangun selama ini. Kayn mengusap rahang Verlyn dengan protektif, menyalurkan seluruh penyesalan yang memb
Pengaruh alkohol dengan cepat menguasai kesadaran Verlyn yang memang tak memiliki toleransi terhadap minuman keras. Penglihatannya perlahan kabur, dan keseimbangan tubuhnya mulai goyah.Tuan Gerry dan Tuan Rozi yang menyadari perubahan kondisi Verlyn saling melempar lirikan penuh arti."Nona Verlyn, Anda sepertinya sudah agak mabuk," ujar Tuan Gerry dengan nada pura-pura simpati. Tangannya yang lancang perlahan mendarat di pinggang terbuka Verlyn. "Mari, kami bantu Anda beristirahat di ruang santai.""Iya, Nona. Biar kami bimbing," timpal Tuan Rozi seraya mengulurkan tangan hendak merangkul bahu Verlyn yang terekspos.Verlyn yang kepalanya kian berat berusaha menepis tangan-tangan itu. "T-tidak usah... aku bisa..."Sebelum tangan Tuan Rozi menyentuh kulit Verlyn, sebuah cengkeraman berurat yang amat kuat mendadak mencengkeram pergelangan tangan pria itu hingga terdengar bunyi gemeletak tipis."Singkirkan tangan kotor kalia
Verlyn menutup pintu ruang kerjanya rapat-rapat, membiarkan keheningan menyergap seketika. Ia melangkah kaku menuju meja kerja, lalu menyandarkan tubuhnya yang mendadak hilang tenaga.Dadanya dihantam rasa sakit yang menyengat. Anehnya, rasa ngilu kali ini terasa jauh lebih menyiksa dibanding saat Kayn bersama Sellina dulu. Bayangan Kayn yang bersanding dan bahagia dengan wanita lain kembali memukuli logikanya, meruntuhkan seluruh pertahanan yang susah payah ia bangun.Saat matanya memanas dan air mata siap menetes melintasi pipinya, pintu ruangannya tiba-tiba terdorong terbuka."Nona Verlyn!" panggil Fayyara ceria, melangkah masuk seraya membawa map berkas dengan senyum lebar.Suara ceria itu seketika memotong kesedihan Verlyn. Ia buru-buru mengedipkan mata berkali-kali, berusaha keras menahan agar bulir bening di pelupuk matanya tak sampai jatuh."Nona? Ada apa? Nona... menangis?" tanya Fayyara panik, menghentikan langkah dan lang
Seusai keluar dari ruang kerja sang ayah dengan dada yang masih terasa sesak, Verlyn berniat langsung kembali ke ruangannya. Namun, suara Kaze dari ambang pintu menahan langkahnya. "Verlyn, sekalian tolong kau mampir ke kantor Vyntie Group siang ini. Ambil berkas adendum kerja sama yang harus ditandatangani," pinta Kaze santai. Verlyn mendadak menghentikan langkah. Ia memutar badan, menatap ayahnya dengan raut keberatan yang tidak bisa ditutupi. "Bukannya Ayah ada janji bertemu dengan Om Khalix siang nanti? Kenapa tidak Ayah saja yang mengambilnya langsung?" tolak Verlyn pelan, berusaha menghindari pertemuan dengan Kayn. Kaze mengibaskan tangan. "Ayah dan Khalix bertemu di restoran luar, bukan di kantor Vyntie. Lagi pula, dokumen itu harus ada di meja Ayah sebelum sore. Kamu saja yang ke sana." Verlyn memutar bola matanya pasrah. Mau tidak mau, ia harus mengalah. "Baiklah, Ayah." Setenga
“Verlyn, apa kau sudah siap? Ingat janjimu hari ini!” teriak Kaze dari luar kamar. Verlyn membuka kelopak matanya perlahan dan menatap sayu ke arah langit-langit kamarnya yang berwarna ungu lavender. Ia melirik jam di atas nakas sebelah kasur—08.40 AM. Matanya langsung membelalak. “Bagaimana aku b
“Apa? Menikah? Tidak! Aku tidak membutuhkan itu, Ayah!” balas Verlyn tegas setelah mendengar rencana perjodohannya dengan CEO perusahaan Vyntie milik keluarga konglomerat ternama di Amerika. “Sudah berapa kali Ayah membahas soal perjodohan ini? Aku tidak mau melakukannya!” lanjut Verlyn kesal. Ali
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,







