LOGINPertanyaan Kayn menggantung di udara, menyimpan harapan mendalam yang selama tiga tahun ini ia pendam rapat-rapt.
Verlyn menatap lurus ke mata Kayn. Tidak ada lagi keraguan yang muncul di wajahnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya bersuara dengan kejujuran yang matang. "Alkohol semalam cuma meruntuhkan gengsiku, Kayn... tapi perasaan itu nyata," aku Verlyn pelan, suaranya terdengar jernih tanpa ragu. "Ciuman di balkon, penPertanyaan Kayn menggantung di udara, menyimpan harapan mendalam yang selama tiga tahun ini ia pendam rapat-rapt. Verlyn menatap lurus ke mata Kayn. Tidak ada lagi keraguan yang muncul di wajahnya. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan sebelum akhirnya bersuara dengan kejujuran yang matang. "Alkohol semalam cuma meruntuhkan gengsiku, Kayn... tapi perasaan itu nyata," aku Verlyn pelan, suaranya terdengar jernih tanpa ragu. "Ciuman di balkon, pengakuanku... semuanya murni keluar dari hatiku. Aku enggak bisa terus berpura-pura enggak peduli sama kamu." Dada Kayn bergemuruh hebat mendengar pengakuan jujur itu. Kehangatan perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya, memicu senyum tulus yang begitu lega di wajahnya. "Tapi, Kayn..." sambung Verlyn cepat, menatap jemari mereka yang berada di atas meja. "Aku enggak mau kita terburu-buru. Tiga tahun kita terpisah dengan luka masa lalu. Aku mau kita membangun semuanya
Suasana kafe privat berpencahayaan hangat di kawasan Upper East Side itu terasa amat tenang. Di sudut ruangan yang paling tersembunyi dari jangkauan publik, Verlyn duduk memegangi cangkir porselen berisi teh herbal yang masih mengepulkan uap tipis.Rasa pening di kepalanya sudah jauh berkurang—sebagian besar berkat sup hangat dan teh penawar pengar yang tiba-tiba diantarkan oleh pihak restoran langganannya siang tadi. Verlyn sempat bingung, namun staf restoran menjelaskan bahwa Kayn sendiri yang menelepon manajer restoran untuk memesan menu khusus tersebut dan meminta mereka mengantarkannya langsung ke ruang kerja Verlyn.Perhatian kecil yang begitu personal, tenang, dan sama sekali tidak menuntut jawaban itu justru membuat dada Verlyn berdebar hebat sepanjang hari.Langkah kaki yang mantap mendekat. Verlyn mendongak, mendapati Kayn berdiri di sisinya. Pria itu mengenakan kemeja hitam yang digulung rapi hingga siku, memancarkan aura dewasa yang begitu
Pena di jemari Kayn terhenti tepat di atas dokumen analisis risiko di mejanya.Mata Kayn menatap lurus ke deretan angka di kertas, tapi pikirannya melayang jauh ke kejadian beberapa jam lalu di balkon kamar Verlyn. Aroma manis wine yang bercampur dengan wangi khas Verlyn seolah masih membayang di ingatannya.Setiap kali ingatan malam itu melintas—sentuhan bibir Verlyn yang hangat, desahan halusnya, sampai kepasrahan wanita itu saat merengkuh lehernya—dada Kayn berdebar kencang. Rasanya seperti mimpi. Tiga tahun ia menahan diri membendung rindu, dan semalam seluruh pertahanan Verlyn runtuh di pelukannya.Senyum tipis mengulas di bibir Kayn. Pria yang biasanya selalu bersikap dingin dan kaku itu kini bersandar di kursi kerjanya, memegangi pangkal hidung seraya terkekeh pelan pada dirinya sendiri. Ia ingat betul wajah Verlyn yang memerah usai mereka berciuman—ekspresi jujur yang sudah bertahun-tahun tidak pernah ia lihat lagi. Kehangatan tubuh Verlyn saat
Steven membuka dokumen tebal yang ia bawa di atas meja kaca, membeberkan grafik dan lembar analisis saham. Tapi dari raut wajah dan lirikan matanya ke arah Verlyn, terlihat jelas kalau bursa saham hanya alasan formalitas dari penerbangan mendadaknya pagi ini.Verlyn berusaha fokus menyimak penjelasan Steven, meski pening di kepalanya masih sesekali terasa."Poin utama yang mau kutekankan itu pengalihan alokasi modal buat divisi teknologi Kizen Group," ujar Steven seraya menunjuk salah satu kolom angka. "Kalau kita eksekusi minggu ini, kita bisa mengunci margin keuntungan yang jauh lebih aman dari fluktuasi pasar."Verlyn mengangguk pelan, menyandarkan jemarinya di dagu. "Analisis yang sangat presisi, Steven. Penilaianmu soal timing bursa memang jarang meleset. Tapi bukankah keputusan ini butuh persetujuan dari tim penasihat eksternal juga?"Steven terdiam sejenak. Ia menutup dokumen tersebut perlahan, lalu menatap Verlyn lurus-lurus tanpa lag
Sinar matahari pagi menembus celah gorden, menyiram lantai kayu kamar dengan cahaya hangat. Verlyn perlahan membuka matanya, mengerjap pelan merasakan denyut pening di kepalanya—efek Pinot Noir semalam yang langsung terasa.Refleks, tangan Verlyn raba-raba sisi ranjang di sebelahnya, tapi yang ia dapati hanya seprai dingin yang sudah rapi.Verlyn langsung terduduk. Kamar luas itu sunyi. Sosok Kayn sudah tidak ada. Hanya ada secangkir teh lemon hangat yang masih mengepul di atas meja nakas, bersandingan dengan selembar kertas catatan bertuliskan tulisan tangan Kayn yang rapi:“Diminum saat kamu bangun, ya. Maaf aku pulang duluan, aku enggak mau membuat para pelayan rumah ini salah paham saat mereka kembali pagi ini. Istirahatlah, Verlyn.”Verlyn memegangi kepalanya yang makin berdenyut, lalu memejamkan mata rapat-rapt saat ingatan semalam berputar cepat di pikirannya.Wajahnya seketika memerah padam. Rasa malu dan penyesalan mendadak memb
Ciuman di balkon malam itu makin dalam dan menuntut. Rasa manis wine bercampur dengan gelombang rindu yang terendam selama tiga tahun, melelehkan seluruh jarak dan batasan yang dibangun Kayn dengan susah payah.Napas Kayn terdengar makin berat dan memburu. Jemarinya yang menyusup di tengkuk Verlyn meremas pelan, membawa wanita itu makin lekat. Desahan halus lolos dari bibir Verlyn, membuat gejolak di dada Kayn semakin membakar. Tapi di tengah kepungan emosi yang membuncah, akal sehat Kayn mendadak memukulnya keras.Ia tidak mau memanfaatkan kondisi Verlyn yang sedang dipengaruhi alkohol. Ia ingin Verlyn menerimanya dan menyerahkan diri sepenuhnya saat sadar seutuhnya—bukan dalam pengaruh wine.Dengan sisa kendali diri yang tersisa, Kayn menarik kepalanya mundur pelan. Napas mereka beradu di udara malam, terengah-engah dalam jarak yang begitu dekat."Verlyn... stop," bisik Kayn serak, suaranya berat dan bergetar. Ibu jarinya mengusap lembut bi
"A–apa, maksudmu?!" ujar Verlyn sambil sedikit menjauh dari Kayn. Kedua pipi Verlyn langsung memerah seketika setelah Kayn berbisik di dekat telinganya. Kayn melipat kedua tangannya dan menatap Verlyn dengan dingin, menunggu penjelasan dari gadis yang kini tampak gugup di hadapannya. "Mengaku saja
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar







