LOGINSesuai rencana, sore harinya Verlyn melangkah keluar dari gedung Kizen Group menuju sebuah butik haute couture langganan kelas atas di kawasan elit Manhattan. Karena pernikahan disepakati buat dipercepat, agenda berburu gaun pengantin langsung jadi prioritas utama.
Namun, urusan gaun ini murni jadi wilayah para wanita. Verlyn memang sengaja melarang Kayn ikut melihat gaunnya. Ia ingin memberikan kejutan manis dan melihat reaksi pria itu saat pertama kali menyaksikan dirinya berbalut gauWaktu bergulir begitu cepat. Hari pernikahan dua pewaris korporasi raksasa itu kini tinggal dua minggu lagi. Kesibukan di Manhattan mencapai puncaknya, dengan tim gabungan Kizen dan Vyntie yang terus mematangkan semua persiapan akhir.Sore itu, Verlyn dan Kayn baru saja selesai mengecek ballroom utama di hotel bintang lima tempat resepsi bakal digelar. Didampingi Rainon dan Fayyara, mereka memastikan tata letak panggung, susunan tempat duduk untuk para pejabat dan tamu internasional, sampai skema pengamanan privat.Begitu urusan selesai dan kedua sekretaris mereka pamit buat mengurus konfirmasi tamu, Kayn langsung menarik tangan Verlyn menuju ruang VIP di sudut hotel.Pintu baru saja tertutup rapat saat Kayn melingkarkan kedua tangannya di pinggang Verlyn, mengistirahatkan dagunya di bahu wanita itu seraya mengembuskan napas panjang. Sikapnya yang mendadak manja membuat Verlyn terkekeh pelan."Kenapa, Tuan Viondra? Capek, ya?" goda Verlyn se
Pagi harinya di gedung Kizen Group, suasana lantai eksekutif mendadak terasa agak tegang sekaligus menggelitik. Kayn yang sejak pagi sudah berada di ruang kerja Verlyn tampak duduk santai di sofa kulit dengan secangkir kopi hitam, sementara Verlyn duduk anggun di balik meja kerjanya.Sesuai rencana jahil mereka semalam, Verlyn memanggil Fayyara buat membawakan berkas revisi proyek joint venture. Di saat yang bersamaan, Kayn juga menginstruksikan Rainon untuk mengantarkan berkas fisik dari Vyntie Group ke ruangan Verlyn.Tok, tok."Masuk," sahut Verlyn tenang.Pintu terdorong terbuka. Fayyara melangkah masuk membawa tumpukan dokumen, tapi langkahnya seketika terhenti kaku saat mendapati Rainon berjalan tepat di belakangnya. Rainon yang biasanya selalu bersikap tenang dan dingin kini tampak salah tingkah, refleks membetulkan letak dasinya saat mendapati tatapan penuh arti dari bosnya, Kayn.Kedua sekretaris pribadi itu berdiri berdamp
Kayn menatap Verlyn yang memajukan tubuhnya ke arah meja penuh rasa penasaran. Pria itu meletakkan gelas anggurnya pelan, lalu mengulas senyum tipis yang penuh arti."Rainon," jawab Kayn singkat dengan suara rendahnya yang tenang.Verlyn membelalak kaget. Ia menyandarkan punggungnya di kursi dengan mulut sedikit terbuka."Rainon? Maksudmu... Rainon sekretaris pribadimu itu?" tanyanya memastikan."Siapa lagi?" kekeh Kayn pelan seraya menyandarkan tubuhnya santai. "Selama kita berlibur di Amalfi kemarin, dia yang memegang kendali penuh untuk mengurus semua dokumen dan laporan gabungan antara Kizen dan Vyntie. Tiap kali aku telepon untuk meminta laporan berkala, suara ketikan keyboard-nya sering mendadak berhenti. Terus saat dia bicara, nadanya jauh lebih lembut dan enggak sebaku biasanya. Lebih mirip orang yang lagi kasmaran."Verlyn spontan menutup mulut dengan sebelah tangan, lalu tawa renyah pecah dari bibirnya saat kesadaran itu mengha
Sesuai rencana, sore harinya Verlyn melangkah keluar dari gedung Kizen Group menuju sebuah butik haute couture langganan kelas atas di kawasan elit Manhattan. Karena pernikahan disepakati buat dipercepat, agenda berburu gaun pengantin langsung jadi prioritas utama.Namun, urusan gaun ini murni jadi wilayah para wanita. Verlyn memang sengaja melarang Kayn ikut melihat gaunnya. Ia ingin memberikan kejutan manis dan melihat reaksi pria itu saat pertama kali menyaksikan dirinya berbalut gaun pengantin di atas altar nanti.Di dalam butik yang mewah dan privat, Caroline dan Villian sudah menyambut Verlyn dengan deretan gaun pengantin rancangan desainer ternama yang menggantung anggun."Akhirnya datang juga calon pengantin kita," sapa Villian hangat, langsung memeluk Verlyn seraya mengecup kedua pipinya. "Kayn tadi sempat menggerutu karena dilarang ikut."Verlyn tertawa kecil. "Biar jadi kejutan, Mama."Caroline tersenyum haru menyaksikan momen hangat itu. "Piliha
Keesokan paginya, suasana di gedung utama Kizen Group terasa sedikit berbeda dari biasanya. Saat Verlyn melangkah melewati lobi utama menuju area lift eksekutif, beberapa karyawan yang kebetulan berpapasan langsung membungkuk hormat. Namun, begitu Verlyn melintas, samar-samar terdengar bisikan antusias dari arah meja resepsionis dan koridor. "Lihat jari manis Nona Verlyn... itu cincin berlian, kan?" "Berarti rumor Nona Verlyn sama Tuan Kayn bertunangan di Italia itu beneran!" "Kira-kira kalau mereka menikah nanti, kita semua bakal diundang ke pesta mewahnya enggak, ya?" Verlyn yang mendengar selentingan obrolan itu hanya mengulas senyum kecil seraya menggelengkan kepala pelan. Ia tidak berniat menyangkal ataupun menegaskan, membiarkan jemarinya yang berhias cincin dari Kayn berkilau lembut di bawah lampu gantung gedung. Begitu tiba di ruang kerjanya yang luas, Verlyn baru saja melepas bl
Penerbangan panjang dengan jet pribadi akhirnya mendarat mulus di New York saat malam makin pekat. Udara dingin langsung menyapa begitu pintu pesawat terbuka, tapi kehangatan di antara Kayn dan Verlyn sama sekali tidak memudar.Sesuai kesepakatan sebelum mendarat, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing malam ini. Namun, saat mobil mewah milik Kayn berhenti di depan gerbang kediaman megah keluarga Verlyn, Verlyn melirik jam tangan lalu menoleh pada pria di sampingnya."Enggak mau mampir dulu? Minum teh sebentar di dalam?" tawar Verlyn halus seraya mengulas senyum manis. "Nanti baru kamu pulang ke rumahmu."Kayn menatap mata Verlyn, lalu menyunggingkan senyum tipis yang hangat. Jemarinya meremas lembut tangan Verlyn yang berhias cincin tunangan. "Tawaran yang sulit ditolak, My Sweety." Langkah mereka berdua terdengar seirama saat memasuki pintu utama rumah. Namun, begitu melangkah ke ruang keluarga, suasana mendadak ramai.
Kayn mengernyitkan dahi saat melihat Verlyn duduk di sebelah Villian sambil tersenyum polos, seolah tidak ada masalah di antara mereka. “Kita bertemu lagi! Dunia ini memang sempit, ya, Tuan Kayn!” seru Verlyn senang. Ia berdiri dan memeluk lengan Kayn. “Atur ekspresimu, Tuan. Ini demi dirimu juga,
Kayn langsung bangkit dan sedikit menjauh dari Verlyn setelah mendengar perkataannya. Entah apa yang ada di benaknya hingga berani mengatakan hal seperti itu. “Cukup mengejutkan kau wanita seperti ini, Nona Verlyn,” ujar Kayn datar namun penuh makna. Verlyn menggeleng pelan. “Kau benar. Aku mema
Verlyn terkejut mendengar ucapan Kayn barusan. Ia hampir tersedak saat menyesap teh yang kini ia pegang. "Saya tidak salah dengar, kan?" tanyanya memastikan. Kayn menggeleng pelan. "Tidak, Anda mendengarnya dengan baik. Anda bisa melihat dokumen di atas meja. Itu berisi perjanjian yang saya tawar
Pak Rian turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Verlyn. "Turunlah perlahan, Nona." "Oke, terima kasih!" Verlyn turun dan menatap gedung tinggi yang kini berdiri megah di depannya, mengilap terkena pantulan sinar matahari. "Gedungnya sama megah dan besar dengan perusahaan Kizen milik Ayah!" p







