Angin senja bertiup kencang, mengacaukan rambut Arjuna yang duduk santai di atas kuda coklat kemerahan. Matanya menatap lurus ke arah cakrawala yang mulai memerah terpapar sinar matahari terbenam. Pikirannya melayang jauh, terombang-ambing antara keinginan kuat untuk pulang ke masa depan dan rasa enggan menemui seseorang. "Kita mampir sebentar nanti di Batu Layang, melihat kawan-kawan," ujar Arjuna datar, seolah menyimpan beban berat. "Lalu melanjutkan perjalanan ke pegunungan selatan. Menurut perkiraanku, markas besar mereka terletak di bibir pantai." Kong yang berkuda di sampingnya menoleh, dengan bahasa isyarat ia berkata, "Apakah kau sudah siap bertemu ayah kandungmu? Ingatlah, bukan hanya dia yang akan kau temui. Ada Kirana—wanita yang pernah mengisi hatimu, dan kini jadi ibu sambungmu. Bukankah ini pisau yang akan menggores luka lama?" "Dia benar-benar bodoh kalau tinggal di markas yang sudah diketahui musuh," sahut Arjuna dingin. "Kita ke markas mereka untuk melacak keberadaa
Magbasa pa