Waktu berjalan pelan di rumah sederhana itu, namun membawa perubahan yang begitu besar. Wanita yang dulu ditemukan tergeletak di pinggir sungai, kini hidup sebagai bagian dari keluarga kecil Pak Joko dan Bu Hayati. Mereka memberinya nama—Anisa. Nama yang terdengar lembut, penuh harapan, seolah menjadi doa agar hidupnya kembali utuh meski masa lalunya hilang.“Mulai sekarang kamu Anisa ya, Nak,” ucap Bu Hayati suatu pagi, sambil menyisir rambut panjang wanita itu dengan penuh kasih.Wanita itu hanya mengangguk pelan. “Iya, Bu,” jawabnya lirih.Tak ada penolakan. Tak ada pertanyaan. Seolah ia menerima nama itu seperti menerima takdir barunya.Hari-hari berlalu, luka-luka di tubuh Anisa perlahan sembuh. Bekas goresan di lengannya mulai memudar, lebam di pelipisnya menghilang. Wajahnya yang dulu pucat kini mulai berwarna. Bahkan, kecantikannya semakin terlihat jelas—kulitnya halus, matanya jernih, dan ada aura tenang yang terpancar dari dirinya.Namun ada satu hal yang tak berubah—Anisa m
閱讀更多