Hujan turun rintik-rintik di halaman rumah sederhana tempat Alex kini tinggal. Udara terasa dingin, tetapi di ruang tamu kecil itu, suasana justru hangat oleh ketegasan yang akhirnya kembali ke wajah Alex. Di hadapannya, Lohan berdiri sambil memegang map tebal—hasil kerja berbulan-bulan yang melelahkan.“Semua sudah lengkap, Tuan,” ucap Lohan pelan namun mantap. “Bukti pemalsuan dokumen, aliran dana, rekaman percakapan, saksi internal perusahaan. Tidak ada celah.”Alex mengangguk. Matanya tajam, bukan penuh amarah, melainkan ketenangan yang lahir dari keputusan yang matang. “Hubungi pengacara. Kita laporkan Danu dan Anisa. Bukan untuk balas dendam,” katanya lirih, “tapi untuk keadilan.”Lohan segera menunduk hormat. Ia tahu, kalimat itu bukan basa-basi. Alex telah melewati fase marah, terluka, bahkan hampir putus asa. Kini, yang tersisa hanyalah prinsip: kebenaran harus berdiri.Di kamar sebelah, Amara menimang Bayu yang tertidur pulas. Ia mendengar sepintas percakapan itu, lalu terse
Last Updated : 2026-02-15 Read more