Home / Rumah Tangga / Madu Suamiku / Sebuah Rencana Besar

Share

Sebuah Rencana Besar

Author: Aisyah Ahmad
last update publish date: 2026-06-01 19:42:21

Sementara itu, Di sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Melisa berdiri tegak di samping jendela kaca raksasa. Wajahnya berseri-seri, gincu merah darahnya tampak semakin kontras dengan senyum kemenangan yang tak kunjung pudar. Di depannya, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kulit mahoni tampak menyesap cerutu dengan sangat tenang.

​Itu adalah Bramantyo Dirgantara, paman Zean sekaligus salah satu pengacara senior di Dirgantara Group yang selama puluhan ta
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Madu Suamiku   Terbongkar !

    Prok... prok... prok... Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seolah sedang mengejek kedangkalan berpikir wanita di hadapannya.​"Kamu... salah cari lawan, Melisa!" tegas Zahra, sorot matanya seketika berubah setajam silet. "Menghadapi orang seperti kamu... itu bukan hal yang sulit buat aku."​Keadaan ballroom benar-benar sunyi. Ratusan hadirin, termasuk para kolega hukum senior dan CEO kakap, tampak melongo. Mereka yang tadinya mengira akan menyaksikan drama kehancuran rumah tangga, kini justru disuguhi pemandangan seorang istri sah yang begitu dominan dan mengendalikan situasi.​Zahra mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah gawai pintar, lalu menekan satu tombol. Detik itu juga, layar LED raksasa di belakang Melisa kembali berkedip.​"Para hadirin yang terhormat, maaf atas interupsi yang tidak nyaman ini," ucap Zahra, berbalik sekilas menyapa para tamu dengan gestur profesional yang amat anggun. "Namun, sebagai orang hukum, kita semua tahu bahwa sebuah tuduhan tanpa vali

  • Madu Suamiku   Gaduh

    Acara pun bergulir dengan khidmat. Sesi demi sesi dilewati, mulai dari makan malam mewah hingga sesi bincang-bincang santai antar-klien kakap. Namun bagi Bramantyo dan Melisa, setiap menit yang berlalu terasa seperti siksaan yang membakar dada.​Bramantyo terus menatap jam tangannya, otaknya yang licik kembali berputar cepat. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Gagal lewat jalur operator digital, berarti ia harus menggunakan rencana cadangan yang jauh lebih nekat. Ia melirik Melisa yang masih berdiri gelisah di dekatnya.​"Gunakan rencana kedua," bisik Bramantyo dingin, nyaris tak terdengar. "Bawa dokumen cetak pelanggaran kode etik itu sekarang. Begitu giliran kakakku naik ke podium untuk memberikan pidato penutup, kamu langsung terobos panggung. Bawa mikrofon cadangan, bongkar semuanya secara lisan, lalu lempar dokumen itu ke meja para klien utama. Mengerti?"​Melisa menelan ludah, matanya berkilat nekat. Rasa malunya karena gagal tadi berubah menjadi ambisi gelap yang berbahaya. "Ba

  • Madu Suamiku   Malam Puncak

    Malam puncak perayaan hari jadi Dirgantara Law Firm yang ke-30 akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima itu telah bertransformasi menjadi ruang gala yang luar biasa megah. Lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan, menerangi ratusan tamu VIP yang mulai memenuhi ruangan. Para petinggi hukum, jaksa senior, hakim, hingga para CEO perusahaan multinasional yang merupakan klien-klien kakap dari Dirgantara Group tampak bercakap-cakap elegan sembari menyesap minuman mereka.​Di sudut ruangan yang agak remang, terpisah dari kerumunan utama, Bramantyo berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Tatapannya dingin, lurus mengarah ke podium panggung. Tidak jauh dari sana, bersandar pada pilar marmer, Melisa berdiri dengan gaun malam berwarna merah marun berpotongan tegas.​Mereka berdua sengaja tidak saling menyapa untuk menjaga jarak, namun sepasang mata mereka memancarkan kilat yang sama, penantian akan sebuah kehancuran besar. Melisa bahkan sudah tidak sabar membayangkan detik-detik

  • Madu Suamiku   Sebuah Rencana Besar

    Sementara itu, Di sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Melisa berdiri tegak di samping jendela kaca raksasa. Wajahnya berseri-seri, gincu merah darahnya tampak semakin kontras dengan senyum kemenangan yang tak kunjung pudar. Di depannya, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kulit mahoni tampak menyesap cerutu dengan sangat tenang.​Itu adalah Bramantyo Dirgantara, paman Zean sekaligus salah satu pengacara senior di Dirgantara Group yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang kejayaan ayah Zean. Ia adalah rival sejati di dalam keluarga itu sendiri. Orang yang telah lama menanti momen untuk menjatuhkan kehormatan keluarga inti Dirgantara. ​"Semua berjalan sangat sempurna, Om Bram," ujar Melisa dengan nada suara yang melengking riang, terdengar begitu jemawa. "Tebakan kita benar. Si Zahra itu tidak ada apa-apanya. Begitu aku perlihatkan video kamar hotel dan salinan dokumen lama itu, dia langsung gemetar."​Melisa terkekeh manja, mengi

  • Madu Suamiku   Sedingin Es, dan apa salahku ?

    Zahra menegakkan punggungnya yang semula merunduk lesu. Wajah pias yang dipenuhi air mata kepedihan itu seketika menguap, berganti dengan ekspresi sedingin es. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya, menyeka sisa air mata di pipi dengan gerakan perlahan dan sangat tenang.Zahra merapikan kembali blazernya sebelum melangkah mantap, bertransisi kembali menuju gedung kantor Dirgantara Group.​Namun, begitu kakinya menginjak area parkiran kantor, pemandangan di depannya membuat Zahra sedikit memperlambat langkah. Di sana, tepat di samping mobilnya, Seorang Zean tampak berdiri bersandar. Pria itu sesekali melirik jam tangan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan raut cemas.Begitu siluet Zahra tertangkap oleh sepasang matanya, Zean langsung berdiri tegak dan melangkah cepat mendekati istrinya.​"Sayang, kamu dari mana?" tanya Zean berondong, ada nada lega sekaligus panik dalam suaranya. "Aku ke sini mau jemput kamu untuk makan siang bersama, tapi kata Citra kamu sudah keluar dari t

  • Madu Suamiku   Insident Cafe Cendana

    Jarum jam dinding di divisi legal Dirgantara Group tepat menunjukkan pukul 12.45 WIB. Suasana kantor agak lengang karena sebagian besar karyawan sedang keluar untuk istirahat makan siang.​Zahra berdiri dari kursi kerjanya, merapikan blazer dan jilbabnya di depan cermin kecil kubikel, lalu menyampirkan tas tangannya. Di dalam saku blazernya, jemarinya sempat menyentuh pinggiran kertas surat misterius tadi. Napasnya diatur sedemikian rupa, memasang raut wajah yang tampak tegang dan gelisahSebelum melangkah keluar, Zahra merogoh ponselnya dan mengirimkan satu pesan singkat kepada seseorang.Lalu Zahra menyimpan kembali ponselnya, lalu melangkah mantap keluar dari gedung Dirgantara Group menuju Resto & Cafe X yang terletak hanya dua blok dari kantornya.​Suasana di dalam kafe bergaya kolonial itu cukup tenang, diiringi alunan musik jazz instrumental yang mengalun lirih. Di meja nomor 5 yang terletak di sudut agak remang, Melisa sudah duduk dengan anggun. Kacamata hitam bertengger di hid

  • Madu Suamiku   Nafkah Pengganti

    Sudah lima hari setelah sidang pertama berlangsung. Zahra sudah menjalani aktifitas seperti biasanya. Sesuai saran dari Resti, kini Zahra mulai bekerja di perusahaan keluarganya Zean. Ia menjabat sebagai konsultan. Anak anaknyaa ia masukkan ke sekolah full day. Jadi dia tak perlu repot. Saat pulang

  • Madu Suamiku   Sidang Pertama

    Zahra menoleh ke belakang memandangi Bu Sukma yang duduk berjejer dengan Dinda dan saling berangkulan. Tatapannya itu mengisyaratkan sebuah makna yang dalam. Sebagaimana seorang ibu yang takut akan kehilangan anaknya. Lalu Zahra juga memandangi Dinda yang menunduk sedari tadi seperti sedang merapal

  • Madu Suamiku   Surat Cinta dari Pengadilan

    "Ya sama kita lah,""Aduh, Res. Aku nggak tega, masalahnya Rayyan itu udah peka banget. Aku nggak mau menciptakan memori itu di otak nya.""Ya udah kita nunggunya di luar aja, kan bisa... Aku antarin kamu sampai depan, terus aku sama anak anak jalan jalan, gitu.""Eum... Ya udah deh.""Naaah, gitu

  • Madu Suamiku   Ketika hidup mulai hancur

    "Pakai nomor baru lagi.""Astaga, curang. Ngapain lagi sih dia ? Mau bikin ribut apalagi?""Nih. Tapi ya... Aku juga sih yang salah. Ucapan dia nggak salah kok,"Resti membaca sebuah pesan itu yang membuatnya geleng-geleng kepala."Bener bener nggak ada otaknya ya dia. Kalau ngomong itu lo nggak ad

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status