LOGINProk... prok... prok... Ia menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seolah sedang mengejek kedangkalan berpikir wanita di hadapannya."Kamu... salah cari lawan, Melisa!" tegas Zahra, sorot matanya seketika berubah setajam silet. "Menghadapi orang seperti kamu... itu bukan hal yang sulit buat aku."Keadaan ballroom benar-benar sunyi. Ratusan hadirin, termasuk para kolega hukum senior dan CEO kakap, tampak melongo. Mereka yang tadinya mengira akan menyaksikan drama kehancuran rumah tangga, kini justru disuguhi pemandangan seorang istri sah yang begitu dominan dan mengendalikan situasi.Zahra mengangkat tangan kirinya yang memegang sebuah gawai pintar, lalu menekan satu tombol. Detik itu juga, layar LED raksasa di belakang Melisa kembali berkedip."Para hadirin yang terhormat, maaf atas interupsi yang tidak nyaman ini," ucap Zahra, berbalik sekilas menyapa para tamu dengan gestur profesional yang amat anggun. "Namun, sebagai orang hukum, kita semua tahu bahwa sebuah tuduhan tanpa vali
Acara pun bergulir dengan khidmat. Sesi demi sesi dilewati, mulai dari makan malam mewah hingga sesi bincang-bincang santai antar-klien kakap. Namun bagi Bramantyo dan Melisa, setiap menit yang berlalu terasa seperti siksaan yang membakar dada.Bramantyo terus menatap jam tangannya, otaknya yang licik kembali berputar cepat. Ia tidak mau menyerah begitu saja. Gagal lewat jalur operator digital, berarti ia harus menggunakan rencana cadangan yang jauh lebih nekat. Ia melirik Melisa yang masih berdiri gelisah di dekatnya."Gunakan rencana kedua," bisik Bramantyo dingin, nyaris tak terdengar. "Bawa dokumen cetak pelanggaran kode etik itu sekarang. Begitu giliran kakakku naik ke podium untuk memberikan pidato penutup, kamu langsung terobos panggung. Bawa mikrofon cadangan, bongkar semuanya secara lisan, lalu lempar dokumen itu ke meja para klien utama. Mengerti?"Melisa menelan ludah, matanya berkilat nekat. Rasa malunya karena gagal tadi berubah menjadi ambisi gelap yang berbahaya. "Ba
Malam puncak perayaan hari jadi Dirgantara Law Firm yang ke-30 akhirnya tiba. Ballroom hotel bintang lima itu telah bertransformasi menjadi ruang gala yang luar biasa megah. Lampu gantung kristal memancarkan pendar keemasan, menerangi ratusan tamu VIP yang mulai memenuhi ruangan. Para petinggi hukum, jaksa senior, hakim, hingga para CEO perusahaan multinasional yang merupakan klien-klien kakap dari Dirgantara Group tampak bercakap-cakap elegan sembari menyesap minuman mereka.Di sudut ruangan yang agak remang, terpisah dari kerumunan utama, Bramantyo berdiri dengan segelas sampanye di tangannya. Tatapannya dingin, lurus mengarah ke podium panggung. Tidak jauh dari sana, bersandar pada pilar marmer, Melisa berdiri dengan gaun malam berwarna merah marun berpotongan tegas.Mereka berdua sengaja tidak saling menyapa untuk menjaga jarak, namun sepasang mata mereka memancarkan kilat yang sama, penantian akan sebuah kehancuran besar. Melisa bahkan sudah tidak sabar membayangkan detik-detik
Sementara itu, Di sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke arah cakrawala kota, Melisa berdiri tegak di samping jendela kaca raksasa. Wajahnya berseri-seri, gincu merah darahnya tampak semakin kontras dengan senyum kemenangan yang tak kunjung pudar. Di depannya, seorang pria paruh baya yang duduk di kursi kulit mahoni tampak menyesap cerutu dengan sangat tenang.Itu adalah Bramantyo Dirgantara, paman Zean sekaligus salah satu pengacara senior di Dirgantara Group yang selama puluhan tahun hidup di bawah bayang-bayang kejayaan ayah Zean. Ia adalah rival sejati di dalam keluarga itu sendiri. Orang yang telah lama menanti momen untuk menjatuhkan kehormatan keluarga inti Dirgantara. "Semua berjalan sangat sempurna, Om Bram," ujar Melisa dengan nada suara yang melengking riang, terdengar begitu jemawa. "Tebakan kita benar. Si Zahra itu tidak ada apa-apanya. Begitu aku perlihatkan video kamar hotel dan salinan dokumen lama itu, dia langsung gemetar."Melisa terkekeh manja, mengi
Zahra menegakkan punggungnya yang semula merunduk lesu. Wajah pias yang dipenuhi air mata kepedihan itu seketika menguap, berganti dengan ekspresi sedingin es. Ia mengambil selembar tisu dari tasnya, menyeka sisa air mata di pipi dengan gerakan perlahan dan sangat tenang.Zahra merapikan kembali blazernya sebelum melangkah mantap, bertransisi kembali menuju gedung kantor Dirgantara Group.Namun, begitu kakinya menginjak area parkiran kantor, pemandangan di depannya membuat Zahra sedikit memperlambat langkah. Di sana, tepat di samping mobilnya, Seorang Zean tampak berdiri bersandar. Pria itu sesekali melirik jam tangan dan mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan raut cemas.Begitu siluet Zahra tertangkap oleh sepasang matanya, Zean langsung berdiri tegak dan melangkah cepat mendekati istrinya."Sayang, kamu dari mana?" tanya Zean berondong, ada nada lega sekaligus panik dalam suaranya. "Aku ke sini mau jemput kamu untuk makan siang bersama, tapi kata Citra kamu sudah keluar dari t
Jarum jam dinding di divisi legal Dirgantara Group tepat menunjukkan pukul 12.45 WIB. Suasana kantor agak lengang karena sebagian besar karyawan sedang keluar untuk istirahat makan siang.Zahra berdiri dari kursi kerjanya, merapikan blazer dan jilbabnya di depan cermin kecil kubikel, lalu menyampirkan tas tangannya. Di dalam saku blazernya, jemarinya sempat menyentuh pinggiran kertas surat misterius tadi. Napasnya diatur sedemikian rupa, memasang raut wajah yang tampak tegang dan gelisahSebelum melangkah keluar, Zahra merogoh ponselnya dan mengirimkan satu pesan singkat kepada seseorang.Lalu Zahra menyimpan kembali ponselnya, lalu melangkah mantap keluar dari gedung Dirgantara Group menuju Resto & Cafe X yang terletak hanya dua blok dari kantornya.Suasana di dalam kafe bergaya kolonial itu cukup tenang, diiringi alunan musik jazz instrumental yang mengalun lirih. Di meja nomor 5 yang terletak di sudut agak remang, Melisa sudah duduk dengan anggun. Kacamata hitam bertengger di hid
"Hm... Takutnya kalau kamu langsung mengungkapkannya sekarang dia malah makin jauh Zeann. Aku pernah bicara ke dia, untuk saat ini fokusnya masih ke anak. Mungkin kamu juga bisa memulainya dari situ.""Ambil hati anak-anaknya dulu kan?""Nah, itu tau... ""Baiklah, ku ikuti saranmu suhu,""Dasar! G
"Ayah,... " Kali ini Nina yang maju langsung memeluk Ayahnya yang sedang marah marah. Bukan hanya membela , tapi Nina tak tega melihat Bundanya menangis terisak isak seperti itu. Nisa sudah berusaha bersimpuh di kaki Ayahnya, tapi terus di tendang tendang. Saat di peluk Nina seketika Ayahnya langsu
"Kenapa tidak?""Ya aku takut Nin, Apalagi Ayah. Dia pasti masih marah ya sama aku sejak keputusanku waktu itu? Bunda? Bunda gimana kabarnya Nin?""Bunda sudah sehat pasca operasi di Jepang. bunda udah di rumah kok 2 minggu yang lalu sudah pulang.""Alhamdulillah, aku kangen banget sama Bunda, Nin"
"Mas ini yang pernah tolong saya waktu di godain preman itu kan? Yang antar saya dari Malang sampai terminal Bojonegoro waktu itu.""Loh, mbak ini yang??? ""Iya Mas, saya.""Ya Allah, nggak nyangka bisa ketemu lagi ya mbak, mbak mau kemana?""Mau pulang ke Bogor Mas. Mas nya mau kemana? Kok naik B







