Pagi itu, suasana di rumah kontrakan Anisa terasa lebih tenang dari biasanya. Jihan yang baru selesai menyusu sedang tertidur pulas di pangkuannya, sementara dari dapur terdengar suara air mendidih.Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.Tok tok tok!Anisa menoleh. “Siapa?”“Orang yang bawa sarapan,” jawab suara laki-laki dari luar.Anisa langsung menghela napas. “Masuk saja, Safak. Pintunya tidak dikunci.”Safak membuka pintu sambil membawa dua bungkusan makanan dan satu kantong plastik berisi buah. Begitu masuk, dia tersenyum lebar. “Pagi.”“Pagi,” jawab Anisa datar.“Hei, wajah begitu apaan? Aku datang pagi-pagi bawa makanan, loh.”“Aku belum sempat ngomel, kok. Jadi jangan ge-er dulu.”Safak terkekeh. “Baiklah. Aku anggap itu sambutan hangat.”Anisa memutar bola matanya. “Simpan saja di meja. Jihan baru tidur.”Safak menoleh ke arah bayi kecil itu, lalu suaranya otomatis mengecil. “Dia tidur nyenyak ya.”“Iya. Tadi rewel sebentar, habis itu menyusu dan langsung tidur.”Saf
Read more