Ruang rapat yang tadinya tegang kini membeku total. Kata-kata Safak seperti palu hakim yang menghantam meja. Dinda berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya memerah padam campur antara marah dan malu. Tegar di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tapi tak berani bicara. "Apa maksudmu?!" bentak Dinda, suaranya nyaris pecah. "Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama begitu saja! Ini sudah tahap final! Ayahku—" Safak mengangkat tangan, memotong ucapannya dengan dingin. "Ayahmu? Memang kenapa dengan Ayahmu? Setiap hari yang bisa kau banggakan hanyalah Ayahmu. Apa tidak ada orang lain selain Ayahmu yang bisa kau banggakan? Oh iya satu kali lagi kuberi tahu... Apa kau pikir, ayahmu dan perusahaan kecil seperti Sapphire Industries punya hak untuk bekerja sama dengan perusahaan ini? Jika bukan karena kami sedang mengajari dan menuntun karyawan-karyawan baru kami untuk maju dan menambah pengalaman, apa kau pikir kalian berdua masih pantas masuk ke perusahaan
Read more