Compartilhar

Bab 63

Autor: Mr. Crawford
last update Data de publicação: 2026-07-13 13:15:36

Meeting usai dengan cepat. Karyawan Tifana Group keluar ruangan sambil berbisik-bisik.

Sementara itu, Anisa masih duduk di kursinya, pikirannya kacau. Safak lalu mendekat pelan.

"Nisa, kamu baik-baik saja?"

Anisa mengangguk pelan. "Aku... tidak menyangka kamu akan sekeras itu."

"Aku hanya melindungimu," jawab Safak lembut. "Mereka sudah cukup menyakitimu. Sekarang giliran aku yang akan berdiri di depanmu."
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 66

    Keesokan paginya, pukul 08.15 WIB – Kantor Polisi Resort Kendal Suasana kantor polisi pagi itu ramai dengan antrian orang yang melapor. Di ruang tunggu, Dinda dan Tegar duduk gelisah. Mereka dipanggil untuk dimintai keterangan terkait laporan penganiayaan terhadap Anisa yang diajukan melalui pengacara Erickson. Dinda menggenggam tangan Tegar erat. "Tegar, ayahku pasti bisa bantu. Dia kenal banyak orang di sini." Tegar hanya diam, wajahnya pucat. Ia tahu situasi mereka sudah sangat buruk. Tiba-tiba pintu masuk ruang tunggu terbuka dengan keras. Dito Mahendra masuk dengan langkah lebar, wajahnya merah padam penuh amarah. Beberapa polisi langsung mengenalinya dan memberi jalan. Sementara itu, Dito langsung menghampiri Dinda. Tanpa berkata apa-apa, tangan kanannya langsung melayang keras. PLAK! Tamparan itu sangat keras hingga Dinda terhuyung dan hampir jatuh dari kursi. Pipinya lang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 65

    Malam hari, Anisa berdiri di balkon kecil rumah kontrakannya, angin malam Kendal yang sejuk menyapu wajahnya. Jihan sudah tertidur pulas di dalam, napasnya teratur di bawah selimut tipis. Dilla pulang sore tadi setelah Widia menjemputnya. Sendirian, Anisa akhirnya bisa bernapas lega setelah hari yang panjang. Ponselnya bergetar. Pesan dari Safak. Safak: Sudah istirahat? Jangan terlalu capek. Besok aku jemput pagi untuk sarapan bareng sebelum ke kantor. Anisa tersenyum kecil, jarinya ragu di layar. Akhir-akhir ini Safak selalu seperti ini—perhatian tanpa memaksa. Tidak seperti dulu saat mereka pacaran di SMK, di mana Safak sering impulsif dan posesif. Sekarang dia berbeda. Lebih dewasa. Lebih sabar. Anisa: Sudah mau tidur. Besok sarapan di kantin biasa saja, jangan yang mewah lagi. Aku serius. Safak: Baik, Nyonya. Aku nurut. Selamat malam ya. Mimpi

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 64

    Anisa keluar dari gedung Tifana Group dengan langkah yang lebih ringan daripada biasanya. Sinar matahari sore menyapa wajahnya, membawa sedikit kehangatan yang sudah lama absen dari hidupnya. Di sampingnya, Safak berjalan dengan tangan di saku celana, sesekali melirik wanita itu dengan senyum yang tak bisa dia sembunyikan. Mereka berdua menuju sebuah kafe kecil di dekat kantor—bukan restoran mewah seperti yang selalu di datangi Safak, tapi tempat sederhana yang Anisa pilih sendiri. "Kamu yakin mau makan di sini saja?" tanya Safak sambil membukakan pintu kafe. Bau kopi dan roti panggang langsung menyambut mereka. Anisa mengangguk tegas. "Iya. Aku sudah bilang, aku tidak mau terbiasa dengan hal yang mahal-mahal. Lagipula, di sini enak kok. Nasi gorengnya terkenal." Mereka duduk di meja pojok dekat jendela. Safak memesan nasi goreng spesial dan es teh manis, sementara Anisa memilih menu yang sama plus

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 63

    Meeting usai dengan cepat. Karyawan Tifana Group keluar ruangan sambil berbisik-bisik. Sementara itu, Anisa masih duduk di kursinya, pikirannya kacau. Safak lalu mendekat pelan. "Nisa, kamu baik-baik saja?" Anisa mengangguk pelan. "Aku... tidak menyangka kamu akan sekeras itu." "Aku hanya melindungimu," jawab Safak lembut. "Mereka sudah cukup menyakitimu. Sekarang giliran aku yang akan berdiri di depanmu." Anisa menatap mata Safak lama. Ada kehangatan di sana yang dulu pernah ia rasakan saat mereka pacaran dulu. Tapi ada luka yang masih terlalu dalam. "Aku butuh waktu, Safak. Jangan terlalu dekat dulu." Safak mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menunggu." --- Sore itu, Anisa pulang lebih awal. Jantungnya masih berdegup kencang setelah kejadian di ruang rapat. Di rumah kontra

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 62

    Ruang rapat yang tadinya tegang kini membeku total. Kata-kata Safak seperti palu hakim yang menghantam meja. Dinda berdiri dengan tubuh gemetar, wajahnya memerah padam campur antara marah dan malu. Tegar di sampingnya hanya bisa mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, tapi tak berani bicara. "Apa maksudmu?!" bentak Dinda, suaranya nyaris pecah. "Kamu tidak bisa seenaknya membatalkan kerjasama begitu saja! Ini sudah tahap final! Ayahku—" Safak mengangkat tangan, memotong ucapannya dengan dingin. "Ayahmu? Memang kenapa dengan Ayahmu? Setiap hari yang bisa kau banggakan hanyalah Ayahmu. Apa tidak ada orang lain selain Ayahmu yang bisa kau banggakan? Oh iya satu kali lagi kuberi tahu... Apa kau pikir, ayahmu dan perusahaan kecil seperti Sapphire Industries punya hak untuk bekerja sama dengan perusahaan ini? Jika bukan karena kami sedang mengajari dan menuntun karyawan-karyawan baru kami untuk maju dan menambah pengalaman, apa kau pikir kalian berdua masih pantas masuk ke perusahaan

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 61

    Pagi itu, langit Kota Kendal masih diselimuti kabut tipis ketika Anisa melangkah keluar dari rumah kontrakan sederhananya. Udara pagi yang sejuk menyapa kulitnya, tapi hatinya terasa berat. Malam sebelumnya ia hampir tidak bisa tidur, pikirannya terus dipenuhi bayangan pertemuan hari ini. Pertemuan dengan perwakilan Sapphire Industries—perusahaan milik keluarga Dinda, tempat Tegar bekerja. Ia tahu, ini bukan sekadar meeting bisnis biasa. Ini akan menjadi ujian pertama baginya di Tifana Group.Jihan masih tertidur nyenyak di gendongan Dilla, pengasuh yang Widia sewa khusus untuknya. Anisa mencium kening bayi mungil itu dengan lembut sebelum menyerahkannya kembali. "Jaga dia baik-baik ya, Dilla. Kalau rewel, langsung telepon aku.""Tenang, Nyonya. Nona Widia juga sudah bilang akan mampir sebentar," jawab Dilla sambil tersenyum.Anisa mengangguk, lalu naik taksi online menuju kantor. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, tangannya tanpa sadar mengelus perut yang dulu pernah m

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 7

    Semua orang terdiam mendengar perkataan Tegar. Namun secara tiba-tiba, salah satu dari ibu-ibu di sana dengan sinis berkata, "Hey Tegar. Anisa istrimu? Lalu apakah kau pernah memperlakukan dia sebagai istri? Kami semua yang ada di sini tau, kau memperlakukan Anisa tidak lebih dari seperti seorang

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 3

    Berbalik, Widia dikejutkan dengan orang yang sangat dikenalnya ada di sana. "Kakak, apa yang kau... Apa? Darahmu Ab negatif? Sial, kenapa tidak terpikirkan olehku, jika satu keluarga kita golongan darahnya Ab negatif? Huh, jika tau begini, aku saja yang mendonorkannya sejak awal. Tidak perlu repot-

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 2

    Dokter itu mengerutkan dahinya dan tidak dapat mengerti dengan yang ada di pikiran Tegar. 'Jelas-jelas istrinya juga sedang dalam kondisi kritis, tapi dia hanya peduli dengan anaknya saja? Memang tidak masalah seseorang terlalu mengkhawatirkan anaknya. Namun seharusnya dia juga menghawatirkan istr

  • ASI Untuk Bayi Miliuner   Bab 1

    Jam dinding di sebuah kamar menunjukkan pukul 10 malam ketika terdengar teriakan, "Nisa! Pergi ke Alfamart depan dan belikan aku mie instan!"Seorang wanita setengah baya, membuka pintu kamar Anisa dan melemparkan uang kertas 5 ribu rupiah. Dia kembali lagi dan melemparkan uang kertas 2 ribu rupia

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status