Hendro mengirim pesan. [Wenny, jawab aku!]Wenny malah tertawa membacanya. Dia pikir dirinya siapa? Bosnya? Kenapa juga dia harus menuruti perintah Hendro?Wenny kembali mengabaikannya.Di kursi kemudi, Eddy tertawa sebelum berucap, "Wenny, walau kamu sudah cerai sama Hendro, kenapa aku merasa hubungan kalian belum benar-benar selesai ya? Jangan-jangan, dia masih ada rasa sama kamu?"Wenny menjawab datar, "Entahlah."Eddy melanjutkan dengan nada menggoda, "Waktu aku rangkul kamu di toko tadi, ekspresi Hendro sudah seperti mau potong tanganku. Jadi pacar pura-pura kamu, ternyata profesi yang penuh risiko."Wenny melirik ke arahnya. "Kalau takut, kamu mundur aja. Aku bisa cari Kak Edwin atau Kak Edgar buat menggantikanmu.""Jangan! Demi adik seperguruan tercintaku, aku bahkan rela masuk neraka!"Keduanya bercanda sambil tertawa sepanjang jalan. Tak lama kemudian, mereka sampai di Universitas Cestana. Wenny pun menuju ke asrama putri. Seperti yang dibilang Yuvi, dia memang belum kembali.
Read more