Sudah lewat seminggu sejak Kai sadar. Luka di tubuhnya mulai menutup, tapi bekas di pikirannya belum. Setiap malam, ia sering terbangun karena mimpi—darah, suara tembakan, dan Elera yang berteriak dari balik kaca operasi.Namun setiap kali ia membuka mata, yang pertama kali ia lihat adalah langit-langit rumah Leon. Aman. Tenang.Untuk saat ini.Pagi itu, Kai duduk di beranda, ditemani secangkir kopi hitam dan Alva yang sibuk menggambar di sebelahnya. Bocah itu sedang membuat peta.Bukan peta dunia, bukan pula peta sekolah. Tapi peta strategi."Ini, Paman Kai," kata Alva, menunjuk coretan spidol merah. "Kalau musuh datang dari sini, kita pasang jebakan di sini. Papa bilang ini taktik pengalihan."Kai terkekeh. "Hm, singa kecil mulai belajar mencakar, ya."Ia menatap peta itu lama, matanya sedikit meredup. “Kalau begini, kamu bakal lebih hebat dari papamu nanti.”Sebelum Alva sempat menjawab, langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Dante muncul, berpakaian rapi, tapi dengan ekspresi ya
Last Updated : 2025-10-23 Read more