Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa tergesa. Matahari masuk malu-malu lewat tirai, seolah tahu rumah ini butuh waktu sebelum dunia kembali menagih.Alfa sudah bangun duluan. Ia duduk di lantai, menyusun bantal dan selimut jadi benteng dadakan. “Papa, ini markas rahasia,” katanya serius.Leon menatap hasil karya itu, lalu berjongkok. “Markas rahasia tapi pintunya kebuka semua?”“Itu strategi,” jawab Alfa cepat. “Biar musuh bingung.”Kai yang baru keluar dari kamar tertawa kecil. “Oke, aku lupa Alfa ada,” gumamnya. “Anak jenius.”Elera muncul dengan salah satu kembar di gendongan. Yang satu lagi merangkak cepat, terlalu cepat, lalu—bruk. Tangis pecah. Kembarnya justru tertawa, keras dan bangga, seolah baru memenangkan sesuatu.“Kenapa yang ini ketawa mulu sih?” Leon mengangkat bayi yang tertawa itu. “Papa tuh jatuh harga dirinya, tau?”Maya datang tepat saat itu, membawa kopi dan komentar. “Tenang. Yang satu empati, yang satu sadis. Seimbang.”Rumah itu kembali penuh suara. Tawa kecil, c
Read more