LOGINPagi itu datang tanpa alarm, tanpa tergesa. Matahari masuk malu-malu lewat tirai, seolah tahu rumah ini butuh waktu sebelum dunia kembali menagih.Alfa sudah bangun duluan. Ia duduk di lantai, menyusun bantal dan selimut jadi benteng dadakan. “Papa, ini markas rahasia,” katanya serius.Leon menatap hasil karya itu, lalu berjongkok. “Markas rahasia tapi pintunya kebuka semua?”“Itu strategi,” jawab Alfa cepat. “Biar musuh bingung.”Kai yang baru keluar dari kamar tertawa kecil. “Oke, aku lupa Alfa ada,” gumamnya. “Anak jenius.”Elera muncul dengan salah satu kembar di gendongan. Yang satu lagi merangkak cepat, terlalu cepat, lalu—bruk. Tangis pecah. Kembarnya justru tertawa, keras dan bangga, seolah baru memenangkan sesuatu.“Kenapa yang ini ketawa mulu sih?” Leon mengangkat bayi yang tertawa itu. “Papa tuh jatuh harga dirinya, tau?”Maya datang tepat saat itu, membawa kopi dan komentar. “Tenang. Yang satu empati, yang satu sadis. Seimbang.”Rumah itu kembali penuh suara. Tawa kecil, c
Pagi itu datang tanpa alarm, tanpa teriakan, tanpa suara sepatu berlarian panik seperti hari-hari lain. Matahari jatuh lembut di balik tirai, seolah dunia sepakat memberi keluarga Santiago jeda—sebentar saja—dari segala kekacauan yang biasanya mengintai.Elera terbangun lebih dulu. Bukan karena jadwal operasi, bukan karena panggilan darurat. Tapi karena suara kecil yang sedang belajar mengenal dunia.Si kembar.Satu merangkak terlalu cepat, terlalu percaya diri, lalu—bruk—jatuh dengan bunyi pelan. Tangis pun pecah. Yang satunya? Bukannya ikut menangis, malah tertawa kecil, puas, seakan baru menemukan hiburan baru bernama “kekacauan”.“Yang satu drama, yang satu komedian,” gumam Elera sambil menggendong yang menangis.Dari balik pintu, Leon muncul dengan rambut acak-acakan, kaus rumah, dan wajah yang jarang orang lihat—wajah papa yang belum sepenuhnya bangun, tapi sudah siap siaga.“Yang mana sekarang?” tanyanya.“Yang ini,” kata Elera. “Yang satunya lagi kayaknya bangga.”Leon terkeke
Malam turun perlahan di mansion Santiago.Anak-anak sudah tidur. Alfa lebih dulu, kelelahan setelah seharian “mengawasi” si kembar. Dua bayi itu terlelap berdampingan, napas mereka kecil dan teratur—ritme yang biasanya menenangkan.Tapi malam ini, tidak.Leon berdiri di balkon kamar, menatap gelap. Elera tidak memaksanya bicara. Ia tahu kapan harus menunggu.Akhirnya Leon menarik kursi dan duduk. Ia menyentuh wajahnya sebentar, seperti orang yang sedang mengumpulkan keberanian.“Namanya Valerio Cruz,” katanya pelan.Elera menoleh. Nama itu jatuh berat.“Dulu,” lanjut Leon, “dia bukan musuh. Dia… keluarga. Bukan sedarah. Tapi lebih dekat dari itu.”Elera duduk di hadapannya, diam, memberi ruang.“Kami membangun jaringan bersama. Dari nol. Kotor. Berdarah. Tapi jujur. Valerio orang yang brilian. Dan kejam.”Leon tertawa kecil tanpa senyum. “Dia percaya kekuasaan harus ditakuti. Aku percaya… harus dijaga.”“Perbedaan visi,” gumam Elera.“Perbedaan batas,” koreksi Leon. “Dia mulai menyent
Leon tidak langsung bertindak.Itu bukan gayanya.Ia duduk tenang di ruang kerja, jas belum dikenakan, kancing kemeja masih terbuka satu. Di hadapannya, data mentah mengalir tanpa henti—pergerakan jaringan, akses rumah sakit non-afiliasi, jejak digital yang sengaja dibuat terlalu rapi.Kai selalu rapi.Tapi tidak pernah berlebihan.Leon menekan satu titik waktu. Dua hari lalu.Nama rumah sakit itu muncul lagi. Kali ini dengan jalur logistik yang seharusnya tidak terhubung ke siapa pun.“Kau menyembunyikan sesuatu,” gumamnya pelan.Bukan tuduhan.Pengakuan.Pintu terbuka tanpa diketuk. Elera masuk dengan ekspresi yang Leon kenal betul—wajah seorang dokter yang mencium bau masalah sebelum hasil lab keluar.“Leon,” katanya. “Kau belum jawab pertanyaanku tadi pagi.”Leon menutup layar. Terlambat. Elera sudah melihat cukup.“Dante tidak di rumah,” lanjut Elera. “Kai juga tidak. Dan instingku bilang ini bukan kebetulan.”Leon berdiri. Mereka kini sejajar—dua orang yang sama-sama terbiasa be
Dante belum sepenuhnya sadar ketika layar kecil di sudut ruang perawatan berkedip pelan.Bukan alarm.Bukan gangguan listrik.Kai mengangkat kepala, napasnya langsung mengeras.Saluran mati.Saluran yang seharusnya sudah terkubur bersama masa lalunya.“Dokter Kai,” suara di seberang terdengar terdistorsi, nyaris sopan.“Kami tahu kau memilih rumah sakit itu.”Jari Kai berhenti di udara. Tidak gemetar. Tidak ragu.“Kami juga tahu,” lanjut suara itu, “kau tidak memberi tahu Leon Santiago. Atau Elera.”Sunyi memanjang.Dante bergerak kecil di ranjang. Monitor berbunyi lirih, seolah ikut menahan napas.“Kenapa?” tanya Kai akhirnya. Suaranya rendah, datar, berbahaya.“Kalian mau apa dariku?”Tawa kecil terdengar. Bukan ejekan. Lebih seperti kepuasan.“Kami cuma ingin memastikan,” suara itu berkata,“bahwa orang yang selalu pasang badan untuk keluarga itu… masih sama.”Kai menatap wajah Dante. Perban menutupi separuh kepalanya. Luka itu tidak akan terlihat oleh siapa pun di rumah Santiago.
Malam turun pelan di mansion Santiago, terlalu pelan sampai terasa mencurigakan.Si kembar terbaring di boks bayi, satu mengoceh tanpa arah, satu lagi sibuk menarik kaus Leon yang sedang duduk di lantai. Alfa membangun benteng dari bantal—kali ini serius, struktur segitiga, “anti serangan monster,” katanya.“Papa, kamu jaga pintu,” perintah Alfa.Leon menurut. Duduk tegak, wajah serius. “Siap. Papa di sini.”Elera berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahu. Lelahnya hari itu belum hilang, tapi melihat pemandangan ini—anak-anak, Leon yang rela jadi penjaga benteng—ada hangat yang menambal retakan kecil di dadanya.Kai memperhatikan dari kejauhan.Ia selalu begitu. Tidak masuk ke tengah lingkaran, tapi memastikan lingkaran itu aman.Dante muncul membawa dua gelas kopi. Menyodorkan satu ke Kai. “Kamu tahu nggak,” katanya pelan, “orang normal kalau bahagia tuh santai.”Kai menyesap. “Aku nggak daftar jadi orang normal.”“Ketahuan.”Mereka saling pandang. Ada humor di situ, tapi juga kelel







