Adit dan Larasati bangun hampir bersamaan, tubuh mereka masih saling berpelukan, enggan untuk berpisah meski sudah saatnya memulai hari."Mandi yuk..." bisik Larasati, mengecup pipi Adit dengan lembut."Bareng?" tanya Adit spontan, lalu langsung menutup mulutnya, wajahnya memerah. "Eh, maksudku... itu..."Larasati tertawa kecil, matanya berbinar nakal. "Iya, bareng. Memang kenapa?"Adit terdiam, jantungnya berdegup kencang. Setelah pengalaman semalam, pengalaman spiritual yang luar biasa itu, entah kenapa batas-batas di antara mereka terasa semakin tipis. Seperti tidak ada lagi yang perlu disembunyikan, tidak ada lagi yang tabu."Oke..." katanya akhirnya, suaranya pelan.Mereka masuk ke kamar mandi bersama-sama. Air mengalir dari shower.. Mereka berdiri di bawah pancuran air. Tubuh mereka basah, rambut mereka basah, jarak di antara mereka hanya sejengkal.Adit mati-matian menahan diri. Matanya tidak berani menatap langsung; ia menatap ubin dinding, menatap langit-langit, menatap ke ma
Dernière mise à jour : 2025-12-10 Read More