LOGIN"Sial..." gumam Vera lirih.Vera mencoba menutupi telinganya dengan bantal, namun imajinasinya justru bekerja lebih liar. Ia bisa membayangkan bagaimana tubuh Adit yang kokoh itu bergerak, bagaimana Adit memperlakukan Renata di sana. Pikiran-pikiran itu mengirimkan gelombang panas yang tidak diinginkan ke sekujur tubuhnya.Vera merasakan napasnya mulai memberat. Ada sensasi panas-dingin yang menjalar dari ujung kakinya hingga ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, selaras dengan irama hantaman yang terdengar dari balik dinding. Secara tidak sadar, kedua paha Vera merapat, bergesekan karena rasa "haus" yang tiba-tiba muncul akibat provokasi suara dari kamar sebelah.Vera mengerang frustrasi dalam diam. Ia merasa bersalah karena ikut terangsang oleh aktivitas temannya sendiri, namun insting biologisnya tidak bisa berbohong. Bagian intimnya mulai berdenyut, bereaksi pada energi maskulin yang seolah-olah terpancar menembus tembok dari sosok Adit.Renata sudah kehilangan hitungan berapa
Suasana kamar itu semakin berat oleh uap gairah. Renata, dengan keanggunan seorang bos yang telah memenangkan taruhannya, perlahan membimbing Adit untuk tetap terlentang. Ia tidak terburu-buru. Baginya, momen semacam ini adalah selalu merupakan perayaan atas kekuasaannya.Dan ia menikmati hal itu meski ia tahu, Adit berbeda. Adit bukan lelaki-lelaki penghibur yang pernah ia sewa.Bahkan, sejak ia dan Adit bercinta waktu itu, bagi Renata, kenikmatan sejati baru bisa ia dapatkan jika ia bercinta dengan Adit. Dan seolah, jika tak ada Adit, ia tak bergairah sama sekali. Sebaliknya, begitu ia dekat dengan Adit, gairanya meluap-luap. Malam ini pun, sesungguhnya, Renata sudah tidak tahan lagi. Dan ia tak peduli dengan apapun. Ia hanya ingin memiliki Adit di ranjang.Kini semua telah ia dapatkan.Adit merasakan aliran energi di ujung jemarinya mulai berdenyut, sebuah insting purba ingin meledak dan menaklukkan wanita di atasnya dalam sekejap. Namun, Adit menahannya. Ia menarik napas panjang,
Renata tertawa kecil menatap Adit.“Malah bengong…”“Eh… iya, silakan masuk, kak Ren…” kata Adit.Renata masuk, lalu ia sendiri yang menutup pintu, menguncinya.Adit kembali menelan ludah.Renata berbalik, menatap Adit, tersenyum menggoda.“Aku mau cek sesuatu… itumu… masih berfungsi dengan baik kan…”Adit terpaku di tempatnya berdiri. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa dua langkah, namun aroma parfum lembut dan wangi yang menguar dari tubuh Renata terasa begitu nyata merasuk ke indranya."Kak… Kak Ren…?" suara Adit terdengar parau, tenggorokannya mendadak kering.Renata tidak langsung menjawab. Dia melangkah perlahan mendekati Adit, setiap gerakannya membuat kain sutra tipis itu bergesekan halus, menciptakan suara desiran yang memekakkan telinga di dalam kamar yang sunyi itu.Dia berhenti tepat di depan Adit. Jemari lenturnya yang dingin menyentuh dada Adit, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang.Matanya mendongak, menatap langsung ke dalam ma
Taman Belakang Rumah Renata - Pukul 21:30 MalamAdit berjalan keluar dari rumah melalui pintu belakang, menuju taman yang luas dan tenang dengan lampu taman yang redup yang menciptakan suasana yang damai.Dia duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam koi, menatap ikan-ikan yang berenang dengan santai di bawah cahaya lampu bawah air yang lembut.Malam di taman itu terasa sangat tenang; berbeda sekali dengan hiruk-pikuk yang terjadi di luar sana. Di televisi, di media sosial, di jalanan, semua orang membicarakan video terbaru yang viral, membicarakan penangkapan Haryanto, membicarakan skandal kepolisian.Tapi di situ, di taman itu, hanya ada suara air kolam yang mengalir pelan, suara jangkrik yang bersahutan, dan angin malam yang menyejukkan.Adit mengambil ponselnya; menatap layar sebentar.Laras.Sudah hampir seminggu mereka tidak berbicara. Terakhir kali Laras mengirim pesan adalah tiga hari lalu; bilang dia masih sakit dan harus istirahat total.Adit merindukan suaranya.Dia men
Demonstrasi terus berlanjut dengan intensitas yang tidak berkurang. Ribuan orang memenuhi jalan depan mabes, membawa poster, spanduk, megaphone, bahkan ada yang membawa tenda untuk berkemah karena tidak mau pulang sampai ada keadilan.Tapi ada frustrasi yang mulai terasa di antara massa.Seorang koordinator demonstrasi, pemuda dengan kaos #TeamAdit, berdiri di atas panggung darurat sambil berbicara lewat megaphone dengan suara yang mulai serak."Kita sudah tiga hari di sini! Kita sudah tunjukkan video pengakuan yang jelas! Tapi polisi bilang itu fitnah! Mereka bilang tidak ada bukti! MEREKA BOHONG!"Massa berteriak setuju; tapi ada nada kelelahan di sana.Seorang ibu-ibu yang sudah berdiri sejak pagi berteriak dengan frustasi. "Tapi gimana kita buktiin?! Ketiga orang yang ngaku itu hilang! Polisi pasti sembunyiin mereka!"Koordinator menjawab dengan keras. "KITA TERUS DESAK! KITA TIDAK BOLEH MENYERAH!"Tapi kenyataannya, tanpa bukti fisik atau saksi hidup, tuntutan mereka mulai kehila
Mabes Polri - Ruang Sidang Tertutup - Pukul 22:00 Malam yang SamaDi sebuah ruang rapat besar di lantai atas Mabes Polri, dengan pintu yang dijaga ketat oleh beberapa petugas bersenjata, sedang berlangsung sidang etik khusus yang sangat rahasia.Di meja panjang, duduk lima orang petinggi kepolisian dengan pangkat Jenderal. Di ujung meja, duduk Komisaris Besar Haryanto dengan wajah yang tegang tapi berusaha terlihat tenang.Kapolri, Jenderal Bintara Wijaya, duduk di tengah dengan wajah yang sangat serius. Di kiri kanannya, ada Wakapolri, Kabareskrim, Kabaintelkam, dan Kadiv Propam."Komisaris Besar Haryanto," kata Kapolri dengan nada yang dingin. "Anda dipanggil di sini untuk memberikan klarifikasi terkait tuduhan yang beredar di masyarakat. Video pengakuan tiga pelaku kecelakaan Adit Nugroho yang menyebut nama Anda sebagai dalang."Haryanto duduk tegap, menatap Kapolri dengan pandangan yang tidak berkedip."Pak Kapolri, saya berumpah, saya tidak melakukan kejahatan apapun. Saya merasa
Bel berbunyi untuk kedua kalinya malam itu, menandakan dimulainya pertarungan yang bahkan lebih menegangkan dari sebelumnya. Adit masih merasakan kelelahan dari pertarungan melawan Vikram, tapi matanya tidak lepas dari Li Mei yang berdiri di hadapannya dengan ketenangan yang menakutkan.Li Mei meng
Setelah memastikan rumahnya terkunci dengan baik, Adit dan Larasati berjalan menuju mobil yang terparkir di depan rumah."Nih," kata Larasati sambil menyodorkan kunci mobilnya kepada Adit. "Kamu yang nyetir ya."Adit menatap kunci di tangannya dengan sedikit ragu."Nggak apa-apa. Aku percaya sama k
Adit merasakan seluruh pertahanannya runtuh. Tubuh Dinda yang hangat di atas pahanya, aroma parfumnya yang memabukkan, dan tatapan matanya yang penuh kerinduan—semuanya membuat akal sehatnya seakan menguap begitu saja."Nona..." bisiknya dengan suara serak, namun kali ini bukan untuk menolak, melai
Dinda bergegas mendekati Adit, matanya memeriksa luka-luka di wajah pemuda itu dengan perhatian yang sangat detail. Tangannya hampir menyentuh lebam di pipi Adit, tapi ia menahan diri di detik terakhir."Kamu sakit? Di mana sakitnya? Perlu ke rumah sakit tidak?" tanyanya bertubi-tubi dengan nada ce







