Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Memulai Ritual Lagi

Share

Memulai Ritual Lagi

Author: Black Jack
last update publish date: 2025-12-07 20:49:02

Keheningan menyelimuti kuil kuno itu. Hanya bunyi angin yang berhembus lembut, membawa aroma yang aneh, seperti kemenyan, seperti bunga, seperti sesuatu yang suci namun juga sensual, seperti halnya tempat itu sendiri.

Adit dan Larasati berdiri berhadapan, tangan mereka masih bertautan. Jarak di antara mereka hanya sejengkal, tapi terasa seperti jurang yang lebar; jurang yang harus mereka lompati bersama-sama.

"Dari mana kita mulai?" tanya Adit, suaranya serak, gemetar.

Larasati menatap sekelili
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Konser Yang Membuat Vera Gagal Tidur

    "Sial..." gumam Vera lirih.Vera mencoba menutupi telinganya dengan bantal, namun imajinasinya justru bekerja lebih liar. Ia bisa membayangkan bagaimana tubuh Adit yang kokoh itu bergerak, bagaimana Adit memperlakukan Renata di sana. Pikiran-pikiran itu mengirimkan gelombang panas yang tidak diinginkan ke sekujur tubuhnya.Vera merasakan napasnya mulai memberat. Ada sensasi panas-dingin yang menjalar dari ujung kakinya hingga ke dadanya. Jantungnya berdegup kencang, selaras dengan irama hantaman yang terdengar dari balik dinding. Secara tidak sadar, kedua paha Vera merapat, bergesekan karena rasa "haus" yang tiba-tiba muncul akibat provokasi suara dari kamar sebelah.Vera mengerang frustrasi dalam diam. Ia merasa bersalah karena ikut terangsang oleh aktivitas temannya sendiri, namun insting biologisnya tidak bisa berbohong. Bagian intimnya mulai berdenyut, bereaksi pada energi maskulin yang seolah-olah terpancar menembus tembok dari sosok Adit.Renata sudah kehilangan hitungan berapa

  • Tukang Pijat Tampan   Vera Mendengar

    Suasana kamar itu semakin berat oleh uap gairah. Renata, dengan keanggunan seorang bos yang telah memenangkan taruhannya, perlahan membimbing Adit untuk tetap terlentang. Ia tidak terburu-buru. Baginya, momen semacam ini adalah selalu merupakan perayaan atas kekuasaannya.Dan ia menikmati hal itu meski ia tahu, Adit berbeda. Adit bukan lelaki-lelaki penghibur yang pernah ia sewa.Bahkan, sejak ia dan Adit bercinta waktu itu, bagi Renata, kenikmatan sejati baru bisa ia dapatkan jika ia bercinta dengan Adit. Dan seolah, jika tak ada Adit, ia tak bergairah sama sekali. Sebaliknya, begitu ia dekat dengan Adit, gairanya meluap-luap. Malam ini pun, sesungguhnya, Renata sudah tidak tahan lagi. Dan ia tak peduli dengan apapun. Ia hanya ingin memiliki Adit di ranjang.Kini semua telah ia dapatkan.Adit merasakan aliran energi di ujung jemarinya mulai berdenyut, sebuah insting purba ingin meledak dan menaklukkan wanita di atasnya dalam sekejap. Namun, Adit menahannya. Ia menarik napas panjang,

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Berulah

    Renata tertawa kecil menatap Adit.“Malah bengong…”“Eh… iya, silakan masuk, kak Ren…” kata Adit.Renata masuk, lalu ia sendiri yang menutup pintu, menguncinya.Adit kembali menelan ludah.Renata berbalik, menatap Adit, tersenyum menggoda.“Aku mau cek sesuatu… itumu… masih berfungsi dengan baik kan…”Adit terpaku di tempatnya berdiri. Jarak di antara mereka kini hanya tersisa dua langkah, namun aroma parfum lembut dan wangi yang menguar dari tubuh Renata terasa begitu nyata merasuk ke indranya."Kak… Kak Ren…?" suara Adit terdengar parau, tenggorokannya mendadak kering.Renata tidak langsung menjawab. Dia melangkah perlahan mendekati Adit, setiap gerakannya membuat kain sutra tipis itu bergesekan halus, menciptakan suara desiran yang memekakkan telinga di dalam kamar yang sunyi itu.Dia berhenti tepat di depan Adit. Jemari lenturnya yang dingin menyentuh dada Adit, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang seperti genderang perang.Matanya mendongak, menatap langsung ke dalam ma

  • Tukang Pijat Tampan   Telfon Kangen Dan Pengkhianatan Lagi

    Taman Belakang Rumah Renata - Pukul 21:30 MalamAdit berjalan keluar dari rumah melalui pintu belakang, menuju taman yang luas dan tenang dengan lampu taman yang redup yang menciptakan suasana yang damai.Dia duduk di bangku taman yang menghadap ke kolam koi, menatap ikan-ikan yang berenang dengan santai di bawah cahaya lampu bawah air yang lembut.Malam di taman itu terasa sangat tenang; berbeda sekali dengan hiruk-pikuk yang terjadi di luar sana. Di televisi, di media sosial, di jalanan, semua orang membicarakan video terbaru yang viral, membicarakan penangkapan Haryanto, membicarakan skandal kepolisian.Tapi di situ, di taman itu, hanya ada suara air kolam yang mengalir pelan, suara jangkrik yang bersahutan, dan angin malam yang menyejukkan.Adit mengambil ponselnya; menatap layar sebentar.Laras.Sudah hampir seminggu mereka tidak berbicara. Terakhir kali Laras mengirim pesan adalah tiga hari lalu; bilang dia masih sakit dan harus istirahat total.Adit merindukan suaranya.Dia men

  • Tukang Pijat Tampan   Bukti Terbaru Diluncurkan

    Demonstrasi terus berlanjut dengan intensitas yang tidak berkurang. Ribuan orang memenuhi jalan depan mabes, membawa poster, spanduk, megaphone, bahkan ada yang membawa tenda untuk berkemah karena tidak mau pulang sampai ada keadilan.Tapi ada frustrasi yang mulai terasa di antara massa.Seorang koordinator demonstrasi, pemuda dengan kaos #TeamAdit, berdiri di atas panggung darurat sambil berbicara lewat megaphone dengan suara yang mulai serak."Kita sudah tiga hari di sini! Kita sudah tunjukkan video pengakuan yang jelas! Tapi polisi bilang itu fitnah! Mereka bilang tidak ada bukti! MEREKA BOHONG!"Massa berteriak setuju; tapi ada nada kelelahan di sana.Seorang ibu-ibu yang sudah berdiri sejak pagi berteriak dengan frustasi. "Tapi gimana kita buktiin?! Ketiga orang yang ngaku itu hilang! Polisi pasti sembunyiin mereka!"Koordinator menjawab dengan keras. "KITA TERUS DESAK! KITA TIDAK BOLEH MENYERAH!"Tapi kenyataannya, tanpa bukti fisik atau saksi hidup, tuntutan mereka mulai kehila

  • Tukang Pijat Tampan   Konferensi Pers Kapolri

    Mabes Polri - Ruang Sidang Tertutup - Pukul 22:00 Malam yang SamaDi sebuah ruang rapat besar di lantai atas Mabes Polri, dengan pintu yang dijaga ketat oleh beberapa petugas bersenjata, sedang berlangsung sidang etik khusus yang sangat rahasia.Di meja panjang, duduk lima orang petinggi kepolisian dengan pangkat Jenderal. Di ujung meja, duduk Komisaris Besar Haryanto dengan wajah yang tegang tapi berusaha terlihat tenang.Kapolri, Jenderal Bintara Wijaya, duduk di tengah dengan wajah yang sangat serius. Di kiri kanannya, ada Wakapolri, Kabareskrim, Kabaintelkam, dan Kadiv Propam."Komisaris Besar Haryanto," kata Kapolri dengan nada yang dingin. "Anda dipanggil di sini untuk memberikan klarifikasi terkait tuduhan yang beredar di masyarakat. Video pengakuan tiga pelaku kecelakaan Adit Nugroho yang menyebut nama Anda sebagai dalang."Haryanto duduk tegap, menatap Kapolri dengan pandangan yang tidak berkedip."Pak Kapolri, saya berumpah, saya tidak melakukan kejahatan apapun. Saya merasa

  • Tukang Pijat Tampan   Mau Diapakan?

    “M-mau pijit di sini kak Ren?” tanya Adit dengan ekspresi heran.“Hahaha! Kamu anggap aku serius? Ini bahkan masih sore. Aku tidak mau tepar setelah kamu pijit. Nanti malam saja. Kita akan ada urusan nanti. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat setelah makan malam. Hmm, ya sudah kita siap-siap saja d

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Tukang Pijat Tampan   Dua Orang Asing Datang

    Larasati menutup matanya sejenak, mencoba memperdalam konsentrasinya. Ia bisa merasakan getaran energi yang semakin mendekat, seperti gelombang yang merambat melalui tanah di bawah kaki mereka."Dua orang," gumamnya pelan. "Seorang laki-laki dan perempuan. Mereka... berbeda. Energi mereka terasa di

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Tukang Pijat Tampan   Kembali Bekerja

    Matahari mulai tenggelam ketika Adit menghentikan mobil Laras di depan rumahnya. Sedari tadi, ponsel Adit sering berbunyi. Namun ia tak mengangkatnya; dan ia tahu, yang menelefon adalah Renata.Larasati pun juga mengetahui jika ponsel Adit berbunyi. Saat Laras bertanya, Adit menjelaskan; bahwa ia s

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Tukang Pijat Tampan   Penyesalan?

    Adit menatap wajah Renata dalam keremangan kamar. Matahari belum terbit, hanya sedikit cahaya dari luar yang menembus sela-sela tirai. Dalam temaram itu, mata Renata berkilau dengan hasrat yang tak bisa disalahartikan."Kita tidak seharusnya..." Adit mencoba protes, tapi suaranya terdengar lemah ba

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status