LOGINAura kematian yang ditinggalkan oleh dua puluh mayat prajurit elit di tengah lapangan masih terasa tak menyenangkan.Evan, yang beberapa menit lalu masih menyunggingkan senyum meremehkan, kini berdiri mematung dengan rahang mengeras. Di sebelahnya, Susi memalingkan wajah, tidak mampu menahan kengerian dari pemandangan pembantaian tak sampai tiga menit itu."Ini... ini tidak mungkin," bisik Evan, suaranya bergetar antara murka dan tidak percaya. "Mereka adalah prajurit Protokol Tabula Rasa! Bagaimana bisa satu orang menghancurkan mereka semua seperti mematahkan ranting kering?!"Berbeda dengan Evan, Dokter Kenzi justru melangkah maju hingga wajahnya hampir menyentuh kaca transparan podium. Matanya yang keriput melebar, memancarkan kepuasan yang mendekati kegilaan. Rasa takutnya kalah telak oleh ego ilmiahnya yang membubung tinggi."Luar biasa... Sempurna!" Kenzi tertawa melengking, menepuk kaca di depannya. "Kalian lihat itu?! Itu bukan sekadar refleks mekanis! Otak kuantumnya berhasil
Di tengah lapangan, Adit sudah berdiri tegak. Ia mengenakan seragam taktis hitam tanpa atribut. Di sekelilingnya, sebanyak seratus prajurit khusus sekte membentuk sebuah barisan dengan sangat ra[I dan teraturDokter Kenzi menggunakan mikrofon dari podium. "Roni! Berjalanlah ke tengah lingkaran!"Adit melangkah maju secara kaku, berhenti tepat di titik merah di tengah lapangan."Sore ini, kita akan menguji kalkulasi refleks dan kemampuan adaptasi tempur maksimalku," seru Kenzi. "Dua puluh prajurit baris depan, maju! Lumpuhkan Roni!"Dua puluh prajurit khusus bersenjata tongkat taktis baja langsung keluar dari barisan. Mereka menyebar, membentuk formasi lingkaran yang rapat, mengunci Adit dari segala penjuru. Tatapan mata mereka kosong, namun gerakan tubuh mereka menunjukkan bahwa mereka adalah mesin pembunuh yang efisien.Di atas podium, Evan melipat tangan di dada dengan senyum meremehkan. "Dua puluh orang sekaligus tanpa senjata tajam? Dokter, apa kamu tidak takut mainan barumu ini h
"Masuklah ke dalam hutan itu, Roni," perintah Dokter Kenzi. "Jajahi setiap sudutnya. Pahami tubuhmu, sinkronisasikan memorimu dengan alam. Dan ingat, kamu harus kembali ke laboratorium sebelum jam makan siang pada pukul dua belas tepat. Apakah perintah ini dimengerti?"Adit menjeda selama dua detik, mempertahankan akting datarnya. "Perintah diterima, Dokter. Kembali sebelum pukul dua belas."Tanpa membuang waktu, Adit membalikkan tubuh dan melangkah konstan memasuki kelebatan vegetasi. Begitu bayangan pohon-pohon raksasa menyembunyikannya dari pandangan langsung Dokter Kenzi, barulah Adit mengizinkan sepasang matanya bergerak liar, menguliti lanskap di sekitarnya.Lagi-lagi, ia dibuat bergidik oleh isi kepalanya sendiri. Otaknya yang telah dipercanggih oleh komputer kuantum bekerja seperti mesin pemindai super cepat.Sreeek...Sebuah gesekan daun kering di atas tanah lateral kanan menarik perhatiannya. Seekor ular piton besar sedang melata di antara akar-akar pohon yang menonjol. Meli
Dua hari pasca-aktivasi itu adalah masa uji coba yang membosankan sekaligus berbahaya bagi Adit. Selama empat puluh delapan jam terakhir, dinding laboratorium yang putih bersih dan bau antiseptik yang pekat menjadi seluruh dunianya. Di ruangan tertutup itu, ia hanya berinteraksi dengan satu manusia: Dokter Kenzi. Zhavia, Evan, maupun Susi belum menampakkan batang hidung mereka demi memberikan sang dokter ruang privat untuk menguji kelayakan 'mahakarya' barunya.Selama dua hari itu pula, Adit dipaksa menjalani serangkaian tes refleks, respons kognitif, dan simulasi taktis. Dokter Kenzi sungguh-sungguh memastikan apakah "Roni" berada di bawah kendali mutlaknya atau tidak.Bagi Adit, mempertahankan sandiwara ini adalah siksaan mental yang luar biasa membosankan. Ia harus menekan seluruh ekspresi alaminya, mengunci emosinya di balik topeng es, dan bertingkah seperti robot organik yang dingin. Ia hanya akan berbicara dengan suara yang datar jika diajak berinteraksi, mematuhi setiap instruk
Mesin-mesin hidrolik berdesis konstan, mengiringi denyut lampu indikator yang berkedip di dalam laboratorium Sekte Kegelapan. Untuk kesekian kalinya, tubuh fisik Adit dipaksa terlelap. Namun, tidur kali ini bukan sekadar istirahat biologis; otaknya telah diubah menjadi sebuah hard drive organik yang sedang dipaksa menelan data dalam skala masif.Helm logam berserat karbon kembali mengunci kepalanya, mengalirkan ribuan kilobita data per detik melalui impuls listrik frekuensi rendah. Pengetahuan militer, taktik infiltrasi, peta geopolitik global, sandi-sandi rahasia, hingga kefasihan belasan bahasa asing dipompakan tanpa henti ke dalam korteks serebralnya. Identitas lamanya sebagai seorang megabintang dikubur dalam-dalam di bawah lapisan data baru. Kini, di dalam sistem komputer Sekte Kegelapan, ia memiliki nama baru: Roni.Dua minggu adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan instalasi kognitif total tersebut. Bagi manusia biasa, banjir informasi sebesar itu akan menghanguskan ja
Bzzzzzt... klak!Helm logam berserat karbon di atas kepala Adit terangkat secara otomatis dengan suara mendesis. Lampu neon biru sian di dalam ruang sterilisasi nomor nol kembali berganti menjadi cahaya putih terang yang menyengat mata.Adit merasakan kelopak matanya terasa sangat berat, seperti direkatkan oleh cairan pekat. Ketika ia akhirnya berhasil membuka mata, hal pertama yang menyambutnya adalah bau menyengat dari cairan antiseptik, ozon, dan kilatan lampu yang membuat kepalanya berdenyut hebat.Di sekeliling ranjang logamnya, beberapa sosok berdiri mengitari bagai burung hering yang mengawasi mangsa.Dokter Kenzi berdiri paling dekat, memegang sebuah tablet digital dengan senyum puas yang tersungging di bibirnya. Di sampingnya, Zhavia melipat tangan di dada dengan tatapan sedingin es. Di belakang mereka, tampak Evan dan Susi, serta beberapa orang berjubah hitam yang mengamati indikator biometrik pada layar monitor.Dokter Kenzi menekan tombol pada instrumen di dekat ranjang, m







