Home / Urban / Tukang Pijat Tampan / Renata Benar-Benar Racun

Share

Renata Benar-Benar Racun

Author: Black Jack
last update publish date: 2026-03-28 15:37:39

Kini, Vera benar-benar menjadi penonton.

Ia meringkuk di atas ranjangnya, memeluk handuknya erat-erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak jatuh ke dalam kegilaan. Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat bagaimana kulit Renata yang berkilau karena minyak tertimpa cahaya lilin yang bergoyang.

Pemandangan itu tidak lagi terlihat seperti pijat kesehatan. Empat tangan pria itu bergerak dengan ritme yang begitu lincah dan mahir; satu di bahu, satu di pinggang, dan yang lainn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tukang Pijat Tampan   Di Kamar Vera

    Adit tidak bisa tenang. Rasa penasaran itu seperti duri yang tersangkut di tenggorokannya. Ia sungguh ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi."Nggak ada apa-apa, Dit. Kak Renata cuma... ya kamu tahu sendiri dia sedang suka bercanda yang keterlaluan," ucap Vera tanpa menoleh."Bercanda?" Adit melangkah mendekat, memaksanya untuk berhadapan. "Tadi dia bilang kamu 'terkejut dengan hal-hal baru'. Ver, jujur sama aku... tadi siang di spa, apa yang sebenarnya terjadi? Apa Kak Renata melakukan sesuatu padamu? Ya, dia itu memang kadang keterlaluan dan... suka jadi racun."Vera mematung. Bayangan tangan-tangan terapis pria di bawah perintah tatapan Renata kembali melintas di benaknya. Aroma minyak esensial dan tawa rendah Renata seolah masih terngiang di telinganya, membuatnya merasa gerah seketika."Dia... dia cuma ingin aku relaks," jawab Vera terbata-bata."Relaks sampai kamu menyembunyikannya begitu? Ver, aku kenal Kak Renata..." Adit memegang bahu Vera, suaranya merendah penuh selidik. "A

  • Tukang Pijat Tampan   Vera Masih Perawan Atau Tidak?

    Suasana ruang makan yang tegang itu pecah saat Renata menyandarkan punggungnya, menyesap sisa air putih di gelasnya dengan gerakan yang sangat tenang. Ia melirik Adit, lalu beralih ke Vera yang masih menunduk, seolah-olah sedang menghitung butiran nasi di piringnya."Adit, ikut aku ke belakang sebentar. Ada yang mau aku tunjukkan," ucap Renata datar, namun nada bicaranya tidak menerima penolakan.Vera hanya bisa menelan ludah saat melihat keduanya beranjak. Ia merasa seperti ditinggalkan di tengah medan perang yang baru saja diledakkan.Di teras belakang yang menghadap kolam renang dengan pencahayaan temaram, Renata menyalakan sebatang rokok unik yang tak dijual di toko. Renata sangat jarang sekali merokok. Dulu iya. Tapi belakangan hanya sesekali saja dan itu pun saat ia sedang sendirian.Rokoknya kali ini adalah rokok pemberian dari rekan bisnisnya. Rokok entahlah yang aromanya membuat orang di sekitarnya pun merasa nyaman, meski jika dia adalah seorang yang anti asap rokok.Aroma t

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Bongkar Sedikit Rahasia

    Pukul enam sore, Mercedes-Benz hitam milik Renata membelah senja yang mulai temaram, bannya menggilas kerikil pelataran rumah dengan suara yang mantap. Begitu mesin mati, Renata turun dengan keanggunan seorang pemangsa. Tidak ada sisa kelelahan di wajahnya setelah pertemuan bisnis dengan beberapa orang; yang ada hanyalah aura dominasi yang kental.Ia melangkah masuk ke dalam rumah, melewati ruang tengah, meninggalkan aroma parfum oud yang kuat dan mahal yang tertinggal di udara saat ia menaiki tangga menuju kamarnya di lantai atas.Di dalam kamarnya yang luas, Renata melepas pakaian formalnya satu per satu. Ia berdiri di depan cermin besar, menatap tubuhnya yang masih tampak kencang dan penuh kuasa. Pikirannya melayang kembali ke ruang spa tadi siang. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat membayangkan betapa gemetarnya Vera saat melihatnya menikmati sentuhan para terapis.Baginya, melihat Vera kehilangan kendali diri adalah sebuah hiburan yang jauh lebih menarik daripada sekadar k

  • Tukang Pijat Tampan   Mengalihkan Pembicaraan

    Keheningan di kamar itu terasa menekan, seolah oksigen mendadak menipis. Keduanya saling menatap dengan isi kepala yang saling bertolak belakang. Di mata Adit, Vera tampak seperti teka-teki yang baru saja diacak-acak; ada kegelisahan yang tidak biasa di balik sorot matanya. Sedangkan bagi Vera, dunia seolah sedang berputar miring. Pikirannya terdistorsi oleh sisa-sisa hal tabu yang baru saja ia lakukan, yang kini melekat di kepalanya seperti kabut tebal yang enggan menyingkir.“Kamu benar-benar sehat, Ver?” Adit kembali bertanya, suaranya merendah, penuh selidik yang lembut.Vera menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “E-iya... sehat.”“Oh… ya sudah kalau begitu. Tapi kenapa wajahmu merah sekali?” Adit berdiri dari pinggir ranjang, melangkah satu tapak lebih dekat. “Dan tadi… aku dengar… kamu… maksudku, kamu baik-baik saja kan di dalam?”Pertanyaan itu menghantam Vera lebih keras daripada bogem mentah di ring. Rasa malu merayap naik, membakar telinganya. Sungguh ironis. Di dunia

  • Tukang Pijat Tampan   Menuntaskan Sendiri

    Mobil mewah itu berhenti di pelataran rumah megah milik Renata sekitar pukul tiga sore. Matahari masih terik, namun di dalam kepala Vera, semuanya terasa mendung dan kalut."Aku harus pergi lagi, Ver. Ada urusan bisnis mendadak yang harus kuselesaikan dengan Bayu," ujar Renata sambil memeriksa ponselnya. Dan dia tidak menunjukkan keletihan sedikit pun setelah sesi panas tadi siang. "Istirahatlah. Dan saranku, karena statusmu adalah pacar Adit, coba kau lakukan sesuatu dengannya…” ucap Renata.Vera tahu ucapan itu memiliki pengertian yang tersirat. Dengan kata lain; tadi ia tak mau dipuaskan oleh terapis di spa. Jadi kini, ada Adit yang bisa ia mintai bantuan.Tapi vera mengusir pemikiran itu jauh-jauh. Ia tak mau. Ia terlalu malu untuk mengatakan hal semacam itu.“Aku pergi dulu kalau begitu…” kata Renata.Vera mengangguk kaku, lalu turun dari mobil. Suara deru mesin mobil Renata yang menjauh meninggalkan halaman rumah itu.Dengan langkah ragu, Vera melangkah masuk ke ruang tengah yan

  • Tukang Pijat Tampan   Renata Benar-Benar Racun

    Kini, Vera benar-benar menjadi penonton.Ia meringkuk di atas ranjangnya, memeluk handuknya erat-erat seolah itu adalah satu-satunya hal yang menjaganya agar tidak jatuh ke dalam kegilaan. Dari jarak sedekat itu, ia bisa melihat bagaimana kulit Renata yang berkilau karena minyak tertimpa cahaya lilin yang bergoyang.Pemandangan itu tidak lagi terlihat seperti pijat kesehatan. Empat tangan pria itu bergerak dengan ritme yang begitu lincah dan mahir; satu di bahu, satu di pinggang, dan yang lainnya mengeksplorasi area sensitif di kaki, di perut dan juga bagian aset penting Renata. Vera bisa mendengar suara plok-plok kecil dari minyak yang ditepuk ke kulit, suara napas Andi dan Rafi yang mulai memburu karena kerja fisik yang intens, dan yang paling menghantui: suara Renata."Mmm... ya, di situ... jangan berhenti," rintih Renata. Matanya terpejam rapat, wajahnya mendongak ke atas dengan ekspresi yang sangat jujur antara rasa sakit yang nikmat dan kelegaan yang seolah memang sungguh sangat

  • Tukang Pijat Tampan   Tak Terhindarkan Lagi

    Adit tak bisa mengelak lagi. Ia tahu, Dinda adalah badai yang tak bisa ditahan, kemauan kerasnya tak mungkin dibantah. Satu-satunya jalan keluar tercepat dari ketegangan ini hanyalah menuruti hasrat Dinda.“Kak, jangan sampai ada suara… plis…” bisik Adit, suaranya tercekat dan penuh kecemasan. Mata

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Tukang Pijat Tampan   Tak Bisa Membujuk Adit

    Adit merasakan amarah mulai memuncak di dadanya, seperti api yang menjalar perlahan namun pasti. Ia pun juga tak suka diintimidasi; apalagi oleh orang-orang seperti mereka yang bersembunyi di balik seragam dan lencana. Dan ia tak mau ditekan, tak suka melihat ketidakadilan. Ia selalu membenci penin

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Tukang Pijat Tampan   Lawan Tidak Terima

    Sementara itu, di tempat lain, Vera, wanita yang dikalahkan oleh Adit dengan cara yang ‘nikmat’ itu, kini sedang mengalami frustasi. Ia ingin bertemu lagi dengan Adit. Bertarung. Tapi di saat yang sama, ia juga sangat penasaran; apa yang membuat ia mendapatkan kenikmatan aneh yang selama ini belum

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Tukang Pijat Tampan   Adit Memimpin

    Setelah beberapa kali mengusap punggung Siska dengan sabun, Adit tak bisa lagi hanya seperti itu saja. Tangan ajaibnya mulai beraksi. Siska terkejut. Tubuhnya gemetar dan desahan kecil lolos begitu saja.“A-adit… eghh…”Siska hampir saja oleng. Tap Adit segera menahannya dengan memeluknya. “Kak Sis

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status