Di mobil, Kaivan duduk diam cukup lama. Mesin belum dinyalakan. Matanya menatap setir, tapi pikirannya jauh ke belakang. Meski ia belum siap menghadapi pertanyaan Alya, ia harus pulang sekarang. Wajah Alya melintas dalam benaknya. Bagaimana malam itu ia secara spontan melingkarkan tangan di pinggangnya. Juga bagaimana Alya yang tahu jika suaminya tengah menangggung beban berat—hanya helaan napas saja. Sikap Alya di malam setelah malam Kaivan menikahi Aira, ia nilai sedikit berbeda. Namun, Kaivan baru menyadari sekarang.Dan pagi ini, setelah semua yang terjadi, Kaivan tak yakin bisa memandang mata istrinya dengan cara yang sama. Meski begitu, ia buru-buru menyalakan mobilnya, dan melaju.Tangannya mengepal di atas paha. Ia mendongak, memejamkan mata, dan menarik napas dalam. Dada sesak."Ya Allah," gumamnya lirih, "apa yang sudah aku lakukan?"***Seperti biasa, Kaivan mampir ke masjid untuk mandi terlebih dahulu sebelum sampai di rumah. Bertepatan juga dengan waktu subuh, sehingga i
Terakhir Diperbarui : 2025-07-08 Baca selengkapnya