Suara Nyonya Larasati menggema di dalam bangsal, suaranya terdengar gelisah dan tajam."Yuliana, apa maksudmu?" Ujung jarinya yang tidak mengenakan apa-apa, menunjuk ke arah hidung ibu mertua. "Putriku diculik karena terlibat dalam masalah Keluarga Wijaya. Dia sudah menderita luka yang begitu parah. Tapi, kamu hanya memberinya surat cerai sebagai kompensasi?"Ya, dokumen yang dilemparkan Nyonya Larasati pada ibu mertua dan dijatuhkan ke lantai adalah surat perjanjian cerai.Halaman-halamannya kini berserakan di lantai, seperti dedaunan yang telah gugur dari pohon.Aku berjongkok dan memungutnya satu per satu."Bukan dia yang terluka parah, 'kan? Kurasa dia baik-baik saja sekarang, tidak ada satu pun luka di tubuhnya." Ibu mertuaku awalnya bersikap tenang dan anggun. Akan tetapi, setelah dilempar oleh Nyonya Larasati, ekspresinya berubah. Dia pun berkata dengan tajam, "Apa? Kamu masih mau mengambil keuntungan besar dari Keluarga Wijaya? Lina, kamu orang yang keras kepala, selalu saja se
Read more