Aku menepuk kepalanya sekali. "Kakakmu tidak sehebat itu, tidak ada yang ingin merebutnya darimu.""Bagaimana mungkin tidak hebat? Kakakku hebat sekali, sangat hebat. Kakakku cantik dan lembut, masakannya enak, juga sangat menyayangi adiknya. Ada banyak Adik yang ingin merebut Kakak dariku, bagaimana bisa aku lengah? Kalau sampai Kakak direbut orang lain, ke mana aku harus mengadu?" Rena langsung menaikkan suaranya.Dia seperti sedang berdebat denganku, tetapi perdebatan ini membuatku ingin tertawa. "Siapa yang ingin merebut Kakak darimu? Kamu hanya berhalusinasi saja.""Ada, si Lia itu misalnya," jawab Rena."Lia siapa?" Aku sempat tidak bisa bereaksi, merasa sedikit bingung.Namun, aku langsung mengerti dalam sekejap. Dia sedang berbicara tentang Talia.Ketika membicarakannya, aku sempat tertegun sejenak. Di pikiranku, tanpa sadar muncul wajah Talia yang pucat, sedih, rapuh, serta tak berdaya. Tatapan matanya yang penuh luka mendalam menatapku.Tatapan seperti itu membuat hatiku tida
Mehr lesen