Nilna tertawa cekikikan, memandang Asna yang mencebik sambil ngedumel, “Peduli sih peduli, tapi, kok … nggak tulus.”Tawa Nilna semakin menjadi, matanya hampir tenggelam oleh kelopak mata yang menyipit. Ia terengah-engah saat memaksakan untuk berhenti tertawa dan berkata, “Tahu apa kamu soal tulus? Zaman sekarang, mana ada yang peduli dengan hal itu? Yang penting ‘kan bikin semua pihak untung, beres, deh!” “Yah, aku memang nggak terlalu mengerti tentang tulus. Aku ini ‘kan anak baik yang selalu fokus sama belajar. Nggak bucin kayak kamu. Meski … yah, hasilnya malah kalah sama tukang bucin!” cibir Asna.Nilna merasa sedikit mengena dengan ucapan Asna. Namun, Nilna ‘kan bucin kepada suami sendiri. Itu sama sekali tak ada yang salah, ‘kan? Wanita itu membulatkan matanya, ingin mendebat Asna hingga tuntas. Namun, lagi-lagi Nilna kalah cepat, suara lantang Asna lebih dulu menguasai, “Satu lagi, tadi kamu bilang zaman sekarang cuma peduli untung. Miris, ya. Padahal, ternyata kamu adalah
Last Updated : 2025-12-17 Read more