LOGIN“Abah berpesan, besok malam kita diutus ke ndalem.” Bagas memeluk Nilna erat-erat ketika wanita muda itu baru hendak belajar.“Yah!” Nilna cemberut melihat bukunya terjatuh ke lantai. Ia menunduk hendak mengambil. Namun, suara final Bagas langsung terdengar dan menghentikan pergerakan Nilna.“Biar aku yang ambil.” Bagas melepaskan pelukan dan segera berjongkok untuk mengambil buku yang tergeletak di permukaan lantai.“Hm.” Nilna menatap pergerakan Bagas, kemudian bertanya, “Memangnya ada acara apa, Mas?”“Itu, acara untuk Ilham. Dia mau melamar seorang santriwati yang baru saja lulus Aliyyah.” Bagas tersenyum lega, dengan tangan yang meletakkan kembali buku ke atas meja.“Apa?!” Nilna terkejut, tetapi ia segera tersadar dan menenangkan diri. Istri direktur itu refleks menutup mulut dengan gestur agak canggung.“Kaget?” Bagas memicingkan mata pada Nilna.“Ehm. Iya.” Nilna tampak kelabakan.“Nggak apa-apa. Wajar.” Bagas tersenyum lembut pada Nilna.Pria itu membawa istrinya duduk di tep
“Hah!” Bagas tampak pasrah dengan tinjuan Nilna yang terus menimpa tubuhnya. “Aduh! Ampun! Ampun!” Pria itu malah tertawa di sela permintaan ampunnya. Ia terlihat seperti seorang anak laki-laki yang tak berdaya saat dihukum ibunya karena telah melakukan kesalahan.“Bilang apa, tadi? Ayo, ulangi lagi!” Nilna memasang wajah galak, yang justru terlihat menggemaskan di mata Bagas. Lelaki itu tak tahan lagi dan langsung mendekap sang istri dengan kekuatan kokoh.“Ih. Lepas!” Tubuh Nilna kini benar-benar terkunci pada pelukan Bagas yang begitu kuat bagaikan penjara. Wanita muda itu tak lagi bisa meninju tubuh sang suami karena tenaganya kalah jauh.“Adek, sudah malam, Sayang.” Bagas menenangkan sang istri yang masih terus meronta dari dekapan. Pria itu merengkuh tubuh kurus Nilna dengan kelembutan yang justru teramat kokoh.“Hah! Mas curang! Beraninya melawan aku yang seorang perempuan. Ya, pasti aku akan kalah.” Nilna berkata dengan galak. “Lalu, Adek maunya bagaimana?” Bagas terkekeh la
Bagas telah merasakan puncak kenikmatan yang terasa begitu mencekiknya. Pria itu memeluk tubuh Nilna hingga wanita muda itu merasa sesak.“Mas, perih, basah, sakit,” rintih Nilna.“Mas, badan aku rasanya kayak nggak ada tenaga.” Nilna terus meracau dengan rasa tak nyaman yang menyelimutinya.Bagas merenggangkan pelukan, lalu berkata, “Ya, Dek. Maafkan Mas, ya. Sudah melakukan hubungan saat kamu tertidur.”Nilna hanya bisa menangis, merasakan rasa campur aduk yang membuatnya terusik.“Kamu selalu begitu, Mas. Percuma aku mau bilang apa juga.” Nilna meringkuk dengan perasaan putus asa.“Maaf, Sayang. Apa kamu mau maafkan Mas-mu?” Bagas segera duduk, mengamati sosok Nilna yang menangis sesenggukan.“Sayang, apa sekarang masih sakit? Mas bantu kamu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ya.” Bagas tampak kebingungan. Hasrat memanglah berbahaya, ia bertindak begitu jauh di luar kendali Bagas, serta membuang akal sehatnya hingga tak bersisa.Nilna masih terdiam di tempat, membuat Bagas men
“Ya sudah. Kalau begitu, Mas pijitin badan Adek, ya? Apa kamu mau?” Bagas menawarkan diri dengan senang hati.Nilna membuka kelopak mata yang terasa berat saat balik bertanya, “Apa nggak apa-apa? Memangnya Mas nggak capek?”Bagas terkekeh-kekeh dengan sorot mata yang hangat. Dalam pendar cahaya yang sedikit, sosok pria itu terlihat begitu teduh dan tulus. Wajahnya yang proporsional terkesan tegas, tetapi menyimpan kelembutan yang hanya mampu dimengerti oleh Nilna.“Capek sih iya, tapi ‘kan obatnya ada di kamu. Jadi, capek itu langsung lenyap saat Mas ada di dekat kamu.” Bagas merengkuh tubuh Nilna dengan penuh pengayoman.Nilna tak kalah semringah. Perempuan belia itu meringis lebar dan menjawab, “Kalau begitu, pijiti saja sampai Mas puas.“Siap, Adek!” Bagas memasang pose hormat sejenak, yang membuat Nilna larut dalam kikikan bahagia. Lelaki itu segera duduk, membuka tutup botol minyak zaitun, dan menumpahkan cairan licin nan wangi itu ke perut Nilna yang telah terbuka sedikit demi
“Aku … aku hanya malu sama diriku yang dulu.” Tubuh Nilna meringkuk di dalam bopongan Bagas. Wanita muda itu membiarkan sang suami melakukan apa yang dikehendakinya.Bagas segera menurunkan tubuh Nilna ke atas ranjang. Pria itu menghela napas, masih belum mengerti dengan jawaban dari sang istri.Akan tetapi, perasaan Bagas masih didominasi dengan kehawatiran akan keadaan perut Nilna.“Bagaimana, Dek? Apa perut kamu masih terasa aneh?” Bagas tersenyum lembut pada Nilna. Ia menempelkan wajah ke perut Nilna.“Masih, sedikit.” Nilna menjawab jujur dengan mengerutkan dahi.“Untuk sekarang, Mas akan ambilkan air hangat. Besok kita ke dokter untuk periksa, ya.” Bagas mengusap kepala Nilna dengan lembut.Pria itu segera bangkit lagi untuk ke dapur guna mengambil air hangat.Ketika sampai di kamar, Bagas menatap sang istri yang semula terpejam, kini telah membuka mata karena kehadirannya.“Adek, apa kamu sedang tidur tadi?” tanya Bagas, yang mendekat dan duduk di dekat Nilna.“Nggak, Mas,” ja
Ruangan mendadak hening tak bersuara. Semua orang yang hadir pun terlihat menghentikan napas, mempersiapkan diri dengan kemungkinan apa pun yang terjadi. Sementara itu, satu direksi dari pihak Qaila mengangguk pelan, seperti memperkuat ultimatum antar perusahaan yang baru saja terucap. Nilna segera menoleh ke arah Bagas, ekspresinya tampak khawatir dan meminta kejelasan yang valid.Bagas langsung menyambut tatapan sang istri, dengan senyum lembut yang terasa menusuk di hati Qaila. Mata indah Nilna mengerjap pelan, menunggu penjelasan dari senyum yang baru saja Bagas torehkan padanya.Bagas cepat-cepat menggenggam jemari kecil Nilna, menunjukkan senyum seseorang yang sudah tahu arah permainan dari sang lawan semenjak awal. “Terima kasih atas ungkapan terus terang yang Anda ungkapkan, Bu Qaila.” Bagas menjelaskan dengan sorot mata yang tenang, “Tapi sebelum bicara soal kegagalan, saya menegaskan agar kita harus meluruskan satu hal yang masih belum jelas.” Pandangan Qaila mulai berg







