LOGINBagas telah merasakan puncak kenikmatan yang terasa begitu mencekiknya. Pria itu memeluk tubuh Nilna hingga wanita muda itu merasa sesak.“Mas, perih, basah, sakit,” rintih Nilna.“Mas, badan aku rasanya kayak nggak ada tenaga.” Nilna terus meracau dengan rasa tak nyaman yang menyelimutinya.Bagas merenggangkan pelukan, lalu berkata, “Ya, Dek. Maafkan Mas, ya. Sudah melakukan hubungan saat kamu tertidur.”Nilna hanya bisa menangis, merasakan rasa campur aduk yang membuatnya terusik.“Kamu selalu begitu, Mas. Percuma aku mau bilang apa juga.” Nilna meringkuk dengan perasaan putus asa.“Maaf, Sayang. Apa kamu mau maafkan Mas-mu?” Bagas segera duduk, mengamati sosok Nilna yang menangis sesenggukan.“Sayang, apa sekarang masih sakit? Mas bantu kamu ke kamar mandi untuk membersihkan diri, ya.” Bagas tampak kebingungan. Hasrat memanglah berbahaya, ia bertindak begitu jauh di luar kendali Bagas, serta membuang akal sehatnya hingga tak bersisa.Nilna masih terdiam di tempat, membuat Bagas men
“Ya sudah. Kalau begitu, Mas pijitin badan Adek, ya? Apa kamu mau?” Bagas menawarkan diri dengan senang hati.Nilna membuka kelopak mata yang terasa berat saat balik bertanya, “Apa nggak apa-apa? Memangnya Mas nggak capek?”Bagas terkekeh-kekeh dengan sorot mata yang hangat. Dalam pendar cahaya yang sedikit, sosok pria itu terlihat begitu teduh dan tulus. Wajahnya yang proporsional terkesan tegas, tetapi menyimpan kelembutan yang hanya mampu dimengerti oleh Nilna.“Capek sih iya, tapi ‘kan obatnya ada di kamu. Jadi, capek itu langsung lenyap saat Mas ada di dekat kamu.” Bagas merengkuh tubuh Nilna dengan penuh pengayoman.Nilna tak kalah semringah. Perempuan belia itu meringis lebar dan menjawab, “Kalau begitu, pijiti saja sampai Mas puas.“Siap, Adek!” Bagas memasang pose hormat sejenak, yang membuat Nilna larut dalam kikikan bahagia. Lelaki itu segera duduk, membuka tutup botol minyak zaitun, dan menumpahkan cairan licin nan wangi itu ke perut Nilna yang telah terbuka sedikit demi
“Aku … aku hanya malu sama diriku yang dulu.” Tubuh Nilna meringkuk di dalam bopongan Bagas. Wanita muda itu membiarkan sang suami melakukan apa yang dikehendakinya.Bagas segera menurunkan tubuh Nilna ke atas ranjang. Pria itu menghela napas, masih belum mengerti dengan jawaban dari sang istri.Akan tetapi, perasaan Bagas masih didominasi dengan kehawatiran akan keadaan perut Nilna.“Bagaimana, Dek? Apa perut kamu masih terasa aneh?” Bagas tersenyum lembut pada Nilna. Ia menempelkan wajah ke perut Nilna.“Masih, sedikit.” Nilna menjawab jujur dengan mengerutkan dahi.“Untuk sekarang, Mas akan ambilkan air hangat. Besok kita ke dokter untuk periksa, ya.” Bagas mengusap kepala Nilna dengan lembut.Pria itu segera bangkit lagi untuk ke dapur guna mengambil air hangat.Ketika sampai di kamar, Bagas menatap sang istri yang semula terpejam, kini telah membuka mata karena kehadirannya.“Adek, apa kamu sedang tidur tadi?” tanya Bagas, yang mendekat dan duduk di dekat Nilna.“Nggak, Mas,” ja
Ruangan mendadak hening tak bersuara. Semua orang yang hadir pun terlihat menghentikan napas, mempersiapkan diri dengan kemungkinan apa pun yang terjadi. Sementara itu, satu direksi dari pihak Qaila mengangguk pelan, seperti memperkuat ultimatum antar perusahaan yang baru saja terucap. Nilna segera menoleh ke arah Bagas, ekspresinya tampak khawatir dan meminta kejelasan yang valid.Bagas langsung menyambut tatapan sang istri, dengan senyum lembut yang terasa menusuk di hati Qaila. Mata indah Nilna mengerjap pelan, menunggu penjelasan dari senyum yang baru saja Bagas torehkan padanya.Bagas cepat-cepat menggenggam jemari kecil Nilna, menunjukkan senyum seseorang yang sudah tahu arah permainan dari sang lawan semenjak awal. “Terima kasih atas ungkapan terus terang yang Anda ungkapkan, Bu Qaila.” Bagas menjelaskan dengan sorot mata yang tenang, “Tapi sebelum bicara soal kegagalan, saya menegaskan agar kita harus meluruskan satu hal yang masih belum jelas.” Pandangan Qaila mulai berg
“Kamu benar, Dek!” Bagas menghampiri Nilna yang sedang duduk di kursi dan belajar. Pria itu berjalan dengan wajah yang lesu.Nilna segera mengangkat kepala, menatap ekspresi Bagas dengan rasa khawatir. “Benar apanya, Mas? Ada apa?” tanya Nilna.Bagas langsung duduk di dekat Nilna, lalu menjawab, “Perusahaan Qaila, sedang menargetkan sesuatu yang nggak biasa untuk kerja sama kali ini.”“Hah!” Nilna terkejut. Pikiran wanita muda itu langsung mengembara ke waktu di mana Qaila mengajukan kerja sama untuk pertama kali.“Memangnya target yang bagaimana, Mas?” Nilna mengepalkan tangan. Ekspresi di wajah perempuan itu terlihat penuh amarah. Bagas menghela napas berat. Pria itu menceritakan wacana dari perusahaan milik Qaila secara rinci.Ketika selesai mendengar dan memahami, Nilna mengangguk tanpa suara. Ia merenung, lalu mulai tersadar akan suatu hal.“Jadi, apa rencana kamu selanjutnya?” Nilna menatap pupil mata hitam Bagas.“Kamu nggak usah khawatir.” Bagas tersenyum tenang. Lelaki itu
“Mas!” Nilna menatap tajam ke arah Bagas. Tak terima dengan panggilan ‘anak kecil’ yang Bagas ucapkan.“Jangan panggil aku begitu. Aku ini istri kamu. Kamu panggil aku anak, tapi sebentar lagi aku akan memberi kamu anak!” Nilna menunjuk-nunjuk wajah Bagas dengan gelagat serius.Bagas malah tergelak, mengusap kepala Nilna lagi, lalu menjelaskan, “Iya, iya. Aku nggak akan panggil kamu anak kecil lagi. Benaran.” Pria itu menjulurkan jari telunjuk dan jari tengahnya ke atas.“Hmh!” Nilna mendengus puas, wajahnya melengos membelakangi Bagas.Bagas menggeleng tak berdaya. Pria itu segera pamit untuk pergi ke kantor PT Herbal Al-Mannan.Setibanya di sana, Bagas langsung berjalan cepat ke dalam ruang kerjanya.Pria itu meletakkan briefcase ke atas meja kerja, kemudian menjatuhkan tubuh di kursi putar.Tak lama kemudian, pintu terketuk oleh seseorang.“Masuk!” perintah Bagas, seraya meraih map coklat di atas meja dan segera membukanya.“Selamat pagi, Pak Bagas.” Ajeng, sekretaris Bagas langsun







![Penyesalan Tuan CEO [Mantan Kekasihku]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)