“Sadarlah, Raka!”Suara Kirana meluncur lirih, separuh seruan, separuh doa. Ia seperti orang yang terhimpit ketakutan, tapi masih berusaha menggenggam sisa-sisa keberanian. Napasnya memburu, matanya membelalak, menahan panik ketika wajah pria itu semakin dekat.Jarak di antara mereka lenyap begitu saja, seperti kabut tipis yang disapu angin.Raka mencondongkan tubuh. Hembusan hangat dari napasnya menyapu pipi Kirana, membuat kulitnya meremang, dada sesak. Ruang tamu yang remang, sepi, hanya diisi dentingan jarum jam yang berjalan ganjil, tak lagi berirama.Detik-detik itu seperti menghitung degup jantung Kirana, makin cepat, makin keras.Kirana nyaris yakin jantungnya akan meloncat keluar, ketika tiba-tiba Raka berhenti. Geraknya terhenti seolah ada tali tak kasatmata yang menahan. Jarak mereka tetap dekat, terlalu dekat, tapi waktu ikut membeku.Kirana menarik napas panjang, dadanya naik-turun tidak teratur. Ia berpaling perlaha
Last Updated : 2025-09-17 Read more