“Nanti siang aku ke kantor, ya.” Maudy berucap dengan senyuman setelah ia mencium punggung tangan Mahen.“Ngapain?”“Mau ngantar bekal makan siang, sekalian mau lihat suasana kantor.”“Makan siang para karyawan sudah disiapkan sama kantor.”“Kamu malu kalau aku datang?”“Bukan begitu. Ngapain repot ke sana, aku bisa makan menu yang sudah terhidang.”“Apa salahnya, Mahen? Maudy juga pasti jenuh karena setiap hari selalu di rumah. Biarkan saja dia ke kantor.” Tama menimbrung pembicraan, meminta agar sang putra mengizinkan.Setelah pembicaraan mereka di meja makan beberapa hari yang lalu, pada akhirnya mereka tidak jadi pindah dari sana. Mereka tetap tinggal bersama Tama dengan catatan Mahen akan bekerja seraya kuliah untuk meng-upgrade pengetahuan dan juga skill.Mahen menghela napas dengan kasar. “Bawa Sean, pakai baju yang tertutup. Kalau perlu pakai jilbab sekalian. Jangan cantik-cantik kalau mau datang, jangan dandan.” Lelaki itu memberikan banyak aturan.Maudy tersenyum mendengar u
Terakhir Diperbarui : 2025-06-12 Baca selengkapnya