“Kebetulan sekali...”Suara itu meluncur halus, dibalut nada yang terdengar manis di permukaan, tetapi menyimpan sesuatu yang lain di baliknya.Ralia berdiri di samping Sartika yang berwajah angkuh, melingkarkan tangannya di lengan wanita itu seolah enggan melepaskan. Sikapnya tampak anggun dan terukur, seakan setiap gerak-geriknya telah dipilih agar terlihat sempurna tanpa sedikitpun cela.Senyum tipis menghiasi bibirnya, cukup ramah untuk menipu mata yang tidak jeli. Tatapannya jatuh pada Kanina dengan sorot manis namun beracun.“Nggak disangka kita bisa bertemu di sini,” ucapnya lembut. “Bagaimana kabarmu?”Kanina tidak langsung menjawab, matanya memandang dua wanita di hadapannya tanpa berkedip. Tatapannya dingin, tenang, dan nyaris tak menyisakan celah emosi untuk dibaca.Di satu sisi, Ralia berdiri dengan wajah manis yang dibuat-buat, membungkus dirinya dalam citra perempuan baik dan lembut. Di sisi lain, Sartika bahkan tidak repot menyembunyikan rasa tidak suka yang t
Read more