“Damian,” panggil Nayla.Tidak ada respons.Pria itu berdiri mematung di depan jendela besar yang menghadap taman belakang. Dari jauh, posenya terlihat seperti seseorang yang melamun, tapi Nayla tahu kalau tatapannya bermakna lebih dari itu. Sorot matanya terlalu fokus, terlalu tajam, seperti sedang menguliti sesuatu yang hanya bisa dilihat oleh diri Damian sendiri.“Damian,” ulang Nayla, lebih dekat.Masih tidak bergerak. Rahangnya terkunci. Dada Damian naik-turun dengan ritme yang aneh. Bukan panik, tapi intens.Nayla akhirnya meraih pundaknya, menepuknya pelan. “Damian.”Dia menoleh tiba-tiba. Ada kilatan terkejut di mata Damian, sekejap saja, sebelum dia kembali membangun topengnya. Senyum, garis di bawah mata, semuanya terbentuk sempurna. “Amore.” Suaranya serak.Sejak pagi tadi, Nayla memperhatikan perubahan kecil itu. Gurat wajah Damian lebih kaku, seolah otot-ototnya menolak rileks. Bahunya sedikit terangkat, menandakan tubuh yang sedang bersiap menghadapi hantaman yang tidak
Last Updated : 2025-12-04 Read more