Se connecterDamian menggenggam tangan Nayla, membawanya ke depan sebuah lukisan kecil di dinding dekat kamar. Gerakannya cepat, tapi hati-hati. Jemari tangannya menekan beberapa tombol dengan terlatih seperti seseorang yang telah melakukannya ratusan kali tanpa ingin ada yang mengetahui.
Tanpa kata, Damian akhirnya menekan panel magnetik di balik lukisan. Sebuah klik sunyi terdengar, lalu sebuah pintu tersembunyi terbuka perlahan.
Di baliknya, terbentang lorong sempit yang hanya cukup untuk
Malam berikutnya datang tanpa membawa banyak perubahan.Setelah menyelesaikan mandi, Nayla keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih sepenuhnya basah. Dia sedang memeras bagian ujung ketika terdengar ketukan pelan dari pintu. Hingga dua kali suara itu berulang, dia akhirnya menjawab. Tanpa mengulang ketukan ketiga, daun pintu pun akhirnya terbuka.Andy berdiri di ambang pintu. Tidak seperti biasanya, kali ini dia tidak membawa tablet atau dokumen kerja. Sebuah ponsel berada di tangannya dengan layar perangkat yang sudah menyala dan menampilkan wajah seseorang dalam sambungan video.“Damian.” Hanya satu kata yang meluncur dari mulutnya sebelum akhirnya Andy berbalik pergi.Nayla buru-buru meraih ponsel yang Andy taruh begitu saja di atas nakas. Handuk yang tadi berada di atas kepalanya hampir saja terlepas. Dia bahkan harus menangkapnya kembali sebelum benda itu jatuh ke lantai.“Damian?”Tidak ada jawaban langsung.Nayla mengusap rambutnya yang basah, lalu merapikan seadanya se
Beberapa hari sudah berlalu sejak malam itu, dan rumah ini perlahan mulai terasa seperti miliknya sendiri. Nayla hapal suara pintu dapur yang berderit setiap pagi, tahu jam berapa sinar matahari mulai menembus jendela-jendela besar di ruang depan, bahkan sudah punya tempat duduk favorit di teras belakang.Nayla masih membawa kehangatan dari telepon terakhir mereka. Cara suara Damian turun satu oktaf, cara mata Damian menyorot dengan tajam nan hangat, semua sering muncul begitu saja di benaknya. Kadang, di tengah aktivitas paling biasa sekalipun, Nayla bisa tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa sebab.Sudah beberapa hari berlalu sejak malam terakhir Damian menghubunginya. Tidak ada panggilan baru, tidak ada pesan yang tiba-tiba muncul di layar, bahkan tidak ada kabar singkat yang bisa membuat Nayla berhenti menebak-nebak keadaan di seberang sana. Namun, setiap kali pikirannya mulai bergerak ke arah yang tidak dia inginkan, Nayla selalu memaksanya kembali pada satu hal yang paling sederhana
Enzo beranjak ke arah jendela, sementara Damian masih memperhatikan layar tablet. Satu jari Enzo menyingkap tirai selebar tak lebih dari dua sentimeter. Dia bisa melihat keluar dari celah sempit itu, tapi tetap tidak terlihat dari luar."Ada orang di seberang," katanya denan suara rendah.Damian mendekat, berdiri di sisi lain jendela yang sama. Di bawah sana, seorang pria berdiri di depan toko yang sudah tutup. Kedua tangannya masuk ke dalam saku jaket, diam, dan selama beberapa saat, pria itu tetap tidak melakukan apa-apa selain berdiri. .Enzo menggeser posisinya sedikit, lalu menoleh ke arah layar gawai. "Sekarang ada dua lagi. Di ujung jalan."Sorot mata Damian langsung jatuh ke titik yang Enzo sebut. Dua sosok pria tengah berjalan pelan. Posisi mereka sedikit berjarak, tapi arah mereka sama. Keduanya menuju losmen ini."Ada tiga," gumam Damian."Bersenjata?" tanya Enzo."Tidak kelihatan," jawab Damian, "tapi anggap saja iya."Damian lantas mundur dari jendela, lalu memeriksa isi
Sambungan itu terputus, tapi Damian tidak langsung bergerak. Dia duduk diam dengan ponsel yang masih tergenggam di tangan. Matanya tertutup, membiarkan benaknya berkeliaran dan tertinggal di sana, di kamar itu, bersama NaylaSuara wanita itu baru saja hilang. Namun, Damian masih bisa mengingat setiap detail percakapan, pun bagaimana cara napas Nayla berubah dan bagaimana suaranya pecah karena berhasil menabrakkan rindu yang sama besarnya dengan rindu Damian sendiri. Untuk beberapa detik, dia bukan siapa-siapa selain seorang pria yang merindukan wanita yang dicintainya.Damian jarang membiarkan dirinya berada di titik ini, saat cinta dan rindu jadi satu-satunya hal yang dia rasakan, tanpa kalkulasi dan tanpa strategi. Dia nyaris tidak pernah membiarkan dirinya mencecap rasa yang sepenuhnya manusiawi. Kali ini, dia memperbolehkan dadanya merasakan kehangatan, lengkap dengan senyum tipis yang bertahan beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Dia tahu betapa berbahayanya perasaan
Suara Damian mengalun lebih dalam dan lebih pelan. Seketika, sesuatu di dalam diri Nayla mengencang. Ada panas yang menjalar naik dari dada ke lehernya. Tak sanggup lagi beradu tatap, Nayla memutuskan untuk menghadap langit-langit."Amore.""Iya?""Lihat aku," pinta Damian, suaranya melembut, seolah tiap kata sengaja dilepas pelan-pelan agar tak satu pun terlewat oleh Nayla. "Aku tidak bisa lama-lama di telepon, tapi mau aku ceritakan apa saja yang aku ingat?"Nayla yang sudah merebah menghadap atas, kini sedikit menoleh ke layar ponsel yang bersandar di bantal sebelahnya. Cahaya dari layar itu memantul di wajahnya yang sudah sedikit memerah. Ada kilau di kedua matanya yang tak lagi bisa menyembunyikan bara.Di seberang, dia melihat Damian sedang sedikit membungkuk mendekat ke kamera. Gerak kecil bahu pria itu tampak seperti sedang berusaha memperkecil jarak yang pada kenyataannya sama sekali tak bisa diperkecil. Semakin lama mata mereka beradu, Nayla semakin bisa melihat ada sesuatu
Dari balik layar, Damian tampak sedang duduk di kamar asing yang cukup sempit. Cahaya lampu meja menerangi separuh wajahnya, sedangkan separuhnya lagi dibiarkan tetap gelap. Sorot matanya masih sama, tenang, dalam, tapi juga tampak menyimpan sesuatu yang pernah terucap.Nayla memindai wajah itu lekat-lekat. Matanya sibuk mencari luka baru, bekas memar, atau apa pun yang bisa mengkhianati kalimat menenangkan yang biasa dia dengar dari mulut Damian. Meski pada akhirnya tetap tidak ada luka yang tampak, tapi fakta itu tidak pernah cukup untuk membuatnya benar-benar lega."Hei," ucap Damian lembut. "Kamu bisa dengar suaraku?""Iya."Nayla hanya bisa menjawab dengan satu kata singkat. Itupun disertai dengan getar yang tak sanggup dia sembunyikan."Apa aku setampan itu sampai kamu lupa caranya berkedip?" Damian mencoba mencairkan suasana.Sambil sedikit menunduk, Nayla melepas tawa singkat dan pelan."Nah, tetaplah seperti itu, Amore. That smile looks good on you.""Okay, lalu bagaimana? Ka
Gelisah.Otak Nayla berdesir, menolak untuk tenang. Dia mencoba menukar makna warna merah itu dengan apapun yang lebih masuk akal. Tumpahan saus, kopi, atau mungkin cat. Namun, tidak. Polanya, warnanya, bahkan cara serat kain menyerapnya, Nayla bisa memastikan kalau itu memang darah.Pikiran Nayla b
Suara itu, aroma tubuh itu, sesuatu yang sangat Nayla kenal, membelah kesadarannya yang masih setengah tertidur.“Sudah kamu beri obat penurun panas?”“Sudah, tapi dia menolak saat aku mengajaknya ke rumah sakit.” Kali ini suara Carina terdengar sangat jelas meski lirih.Kedua mata Nayla seketika t
Nama Adrian muncul berulang kali di layar ponsel Nayla. Jumlah panggilan tak terjawab semakin banyak setiap jamnya. Dia tahu Adrian khawatir. Bahkan, mungkin merasa kasihan.Dan di satu titik, Nayla pun sebenarnya kasihan pada dirinya sendiri. Pada tubuhnya yang lelah, matanya yang nyaris tak perna
Malam itu, Damian sama sekali tidak menyentuh pintu kamar Nayla. Tak sekalipun dia mengganggu sunyi yang melingkupi ruangan tempat wanita itu berlindung dari dunia. Dia berdiri di depan jendela ruang tengah, gelas kosong di tangannya, matanya tajam menatap kegelapan di balik tirai tipis.Tak ada sa







