Damian berdiri di teras, membiarkan lampu-lampu taman menerangi garis rahangnya yang mengeras. Tangannya bersandar pada pagar kayu. Cengkeraman jari-jarinya mengerat, seolah dengan itu dia bisa menahan diri untuk tidak kembali masuk.Di kejauhan, suara mesin kendaraan melintas di jalan utama, lalu menghilang. Semuanya terdengar biasa dan normal. Penjagaan pun masih tersebar ketat. Namun, dia merasakan firasat buruk yang sangat sulit disangkal. Sedangkan baginya, firasat buruk tidak akan pernah muncul tanpa alasan.“Marco,” panggil Damian melalui intercom. “Semuanya aman?”Dari seberang, Marco menjawab, “Aman. Jalur jalan raya juga aman. Tidak ada aktivitas mencurigakan kecuali turis dan penduduk lokal.”Ada kelegaan, tapi firasat itu masih belum enyah dari kepalanya. Sambil melirik lewat celah tirai, dia mengamati Nayla yang sedang duduk bersama Adrian. Di sudut ruangan, dua orang suruhannya bergerak cepat mengemasi barang. Tas dibuka, pakaian dilipat seadanya, dan barang-barang penti
Read more