LOGINDalam sepersekian detik itu, Damian masih terlihat di kaca belakang. Sialnya, begitu mobil berbelok di tikungan, sosok itu pun tersapu pergi. Selain semak, pohon, dan aspal jalan, Nayla tidak melihat apapun lagi.Dada Nayla langsung mengencang. Udara yang baru saja dia hirup terasa menggantung, menyakitkan di tenggorokan. Nayla akhirnya benar-benar paham bagaimana rasanya dibunuh jiwanya. Tak ada luka, tapi nyawanya seperti dicabut paksa.“Tidak!”Telapak tangan Nayla menghantam kaca jendela berulang kali. Suara benturannya nyaring, beradu dengan deru mesin. Di sela pukulan, mulutnya ikut menciptakan bising dengan teriakan demi teriakan.“Berhenti! Berhenti sekarang!”Kulit telapak tangannya mulai memerah. Namun, Nayla tidak peduli. Hatinya sudah tercabik lebih parah di setiap meter jarak yang tercipta selama mobil bergerak.Adrian lantas meraih kedua pergelangannya. “Nayla, cukup!”“Lepaskan aku!”Nayla masih meronta. Tubuhnya terdorong ke depan seolah ingin menerobos pintu yang terk
Adrian sama sekali tidak memberi sedikit pun celah bagi Nayla untuk menolak. Tangannya mencengkeram lengan Nayla dengan tekanan yang mendesak. Di depannya, Andy segera membuka pintu mobil dengan satu gerakan cepat.“Ayo!” tegas Adrian.“Aku tidak mau!”Nayla memberontak. Benar-benar memberontak. Tangannya tak henti memukul dada Adrian sebagai wujud perlawanan. Kukunya pun sempat berhasil mencakar leher dan pelipis. Namun, Adrian tidak sekalipun goyah.Begitu sudah dekat dengan mobil, Nayla berhasil mendorong Andy yang berniat menjagalnya. Nayla waras, tapi kondisinya kini sudah seperti orang tidak waras. Satu saja amukan dari tubuh wanita harus diatasi oleh beberapa pria.Rambut Nayla sudah sangat berantakan. Teriakan dan umpatan mengiringi tangisnya yang tak kunjung padam. Wajahnya sudah basah, seiring dengan suaranya yang pecah.“Lepaskan aku! Lepaskan!” teriak Nayla. “Aku tidak akan pergi tanpa di
Sunyi mengintimidasi seisi ruang. Semua orang tahu kalau ucapan Damian sepenuhnya benar. Lokasi villa ini sudah bocor, dan entah bagaimana, Jonathan pasti akan segera datang.“Kita tetap jalankan rencana awal,” lanjut Damian. “Nayla pergi bersama Adrian. Dan Andy, kamu ikut dengan mereka.”Andy langsung menggeleng. “Tidak. Aku ikut denganmu.”“Itu perintah.”“Aku tidak peduli.” Suara Andy menegang. “Kamu terluka parah, Damian. Jonathan akan mengirim lebih banyak orang. Kamu butuh aku.”Damian lantas memaksakan diri untuk berdiri. Tubuhnya sempat goyah satu detik sebelum kembali tegak. Darah segera merembes tipis di bawah perban, tapi dia tetap menegakkan kaki seperti seseorang yang menolak dirobohkan.“Aku butuh Nayla hidup, dan dia lebih membutuhkan kamu dibanding aku,” ucap Damian dengan nada yang dibuat setenang mungkin. “Lagipula, aku masih punya ba
Villa itu tidak lagi terasa seperti rumah. Bau mesiu bercampur darah masih menggantung di udara. Lantai batu yang semula bersih, kini ternoda jejak sepatu, serpihan kaca, dan warna merah yang belum sempat mengering. “Bersihkan sisi utara!”“Angkat dia! Tekan lukanya!”“Pantau kamera luar!”Teriakan demi teriakan saling bersahutan, menciptakan kebisingan. Suara instruksi terdengar tumpang tindih. Telepon di tangan Andy kerap kali berdering. Radio komunikasi yang dipegang beberapa kepala tim pun terus berbunyi tanpa henti.“Tim dua, sapu taman belakang. Pastikan tidak ada yang tertinggal.”“Marco, kumpulkan semua selongsong. Jangan ada jejak.”“Siapa yang tadi tertembak di kaki? Bawa ke ruang tamu.”Di sisi lain ruangan, Adrian sudah sepenuhnya kehilangan kesabaran. Seisi ruang seperti sudah berapi, dan amarahnya yang terlampau besar seolah membuat semuanya semakin terbakar. Sejak tadi, dia berdiri membawa gelombang kemurkaan yang tidak kunjung menemukan tempat untuk menghantam.“Apa i
“Tetaplah merapat,” perintah Andy kepada orang-orang di kanan dan kiri.Satu tembakan dengan suara teredam lantas terdengar. Nayla tersentak saat menyaksikan satu tubuh asing terjungkal di depannya dengan darah yang memercik ke lantai batu. Kakinya sempat mundur setengah langkah, seperti hampir menyerah. Namun, tak sampai sedetik kemudian, dia kembali berjalan.“Shit!” pekik Andy saat suara senjata api dari lawan akhirnya menyusul.Di sisi kiri, salah satu orang Damian sudah tersungkur. Peluru menghantam betisnya. Dia mengerang tertahan, tapi tetap mengangkat senjatanya sambil menembak dari posisi duduk.Tubuh Nayla bergetar. Ada rasa bersalah karena dia sadar bahwa keputusannya ini telah mengakibatkan kekacauan yang membuat formasi tim menjadi tidak aman. Namun, saat melihat salah satu tim lain menyeretnya ke balik tempat persembunyian, dia menjadi sedikit lega karena yakin kalau pria itu tidak akan meregang nyawa.“M
Ruang rahasia itu sunyi, tapi bukan kesunyian yang tenang, melainkan tegang. Nayla duduk di lantai, punggungnya bersandar, dan kedua tangannya gemetar di pangkuan. Dia tidak bisa mendengar dan melihat apa pun yang ada di luar, tapi dia yakin kalau itu pasti bukan sesuatu yang seharusnya terjadi di dunia normal.Adrian berdiri di dekat pintu. Bahunya tegang, wajahnya pucat, tapi dia terus mencoba terlihat tenang. Sebisa mungkin, dia harus menjadi dinding agar Nayla tetap aman.“Damian di luar,” bisik Nayla. “Dan dia berdarah.”Adrian menoleh cepat. “Kamu tidak tahu itu.”“Aku tahu,” balas Nayla lirih. “Aku selalu tahu saat dia terluka.”Kalimat itu bukan metafora. Itu keyakinan yang lahir dari sesuatu yang tidak bisa dijelaskan logika.“Itu hanya perasaanmu saja. Kamu hanya terlalu khawatir. Damian cukup tangguh. Percayalah,” balas Adrian yang sebenarnya juga tidak terlalu yakin dengan ucapannya sendiri.“Tidak, Adrian. Aku yakin dia s







