FREKUENSI TERAKHIR, CAHAYA YANG TETAP MENYALAStudio radio itu perlahan redup. Lagu penutup sudah selesai mengalun, dan lampu merah bertuliskan “ON AIR” padam untuk terakhir kalinya. Namun di dada Sekar, justru ada sesuatu yang menyala — bukan lampu, tapi rasa yang dulu sempat ia tinggalkan: tenang.Ia melepaskan headset dari telinganya. Di kaca studio, bayangan dirinya terlihat samar — perempuan dengan rambut sedikit beruban di sisi, mata yang tak lagi secerah dulu, tapi ada kedalaman baru di sana. Kedewasaan yang lahir dari setiap kehilangan dan pembelajaran.Sekar berdiri perlahan, menyentuh meja siaran dengan ujung jarinya.“Terima kasih, sahabat lamaku,” bisiknya pada mikrofon tua di depannya. “Kau sudah menemaniku mengirimkan begitu banyak doa lewat udara.”Dari luar studio, Arya muncul — wajahnya tersenyum lembut, membawa termos kecil berisi teh hangat kesukaan Sekar.“Sudah selesai?” tanyanya pelan.Sekar menatapnya, lalu mengangguk. “Sudah. Tapi aneh ya, rasanya seperti baru
Last Updated : 2025-10-31 Read more