Valeriah tak menyangka jika klub malam jauh berbeda dari bayangannya. Ia membayangkan keramaian itu akan menelan dirinya mentah-mentah, penuh dengan tawa mabuk, musik yang terlalu keras, dan tubuh-tubuh yang tak tahu malu.Dan ya, sebagian besar memang begitu. Dentuman bass menekan dadanya, cahaya neon menusuk mata, dan parfum bercampur keringat menusuk hidung. Namun, di balik hiruk pikuk itu, Valeriah menemukan celah kecil untuk bernapas.Sebuah lounge kecil di pojok lantai satu, jauh dari kerumunan dansa. Ia duduk dengan lutut menyilang, buku sketsa terbuka di pangkuannya. Pensilnya menari pelan, menggoreskan garis demi garis. Setiap detik, wajah-wajah asing yang bergerak dalam kerumunan menjadi siluet di atas kertasnya.Ia menggambar seorang wanita dengan gaun merah, tertawa terlalu keras. Lalu seorang pria paruh baya yang kalah di meja roulette, wajahnya murung dengan segelas vodka. Dan terakhir, ia berhenti pada bayangan samar seorang pria di lantai atas, d
Read more