Zeka berjalan perlahan, sangat perlahan, seperti kucing yang hendak menangkap tikus, ia berjalan dengan senyap, mendekati Widuri yang justru terlihat gusar. "Apa katamu? aku tak mendengar dengan jelas, bisa kau ulangi?" tanya Zeka lirih, tapi setiap kata yang ia ucapkan terdengar begitu menyengat di telinga Widuri. "Em, ma-af tu-an.." jawab Widuri gugup bercampur takut, ia memang telah melampaui batas, seharusnya ia tak mengatakan hal itu, Zeka sudah membantu ia terlepas dari monster itu, dan kini ia juga memberi Widuri pekerjaan meski itu bukan pekerjaan yang Widuri inginkan, sebab Widuri tetap tak bisa membayar hutang pada juragan Sarmo meski ia sudah memiliki pekerjaan. "Ayo katakan sekali lagi!" desak Zeka. Widuri tertunduk takut, tapi sekali lagi, bayang-bayang sang ibu di kampung terlalu kuat untuk ia enyahkan dari pikirannya, rasa bersalah yang luar biasa kini menaksa ia untuk mengesampingkan rasa malu ataupun takut, apapun dan bagaimanapun reaksi Zeka Widuri harus teta
อ่านเพิ่มเติม