LOGINSepeninggal pria itu, Widuri masih duduk di atas tempat tidur dengan tubuh yang belum jua kembali terbalut pakaian sepenuhnya. Ia masih terguncang dengan peristiwa tak terduga yang baru saja terjadi. Seperti mimpi, ia terbangun dari tidur dengan perasaan bingung dan berharap semua yang sempat terjadi itu sungguh hangat sebuah ilusi. Bagaimana bisa ia dengan sengaja memamerkan tubuhnya di hadapan pria asing dan tanpa sedikitpun rasa malu, ia secara terang-terangan rela menukar tubuh polosnya itu dengan sejumlah uang. "Krekk!" pintu berderit pelan, Widuri gugup, ia yang belum sempat mengenakan kembali pakaiannya buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang nyaris bug*l itu, kedua matanya menyorot tajam ke arah pintu, memastikan siapa yang datang. "Maaf nona, sebaiknya nona segera bersiap" seorang wanita berseragam yang datang. "Pufff!" Widuri membuang nafas, agak lega, sebab semula ia pikir jika itu adalah pria tadi. Selesai bicara, wanita berseragam itu bergegas pergi
"Tuan, saya rela melakukan apapun, ya, apapun asal anda mau membantu saya" ujar Widuri tiba-tiba sambil beranjak menuju ke tempat tidur, pikirnya semua pria di kota itu sama, sebab dari dua pria yang ia temui sebelumnya, mereka semua menginginkan hal yang sama dari Widuri. Dan mungkin saja pria yang ini juga demikian. Widuri sudah tak perduli pada apapun saat ini, bahkan satu-satunya harta yang ia miliki juga akan ia berikan pada pria itu yang penting ia bisa segera mendapatkan uang demi membayar hutang pada juragan Sarmo. Waktu Widuri tak banyak saat ini. Widuri duduk di atas tempat tidur dengan posisi tubuh yang ia atur sedemikian rupa agar terlihat sensual, dan seolah benar-benar sedang berpacu dengan waktu, gadis itu mulai menurunkan secara perlahan bagian atas dari bajunya yang kusut itu. Pemandangan yang cukup miris, beberapa waktu yang lalu ia mati-matian mempertahankan mahkota yang hanya akan ia serahkan suatu hari nanti pada pria yang benar-benar ia cintai, tapi kini tidak
Widuri tertegun, saat pria itu melangkah perlahan, seketika ia kembali teringat akan satu hal penting, ibunya. Wanita tua nan malang itu tak tahu seperti apa kini nasibnya. Seumur hidup tak pernah barang sedetikpun mereka berpisah apalagi tanpa ada kabar dan juga kejelasan. Bahkan disaat-saat yang paling sulit paska meninggalnya sang ayah, Widuri tetap setia berada di samping sang ibu, memberikan dukungan luar biasa agar wanita itu tetap mau berjuang agar tetap hidup, meski dengan segala keterbatasan. Dan kini, sudah beberapa hari, jangankan uang delapan juta, kabar lun tak kunjung Widuri berikan pada ibunya yang entah apa masih sehat atau justru sudah terbaring sakit akibat tak sanggup menahan rasa takut dan sedih yang teramat karena tak kunjung mendapat kabar tentang sang anak. Dan juragan Sarmo, tinggal menghitung hari, pria arogan itu akan datang untuk menyita rumah milik orang tua Widuri, Widuri tak sanggup membayangkan ketakutan yang akan menyerang sang ibu, seorang diri mengh
Wanita itu tak menjawab pertanyaan Widuri, ia sekali lagi hanya tersenyum dan kemudian berpamitan pergi, meninggalkan Widuri yang takut dan bingung bukan main. Widuri celingukan, ia mencoba untuk mengingat-ingat kejadian yang terakhir kali sebelum pada akhirnya ia berada di tempat asing itu. "Aku semalam ada di mobil bersama pria aneh itu, dan sekarang aku ada disini...apa jangan-jangan pria itu.." "Ya Tuhan, apa ini terjadi lagi padaku?" Widuri bergidik, takut, sepertinya kali ini hidupnya benar-benar akan hancur. Pria itu ternyata tak jauh beda dengan beberapa manusia yang ia temui di kota ini, semuanya tak ada yang baik, mereka semua jahat dan menginginkan kesengsaraan pada diri Widuri. Widuri terduduk lemas di lantai yang terasa sangat dingin, air mata yang hangat mulai menetes membasahi wajahnya yang lelah itu. Hidupnya sudah berakhir, begitulah ia menyimpulkan apa yang terjadi saat ini, tak akan ada harapan untuk bisa kembali pulang ke kampung halaman bertemu dengan sa
"Ke-napa kau batalkan tuan?!" protes Widuri saat mereka berjalan keluar motel. Diluar hujan kian deras. Zeka tak menjawab, ia mempercepat langkahnya, hawa dingin yang menusuk membuat pria tampan itu disergap rasa dingin yang luar biasa. Ia buru-buru masuk ke dalam mobil. Widuri mematung, masih bingung dengan apa yang terjadi. Hujan mengguyur membasahi tubuhnya yang lemah itu. "Hei! kau ini sudah tak waras ya?! ayo cepat masuk! kenapa kau masih berdiri disitu?!!" teriak Zeka saat melihat Widuri yang masih berdiri di luar mobil dengan pakaian yang mulai basah terjebak air hujan. Widuri tak bergeming, ia membiarkan air hujan mengguyur tubuhnya, ia sebenarnya merasa sangat kedinginan, tapi ia bingung, tak tahu harus bagaimana. Otaknya sudah tak mampu untuk berpikir, ia merasa sangat lelah. "Dasar merepotkan!!" gerutu Zeka sambil keluar lagi dari mobil, dan dengan sigap ia menarik lengan Widuri dan memaksa gadis itu untuk masuk ke dalam mobil. "Tidak tuan!!" tolak Widuri. "S
Mobil melaju, Widuri masih bingung, kini rasa takut kembali datang menyergap, pelan tapi cukup menusuk. Ia tak tahu akan bagaimana takdir hidupnya saat ini.Minah tak ada di tempatnya, ia pergi, mungkin juga kabur, menghindari kenyataan pahit yang sedang mencari kebenaran. Sedang Widuri masih berputar-putar tak jelas , dari satu sudut ke sudut lain di kota itu, tempat asing yang sama sekali tak ramah, bahkan seolah seperti sengaja menjadikan Widuri sebagai bahan pelampiasan kekacauan."Ma-af tu-an..kita..""Kalo kau punya tujuan lain, aku akan antar kau kesabaran!" potong Zeka, seperti sudah tahu kemana arah ucapan Widuri.Widuri diam, tak berani bicara lagi. Apa yang Zeka katakan memang benar, di tempat asing dengan kondisi selarut itu, kemana ia akan pergi. "Tapi, maaf..sa-ya, saya mau cari tempat penginapan.." ujar Widuri lagi, lirih, sebab rasa ragu terlalu besar untuk ditaklukkan."Tak masalah, ada banyak tempat penginapan di kota ini, aku bisa antar kau kesana, kau punya uangn
"Mau mat* ni orang! sialan! berani-beraninya ganggu gue!!" umpat direktur Willi sambil membuka pintu."Krekkkk!!" daun pintu berderit lirih."Lu dah bosen hid..??!!" kalimat yang terlontar dari mulut direktur Willi seketika terhenti. Seperti mobil yang nyaris menabrak sesuatu di jalan, langsung di
Widuri terdiam, terlalu banyak fakta mengejutkan sekaligus menakutkan yang ia dapatkan hanya dalam hitungan hari saja. Pertama, fakta bahwa kesuksesan yang selama ini Minah raih, ternyata semua itu bukan dari hasil kerja kerasnya, bukan karena ia sukses besar dengan pekerjaannya di kota, maksudny
"Bawa dia ke dalam!" suara direktur Willi terdengar tegas.Bos Reno tersenyum tipis tapi dalam."E, ada apa i-ni?!!" Widuri bingung dan takut saat kedua orang pria kekar itu menarik tangannya."Diam!!" hardik mereka sinis."Lepaskan aku!!" pekik Widuri yang tahu jika ia sedang dalam masalah."Hai c
"Gimana Direktur? apa anda tertarik dengan tawaran saya?" tanya bos Reno setengah berbisik.Direktur Willi diam, ia hanya menarik nafas lirih namun begitu dalam.Suasana hening sejenak, direktur Willi masih terus menelanjangi diri Widuri dengan kedua bola matanya yang memicing. Sedang Widuri merasa







