LOGINNiat hati ingin mengubah nasib dengan ikut temannya pergi bekerja ke kota, Widuri malah menjadi korban penipuan oleh temannya tersebut. Bukannya mendapat pekerjaan seperti yang dijanjikan, ia justru dijual oleh temannya pada pria hidung belang. Widuri yang sadar sudah tertipu berusaha untuk melarikan diri, namun usahanya gagal dan justru membawa ia pada sebuah peristiwa yang akan mengubah hidupnya untuk selamanya.
View MoreDengan langkah kaki yang gemetar, dan tangan yang memegang erat seikat uang yang Zeka berikan, Juriah melangkah mendekati juragan Sarmo, ia takut, sangat takut bahkan, meski ada Zeka yang siap siaga melindungi Juriah, tapi entahlah, wanita tua itu tetap merasa tak tenang. "Ini, uangnya juragan" Juriah menyodorkan seikat yang itu pada juragan Sarmo dengan tangan gemetar. Juragan Sarmo melirik sinis melihat yang itu. Ia tak mengambilnya. "Seno! ambil!" ia malah menyuruh anak buahnya untuk mengambil uang itu. Dengan cepat anak buah juragan Sarmo segera mengambil uang itu dari tangan Juriah. Juriah merasa sedikit lega. "Silahkan dihitung dulu tuan, mana tau jumlahnya kurang dari delapan juta!" sela Zeka. Juragan Sarmo merasa geram, ia dapat melihat bagaimana cara Zeka menggerakkan bibirnya saat mengucapkan kalimat itu, pemuda itu sedang mengejek dirinya. Namun juragan Sarmo tak ingin membuang lebih banyak waktu. Meski ia baru saja mendapatkan kerugian besar sebab ia tak jadi meny
"Hai anak muda! siapa kau?! nggak usah ikut campur urusan orang!!" hardik juragan Sarmo. Zeka mengangkat wajahnya, ia menyeringai congkak. Dengan kacamata hitam ditangan yang ia coba putar-putar dengan jari-jarinya yang sebenarnya sudah sangat gatal ingin meremas mulut pongah juragan Sarmo sejak tadi. "Sa-saya mohon tuan..." lirih suara yang keluar dari bibir Juriah, ia mencoba untuk menghentikan Zeka. "Ibu nggak usah takut!" ucap Zeka tegas. "Heh, dasar sombong! koe blum tau dengan siapa koe sedang berhadapan!" celetuk juragan Sarmo sambil melirik pada dua orang pengawalnya yang langsung menyambut lirikan itu dengan suara tawa bernada ejekan. Zeka terlihat santai, ia tahu saat ini juragan Sarmo sedang berusaha menggiring emosinya agar tak terkendali. Tapi, tujuan ia datang ke tempat itu bukanlah untuk hal tak penting itu. "Sudah! kau jangan coba-coba untuk menghalangi aku!" "Heh! cepat paksa wanita ini untuk tanda tangan!!" perintah juragan Sarmo pada anak buahnya, nampa
"Cepat tanda tangan Juriah! aku nggak punya banyak waktu untuk menunggu! lagipula apa lagi yang kau tunggu, hah?! ingat ya, jangan kau berpikir untuk minta tempo lagi, aku nggak akan memberi kau toleransi lagi. Sudah cukup belas kasihan dariku, orang-orang macam kau ini terlalu banyak drama, butuh uang, dikasih pinjam, giliran ditagih janji-janji terus, bikin puding!" omel juragan Sarmo, sudah mulai muak ia dengan sikap Juriah yang terkesan mengulur waktu. "Ayo cepat!" sergah juragan Sarmo. Mendengar suara lantang juragan Sarmo, kian gemetar Juriah, dengan perlahan ia kembali duduk, meletakkan kertas itu di atas meja, satu tangannya memegang pena, meski sungguh tak ingin melakukannya, tapi semua sudah terlambat dan percuma, tak ada lagi jalan keluar, dan semua sudah berakhir sepertinya. "Setelah kau tanda tangan, kau cepat kemasi barang-barang mu dan pergi dari rumah ini, sebab besok aku akan merenovasi rumah ini!" ujar juragan Sarmo santai, ia seolah sungguh tak perduli pada nes
"Juriah!!!!" terdengar suara lantang dari luar rumah, dan seketika ketenangan berubah menjadi tegang. Orang-orang segera menoleh pada sumber suara itu. Juriah yang sedang serius berbincang dengan Zeka, kini terpecah konsentrasinya. Ia terkejut mendengar teriakan itu. "Juriah!!!" ulang suasana itu yang kini kian mendekat diiringi dengan suara langkah kaki yang berderak kasar. Jantung Juriah berdegup hebat manakala ia mengetahui siapa yang sedang datang mendekat, tubuhnya yang renta itu perlahan berdiri dengan gemetar, nampak seorang pria bertubuh gempal dengan kumis tebal yang melingkar di atas bibirnya yang sedang menghisap sebatang rokok dengan asap yang mengepul pekat. Penampilan pria itu cukup nyentrik dengan celana jins dan jas formal, tak lupa kacamata hitam menjadi pelengkap penampilannya yang seolah ingin menjadi pembuktian betapa ia adalah orang yang berada, dan memang begitu adanya. "Mbok, juragan Sarmo" ujar Tami lirih. Juriah hanya diam sambil memandang penuh ketaku
"Brakkkk!!!" pria itu keluar kamar apartemen Minah sambil membanting pintu sehingga membuat Minah dan juga Widuri kaget bukan main. Widuri masih bersembunyi di balik pintu, ia memperhatikan Minah yang tampak gusar. "Dasar tua bangka sialan! datang-datang main minta duit aja, emang dia kira gampan
Mata Widuri tak lekang sedikitpun dari sosok Minah yang benar-benar sudah berubah seratus persen. Ia yang dulu kurus, dekil, dan tak bisa bergaya, kini berubah menjadi gadis dengan paras cantik, tubuh yang bersih terawat, serta penampilan menawan yang seksi. Sekilas Widuri merasa iri melihat hal it
"Bu, Wid mau ke rumah Wak Ijah!" Ucap Widuri di pagi hari saat sang ibu sedang memasak di dapur. "Ngapain pagi-pagi mau kesana?" Tanya Juriah sambil fokus pada kuali kecil yang berisi dua ekor ikan mujair, pemberian tetangga sebelah rumah yang baru panen ikan dari tambak kecil di belakang rumahnya
"Pokoknya aku nggak mau tau, satu minggu lagi aku datang kesini, uangnya harus ada, kalo kau masih belum juga menyiapkan uang itu, maka kau dan anakmu harus angkat kaki dari rumah ini!" suara seorang pria paruh baya terdengar menggelegar memenuhi seisi ruangan yang sempit. "Ta-pi juragan, itu, itu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.