ログイン"Mbok, ada tamu" ujar Tami. "Tamu?!" Deg!, jantung Juriah seketika langsung berdetak kencang. Saat mendengar kata "tamu" yang ada di pikirannya hanya ada satu orang, juragan Sarmo. Ini sudah genap satu Minggu, hari yang ditentukan sudah tiba, batas waktu pelunasan hutang sudah mencapai akhir. Juriah belum kunjung jua memiliki uang yang diperlukan, Widuri sebagai satu-satunya harapan Juriah, kini justru hilang tak ada kabar, Juriah sudah berusaha untuk mencari informasi tentang keberadaan sang puteri, ia bertanya pada keluarga Minah, tapi hasilnya nihil, keluarga Minah berdalih bahwa Widuri baik-baik saja, ia saat ini sedang bekerja, dan peraturan dari tempat Widuri bekerja yang tak memperbolehkan para pegawai untuk menggunakan telepon kecuali untuk hal darurat. Juriah yang awam percaya saja dengan ucapan keluarga Minah, meski akhirnya hari kecilnya mulai diserang rasa gelisah dan takut yang luar biasa. Naluri sebagai seorang ibu mulai memberontak, ia mulai merasa ragu dengan cerita
Zeka berjalan perlahan, sangat perlahan, seperti kucing yang hendak menangkap tikus, ia berjalan dengan senyap, mendekati Widuri yang justru terlihat gusar. "Apa katamu? aku tak mendengar dengan jelas, bisa kau ulangi?" tanya Zeka lirih, tapi setiap kata yang ia ucapkan terdengar begitu menyengat di telinga Widuri. "Em, ma-af tu-an.." jawab Widuri gugup bercampur takut, ia memang telah melampaui batas, seharusnya ia tak mengatakan hal itu, Zeka sudah membantu ia terlepas dari monster itu, dan kini ia juga memberi Widuri pekerjaan meski itu bukan pekerjaan yang Widuri inginkan, sebab Widuri tetap tak bisa membayar hutang pada juragan Sarmo meski ia sudah memiliki pekerjaan. "Ayo katakan sekali lagi!" desak Zeka. Widuri tertunduk takut, tapi sekali lagi, bayang-bayang sang ibu di kampung terlalu kuat untuk ia enyahkan dari pikirannya, rasa bersalah yang luar biasa kini menaksa ia untuk mengesampingkan rasa malu ataupun takut, apapun dan bagaimanapun reaksi Zeka Widuri harus teta
"Aku gak perduli bagaimana caramu untuk mendapatkan uang, yang jelas, aku mau kau bayar hutang itu!" ancam Zeka dengan raut wajah serius, Widuri bergidik, ngeri. Ia sungguh merasa frustasi, hutang pada juragan Sarmo tinggal menghitung waktu yang sudah hampir habis, kini ia juga harus dibebani dengan hutang pada Zeka yang jumlahnya berkali lipat dari hutang pada juragan Sarmo. Widuri diam, ia terus mencoba untuk berfikir, mencari solusi untuk masalah yang sangat berat ini. Keadaan menjadi hening, Widuri masih berdiri membatu dengan pikiran yang rumit, sedang Zeka tampak santai, ia menyandarkan rdi dinding bercat putih bersih dengan kedua tangan di silangkan di dadanya yang bidang, dua bola mata yang tajam dengan diam-diam terus mengamati sosok lusuh yang tertunduk lesu dihadapannya. "Em, begini saja, bagaimana jika kali ini aku bantu kau lagi?" ujar Zeka, suaranya yang jernih dan tegas itu memecah kesunyian yang sedang menguasai keadaan yang tak bersahabat dengan Widuri. Widu
Setelah melalui perjalanan beberapa waktu, akhirnya Zeka dan Widuri sampai juga di rumah Zeka, bukan rumah, tempat itu lebih tepat disebut sebagai istana. Setiap jengkal dari tempat itu tak ada satupun yang tak ibdah dan estetik, semua dirancang dengan sedetil mungkin hingga sejauh mata memandang, yang terlihat hanyalah sebuah mahakarya manusia bernama rumah. Widuri tak henti berdecak kagum saat motor yang dikendarai Zeka mulai memasuki halaman rumah yang asri itu. Tadi saat ia pergi bersama Stela, ia tak bisa leluasa melihat keadaan sekitar sebab ia langsung menaiki mobil saat keluar dari tempat itu. Namun kini semua keindahan itu dapat sepenuhnya ia nikmati. "Selamat pagi tuan!" dua orang pria berseragam menghampiri Zeka yang sudah menghentikan motornya tepat di depan sebuah gazebo yang merupakan markas keamanan. "Turun!" perintah Zeka pada Widuri yang membuat lamunan Widuri buyar seketika. Dengan gugup Widuri segera turun, namun kedua matanya tetap tak lekang dari pemandangan
"Tuan, saya nggak enak sama nyonya Stela" ujar Widuri saat mereka melangkah keluar dari rumah Stela. "Apaan lu! kau gak enak sama Stela tapi kau gak pikirin perasaan aku?!" celetuk Zeka kesal sambil terus memegang erat lengan Widuri. "Bu-kan begitu tuan.." "Kau jangan lupa ya, aku yang udah buat kau terbebas dari monster sialan itu!" tukas Zeka. Kartu as! Widuri terdiam, tak bisa lagi menyangkal, dan memang seharusnya ia tak pantas untuk melakukan itu. Zeka benar, jika bukan karena kebaikan dari dirinya, entah bagaimana sekarang nasib Widuri. Tak ada pilihan selain patuh pada kehendak Zeka, toh bagi Widuri sebenarnya sama saja dengan siapa dia bekerja, yang penting ia sudah dapat pekerjaan dan peluang untuk bisa mendapatkan uang kini mulai terbuka. "Ayo cepat naik!" perintah Zeka saat ia sudah duduk di atas motor. Widuri merasa canggung, ia hanya menatapi motif sport itu sambil garuk-garuk kepala. "Ayo naik! jangan buang-buang waktu ku, aku bukan pengangguran yang gak a
"Hei! mana gadis tadi?!" tanya Zeka dengan nada suara tinggi, tatapan yang tajam dan raut wajah yang dingin. "Maaf tuan, dia bersama nyonya besar" jawab seorang wanita paruh baya yang sedang merapikan meja makan. "Kemana mereka?" "Saya tidak tau tuan, tapi tadi setelah sarapan nyonya turun ke lantai bawah" ucap si wanita dengan kepala tertunduk tak berani untuk menatap Zeka. "Pufff!" Zeka membuang nafas, terlihat kecewa dia dan membuat si wanita menjadi serba meski sebenarnya itu tak ada kolerasinya dengan dirinya. Dengan terburu-buru Zeka bergegas turun ke lantai bawah. "Kakkkk!!!???!!!!" teriak Zeka dengan suara lantang yang menggema di ruangan luas yang merupakan ruang tamu itu, dua orang pegawai yang sedang bersih-bersih seketika menghentikan pekerjaannya dan berdiri dengan sikap tegap. "Hei! apa kalian melihat nyonya?!" tanya Zeka pada dua orang itu. "Ta-di nyonya besar keluar" jawab salah satu dari mereka dengan suara yang hati-hati takut salah. "Apa dia bersam
Mata bos Reno liar menapaki setiap kata yang tertulis di atas beberapa lembar kertas putih. Tangannya mulai basah oleh keringat, Widuri yang berdiri di sampingnya miruk dengan ekor matanya, ia dapat melihat ada ketakutan di wajah pria itu. Ia tak tahu apa gerangan yang membuat bos Reno begitu gusar
"Ingat, jangan bicara apapun!""Jika kau berani melawan, aku tak akan segan untuk menghabisi mu detik ini juga!" ancam bos Reno pada Widuri, Widuri bergidik, ngeri, tak sanggup membayangkan derita apalagi gang sedang menanti dirinya.Ia hanya diam dengan jantung yang terus berdetak kencang, sangat
"Brakkkk!!!" pria itu keluar kamar apartemen Minah sambil membanting pintu sehingga membuat Minah dan juga Widuri kaget bukan main. Widuri masih bersembunyi di balik pintu, ia memperhatikan Minah yang tampak gusar. "Dasar tua bangka sialan! datang-datang main minta duit aja, emang dia kira gampan
"Taruh tas lu disitu!" ujar Minah saat ia membuka pintu apartemen yang merupakan tempat tinggalnya. Widuri mengekor langkah Minah, matanya liar menatap ke segenap penjuru ruangan. Kamar apartemen Minah tak begitu besar, tapi untuk ukuran orang yang tinggal seorang diri itu cukuplah luas. Barang







