Bagi seorang Yudha, hidup selalu tentang probabilitas dan keberuntungan, namun saat ia menatap jejak lumpur yang mulai mengering di lantai mahoni, ia menyadari bahwa taruhan kali ini tidak akan membayarnya dengan uang, melainkan dengan nyawanya sendiri.Keheningan malam di kamar Aruna terasa begitu menyesakkan, seolah oksigen telah dihisap keluar dari ruangan mewah itu. Aruna berdiri mematung di dekat meja rias, jemarinya yang masih gemetar mengusap sarung tangan sutra panjang yang akan digunakan untuk menutupi perban di lengannya besok. Di lehernya, permata Safir itu berkedip dengan irama merah yang konstan, mengirimkan data biometrik yang kini mulai merangkak naik.Pintu kamar terbuka pelan, tanpa dentuman seperti biasanya. Yudha masuk kembali dengan langkah yang limbung, namun bukan karena mabuk. Di tangan kirinya, ia mencengkeram botol alkohol yang isinya tinggal separuh, tapi tangan kanannya terlihat gemetar hebat hingga botol itu sesekali beradu dengan kancing jasnya. Wajahnya ya
Last Updated : 2025-11-11 Read more