“Loh, pulangnya jalan kaki, Sa?” tanya Fika kaget, begitu melihat Yessa jalan terburu-buru dengan peluh yang menetes di pelipisnya. “Iya,” balas Yessa singkat, langsung mencium pipi Yessy dengan gemas. “Mama pulang, Nak. Kamu apa kabar? Udah minum susu?” “Dokter Isa ke mana?” Fika bertanya lagi, sambil melirik ke arah jalan—tak menemukan mobil pria itu lewat. “Dokter Isa masih banyak kerjaan di sana, aku pulang duluan karena gak bisa nunggu lama. Kangen sama Yessy juga, sih.” Fika menaikkan sebelah alisnya sambil tersenyum kecil, “Udah nerima sekarang, anak kamu di kasih nama Yessy? Panggilannya Eci, loh?” Yessa terdiam, menelan ludahnya susah payah. “Ya, gimana ya ... namanya bagus. Mirip sama nama aku, jadi kayak pas banget aja gitu.” Ia tersenyum manis setelahnya. “Kalau gitu aku masuk dulu, ya? Mau mandi, habis itu baru susuin Eci,” ia masih sempat melambaikan tangan pada Fika sebelum masuk ke dalam kamar kosnya. Tak lama kemudian, mobil Isandro muncul dari seberang jalan s
Read more