Air mata Bu Mirasih seketika tumpah membasahi pipinya yang mulai berkerut. Setelah membaca tulisan di kertas itu berulang kali, ia langsung menarik Luna ke dalam pelukannya.Tubuh tua itu bergetar hebat karena rasa haru yang membuncah."Alhamdulillah... Ya Allah, Alhamdulillah..." bisik Bu Mirasih berulang kali, mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih sayang.Tio yang melihat ibunya menangis sempat panik, namun setelah membaca kertas yang terjatuh di kasur, wajah remaja itu seketika berubah cerah dengan mata berkaca-kaca. "Kak Luna... hamil? Tio mau punya keponakan?"Bu Mirasih melepaskan pelukannya, lalu menangkup kedua pipi Luna yang masih basah oleh air mata. Tatapan matanya yang semula dipenuhi kesedihan akibat badai rumah tangga putrinya, kini berganti menjadi binar penuh harap dan syukur."Luna, dengarkan Ibu, Nak," ujar Bu Mirasih dengan suara parau namun terdengar sangat tegar. "Ibu sangat, sangat bahagia. Jangan takut, dan jangan merasa sendirian. Meskipun kamu sudah
Mehr lesen